Ekonomi
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
"Anak muda yang selalu berharap adanya perbaikan hidup bangsa dan negara yang lebih baik dan benar melalui dunia politik dan tulisan-tulisan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang disegani dan negara yang dihormati"
PLN Nyaris Membunuh Ide
Jackson Kumaat
|  12 November 2009  |  14:00
729
30
2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik.
SHUTTERSTOCK

SHUTTERSTOCK

SEPANJANG minggu ini saya benar-benar bete! Entah dari mana istilah ‘bete’ itu, tapi yang jelas, saya dibuat pusing dengan tindakan PT PLN melakukan pemadaman aliran listrik secara bergilir. Bukan alasan PLN memadamkan listrik yang saya keluhkan, tapi ‘aksi-giliran’ itu yang tak dapat diterima akal sehat.

Jadwal pemadaman bergilir ini dilakukan, menurut Direktur Utama PT PLN Fahmi Mochtar, akibat adanya gangguan teknis pada Interbus Trafo (IBT) I Gardu Induk Kembangan tanggal 27 September 2009 dan ganguan pada IBT II Gardu Induk Cawang tanggal 29 September 2009, yang berdampak pada berkurangnya pasokan listrik ke wilayah kerja PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang.

Awalnya, saya merasa kurang pantas menulis keluhan saya sebagai pelanggan PLN di kompasiana ini. Apalagi, sebenarnya banyak ruang surat pembaca yang tentunya tepat, sebagai saluran uneg-uneg layanan publik, seperti misalnya kompas.com. Dalam konteks ini, saya ingin berbagi pengalaman yang kurang mengenakkan–bahkan bisa dibilang menjengkelkan–ketika aliran listrik di rumah padam.

Pertama, kebutuhan energi listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Kenapa bukan sandang? Ya, karena listrik sudah digunakan untuk sumber energi pompa air, memasak nasi (rice cooker), dan penerangan cahaya di waktu malam. Nah, apa yang terjadi jika listrik padam ketika sedang mandi, memasak nasi dan anak-anak belajar di malam hari? Saya, istri dan anak-anak saya hanya bisa menggerutu.

Kedua, kebutuhan listrik sudah menjadi trend hidup di zaman saat ini. Trend tersebut adalah penggunaan energi listrik di saat-saat tertentu. Saya setiap sore menjelang malam, sudah terbiasa menonton berita TV, untuk mengetahui info-info terbaru sepanjang hari. Contoh sederhananya, saya sudah terbiasa men-charge ponsel di waktu malam. Beruntung, mobil saya masih bisa men-charge handphone. Tapi lagi-lagi muncul keluhan pribadi, acara charge handphone harus antri, karena seisi rumah sudah memiliki ponsel.

Ketiga, kebutuhan listrik terkait erat dengan sistem sosial masyarakat. Hari Minggu lalu, saya dan keluarga berencana mengunjungi sanak-famili yang menggelar arisan. Alamak, acara arisan pun dibatalkan, lantaran aliran listrik di rumah bersangkutan terkena pemadaman bergilir. Entah apa alasan mereka. Tapi bisa jadi, lantaran kondisi interior rumah yang membutuhkan aliran listrik, untuk sebuah acara keluarga.

Meski ketiga hal tersebut bagi sebagian kalangan terlihat sepele, tapi ukuran nilai keluhan setiap pelanggan tentu berbeda-beda. Pamadaman aliran listrik secara bergilir bagi dunia industri, menurut saya, sangat terkena dampaknya. Ini karena banyak sektor industri yang sudah sangat tergantung dengan aliran listrik PLN.

Akibat pemadaman, proses produksi terganggu, tenaga kerja harus lembur, dan mesin elektronik rentan rusak. Saya sepakat, apabila PLN tidak sanggup mengelola listrik, pemerintah semestinya mempertimbangkan kembali melepaskan hak monopoli pengadaan listrik oleh PLN. Adakah yang mendukung ide saya ini? Atau, cukup sebatas class action?

Saya tak dapat membayangkan bagaimana kondisi di lapangan. Malah yang saya baca, kalangan pengusaha kesal bukan saja karena listrik yang sering padam, tetapi PLN juga sering ingkar jadwal pemadaman yang ada. Bahkan, selain Jakarta dan sekitarnya, kerugian akibat pemadaman juga terasa, antara lain, di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sejumlah industri pertekstilan misalnya, menuduh PLN sering ingkar dalam menerapkan jadwal pemadaman. Di sektor lain, pusat perbelanjaan Carrefour juga harus menghitung kembali biaya untuk mengalihkan penggunaan listrik ke genset yang menggunakan solar. Bukan hanya biaya, masalah lain juga muncul bagi peritel yang memiliki gedung sendiri apabila genset harus berubah fungsi menjadi pemasok listrik utama.

Di tanah kelahiran saya Sulawesi Utara, ternyata pemadaman listrik secara bergilir, sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Volume pasokan listrik untuk sektor industri perikanan tidak mencukupi sehingga aktivitas produksi tidak maksimal. Kegiatan produksi ikan di Bitung, merosot hingga 50 persen. Pemadaman yang tidak kompromi itu membuat volume produksi menurun. Dampaknya dalam dua bulan terakhir ini sudah 50 pekerja yang harus dirumahkan.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membeli genset. Saya khawatir, pemadaman listrik akan anak-anak, yang saat ini sedang menanti ujian sekolah. Setidaknya, saya dan Anda yang tinggal di Jakarta, atau beraktivitas di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan, masih harus bersabar. Di wilayah ini masih akan mengalami pemadaman listrik bergilir hingga minggu ketiga Desember 2009. Semoga, ide saya menulis di kompasiana tak akan terbunuh oleh padamnya listrik.
[Jackson Kumaat, pertama kalinya mengetik dengan ponsel Nokia E71, karena listrik padam]


Tags: PLN, pemadaman, bergilir, monopoli, class action, listrik

Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
12 November 2009 14:20
0

Bang Jackson,
Menurut UU No. 30 tahun 2009 Pasal 4 ayat (2) Badan usaha swasta, koperasi, dan swadaya
masyarakat dapat berpartisipasi dalam usaha penyediaan tenaga listrik.
Jadi pengusahaan ketenagalistrikan bukan monopoli PLN belaka.
Soal adanya gangguan di Trafo IBT, memang menurut analisa dari BPPT dikarenakan pembebanan yang terus menerus diatas 90% menyebabkan trafo meledak, PLN membutuhkan beberapa trafo cadangan untuk mengantisipasi hal ini terjadi di beberapa GI 500 KV yang lain seperti Gandul dan Kembangan, nilai sebuah trafo bisa milyaran rupiah, setahu saya karena masalah ini PLN mengalihkan anggarannya yang katanya terbatas untuk mengantisipasi hal ini.

Salam,
Soal pemadaman bergilir menurut saya muaranya satu, kita terlambat membangun pembangkit, sehingga pertumbuhan konsumen melampaui pertumbuhan Daya pembangkit, makanya seandainya dari dulu pemerintah sadar untuk mendukung all out pembangunan pembangkit 10.000 MW masalah ini bisa teratasi dalam waktu tak terlalu lama.

12 November 2009 | 14:51
0

andaikan duit-duit milyaran yang dikorupsi ato yang bawa kabur ke LN buat bli trafo…hehehehe

12 November 2009 | 15:42
0

Mas’Amir,
Sy kira, memang benar pemerintah kita kurang tanggap thd krisis listrik, padahal itu sdh diwanti-wanti sama kalangan akademisi. Ternyata, sebuah travo PLN sangat berarti bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Apalagi banyak yg sangat bergantung hidup atas kelangsungan aliran listrik PLN.

12 November 2009 | 15:44
0

Mbak Valen, :) jangan ngomongin korupsi PLN dulu ah, soalnya pak Dirut kabarnya dipanggil jadi saksi di KPK. Kalo mau ramein korupsi, entar dulu aja ya, tunggu sampe listrik benar2 menyala. hehehe

ael
12 November 2009 14:21
0

kurang lebih sama dengan saya, sedang mempunyai ‘hasrat’ menulis yang tinggi, eh, mati lampu (selain koneksi lambat tentunya)

bener-bener harus belajar menarik nafas yang panjang :)
salam kenal

12 November 2009 | 15:46
0

Sy pikir, tadinya cuma sy yg ngeluh kehabisan cara menulis, gara2 listrik padam. Trima kasih sdh mau berteman dg sy, menulis kompasiana pake hape, meski mati lampu.

12 November 2009 14:42
0

Sabar..sabar….sampai kapan ya bisa bersabar..liat negara kita?

12 November 2009 | 15:49
0

Betul,pak’Sube. Kita musti bersabar. Terutama jadi rajin ke warung beli lilin. Repotnya, kalo gak ada lagi minyak tanah buat lampu teplok. Kita sabar ya pak, sampe akhir tahun ini, kita pesta kembang api di monas dan ancol.

12 November 2009 14:52
0

di tempat kuliah saya dulu ada tulisan: Tanpa Air kehidupan berakhir….nah sekarang mungkin perlu ditambahkan Tanpa Listrik kita kembali ke jaman batu. Listrik sudah menjadi kebutuhan primer bagi semua orang, terkecuali orangutan..
Trafo PLN dibebani 90% dan meleduk??tidak aneh sodara sodara semua…
di tempat saya nyangkul, daya kontrak dari konsumen industri untuk 1 trafo totalnya lebih dari 80MVA, dan berdasarkan data GI, beban pernah mencapai 50 MVA…dan si trafo sendiri kapasitasnya cuma 60MVA….bagaimana kalo semua industri itu running pada full contract??tu trafo pasti mleduk, kalo trafo mleduk trus buat gantinya nunggu berbulan-bulan, perusahaan total blackout, karyawan nganggur, PHK dah…amppuuuuuun DJ…..
ayo dong PLN…plis deh…masa gak ada solusi selain minta pelanggan hemat???hiks hiks….pak JK….saya kangeeennnn

12 November 2009 | 15:52
0

Wah, komen yg ini sehati dg sy pak.
Pak Yacb kangen sama pak JK? hehehe.. sy juga JK,pak. Benar, sy kangen juga dengan pak Jusuf Kalla, terutama ulasan beliau di kompasiana.

12 November 2009 14:54
0

kalau bayar terlambat di cabut atau putus oleh PLN tapi kalau seperti ini mereka apa nya sama kita ….. nasib jadi orang Indonesia

12 November 2009 | 15:53
0

Mari, jangan meratapi nasib mas’Kusuma.
Ayo, kita kritisi kinerja PLN spy lebih baik.

12 November 2009 15:08
0

PLN sering melakukan pemadaman bergilir, kalo konsumen juga bisa dunk harusnya pembayaran bergilir?karena selalu menjadi pihak yang dirugikan. apalagi PLN akan menaikan TDL di tahun depan sementara layanannya teruuuuus byar pet aliat mati lampu bergilir tanpa pemberitahuan.

12 November 2009 | 15:57
0

Mbak Arlina bisa aja.
Iya sih, kalo idealnya kita bisa dong bayar listrik bergilir. Tapi,krn itu gak ada aturan di surat tagihan setiap pelanggan, maka berarti kita musti patuh bayar sebelum tanggal 20.

12 November 2009 15:15
0

he he he di luar Jawa listrik mati udah sering bahkan sudah ada sejak tahun lalu, heran tidak jadi berita nasional padahal Jakarta baru beberapa hari saja sudah jadi berita nasional, apakah Indonesia hanya Jakarta saja ??????

12 November 2009 | 15:52
0

Betul Banget Mas Masjanto… di pekanbaru/riau, mati listrik sudah jadi menu utama, pagi siang malam. kadang durasinya 12 jam perhari, belum jadi headline berita tuh…. giliran jakarta aja…
SELAMAT MENIKMATI DUNIA BARU…. warga jakarta… rasakan yang dirasakan orang kampung….

12 November 2009 | 16:01
0

:) ampun, masjanto & mas’emha. Jakarta jangan padam permanen dong. Kalo ibukota pindah, sy dan keluarga juga pindan deh. hehe

12 November 2009 15:21
0

sepakat, nyaris membunuh ide…. nyaris, tapi beruntunglah karena kita masih bisa menulis… :)

12 November 2009 | 16:08
0

Amin.
Setiap kali menulis itu memang biasa menghadapi kendala teknis. Tp banyak cara mengatasinya,utk saat ini.

12 November 2009 16:00
0

mohon di klik tulisan saya tentang byar pet ini, sebuah tulisan serius tentang kecerobohan kita yang terus nyalahin PLN, tanpa sadar salahnya kita sendiri. swasta gak ada yang mau mas, karena harga jual listriknya kemurahan. belajar anak2 ganti donk jadi siang. ide nulis? zaman bung karno dulu gak ada listrik n msh pake mesin tik, koq bisa? apa jari jari bung itu dari besi ya. dan … silakan di klik aja lah. trims

12 November 2009 | 16:07
0

wah kalau listrik naik saya bayar pakai apa Pak. pasti di bilang harga listrik kita murah kata siapa harga listrik kita sama kok seperti Australia masalahnya disana dibilang harga listrik murah karena pendapatan mereka besar di Indonesia Jakarta saja UMR cuma 1.2 bayar listrik bisa 250ribu belum kebutuhan yg lainnya gimana kita mau hidup seharusnya PLN melakukan efesiensi di segala bidang ( pemadaman juga termasuk nih heee ) terus jgn banyak korupsi. semua proyek di korupsi termasuk bangun Pembangkit listrik Pak

13 November 2009 | 08:44
0

listrik murah gak percaya? pake aja genset biar tau harga yang sebenarnya. saya kira jalan satu satunya adalah menaikkan harga, terutama utk yang kaya (secara progresip proporsional tentunya) supaya orang hemat listrik. mohn di klik ditulisan saya tentang byar pet ini. di profile ku aja. trims salam kenal

12 November 2009 17:50
0

Ya gini nih kalo Monopoli. Kita bayar telat langsung dihukum. Mau minta keringanan pembayaran musti bikin surat permohonan, bolak-balik dateng ke kantornya, debat sana-sini. Kita gak pernah ngutak ngatik listrik dibilang nyolong listrik…(padahal yang masang dulunya ya mereka2 juga kan? Yang tiap kali ngecek juga mereka kan? Kalo razia juga cuma mereka kan yang dateng tanpa didampingi pihak ketiga kan?). Giliran dia gak perform, kita yang disuruh lihat pengumuman di website. Lah, gimana mau lihat di website kalo listriknya matii..!!! Bukannya bikin pengumuman gede2 di koran. Tulis besar2 wilayah mana saja yang hari berikutnya akan mati dan berapa lama. Jangan pelit cuma mau nulis di website trus nulisnya juga gak beraturan gitu bikin mata sepet..
Alasan kerusakan teknis, ya cuma masalah gak perhatian dan gak fokus dengan kerjaannya saja itu sih. Ada perawatan berkala kan? ada pengecekan berkala kan? Ada audit juga kan?
Trus sekarang mau minta di naikin TDL… Tahu gak sih mereka kalau mau Monopoli dibalik Undang-Undang yang katanya demi sebesar2nya kesejahteraan rakyat, ya jangan minta ‘pelanggan’ yang nanggung itu semua dong. Minta sana ke anggaran negara. Dan jangan sebut kita pelanggan kalo kita gak punya pilihan lain selain PLN !!
Memang benar tuh PLN = Perusahaan Lilin Negara…atau Padamkan Listrik Negara..?? hehehe…
Salam…

13 November 2009 | 00:56
0

pak’Ari, memang tampaknya hampir seluruh perusahaan publik kepingin menang sendiri, sehingga hak-hak konsumen dinomor-duakan. Kondisi ini mirip sekali dengan konteks rumah sakit dan pasien, yakni pasien sulit mendapatkan haknya jika terjadi malpraktek. Nah.jika pemerintah sudah menempatkan posisi PLN dan perusahaan publik lainnya sbg abdi masyarakat, maka hak-hak konsumen tak bisa dilanggar. Kalo pun ada pelanggaran, maka sanksinya jelas dan tegas. Makasih responnya.

13 November 2009 | 10:37
0

Iya terasa sekali ya pak Jackson, ‘hawa’ arogansi nya itu… At least kalo ada kompetitornya mereka pasti berpikir dua kali untuk mengecewakan konsumennya, iya kan? Pertanyaannya pak Jackson, apakah dalam menghadapi penyedia layanan yang cuma satu-satunya ini konsumen memiliki bargaining power yang cukup? Saya tidak bisa membayangkan apabila tekanan konsumen dalam memperjuangkan haknya dibalas dengan mogok kerja dari pihak penyedia layanan. Sementara kita tidak punya alternatif lainnya.
Tapi saya dengar program pemadaman listrik bergilir sudah selesai ya? Sebagai gantinya kini PLN membuat program baru yaitu Penyalaan Listrik Bergilir… hehehe…
Salam..

12 November 2009 20:53
0

jangankan manusia. Kelinci sepertiku juga butuh listrik. Habis takut kalau gelap. Minimal setiap hari aku butuh 16 jam penerangan. kalau siang sih aman-aman aja tanpa listrik, malam aku butuh listrik penuh biar enggak stress….:)

13 November 2009 | 00:58
0

Hehehe… pak/bu kelinci bisa aja. Ayam jago peliharaan di rumah sy juga demikian. Pernah suatu ketika mati lampu, dan tiba-tiba menyala saat subuh. Akibatnya, ayam itu berkokok, mungkin dikira hari sudah pagi, padahal baru jam 12 malam.

13 November 2009 03:45
0

hehehe….. untung Bung Jackson tinggal di Jakarta….
di Kota saya Teluk Kuantan - Riau….. Listrik nya sdh lebih
satu tahun bergiliran ha..3x

13 November 2009 13:12
0

TIPS Listrik Mati Ide Tetap Hidup :
1. lengkapi set komputer dengan UPS kapasitas 1200va (kira2 harganya 700rb), itu tahan hingga 3 jam pemakaian, khususnya yang menggunakan monitor LCD bukan CRT. jika menggunakan Laptop 14″ bisa sampai 5 jam, disarankan menggunakan laptop intel atom yang hemat konsumsi listrik tahan hingga 7 jam + power dari ups +/- 5jam.
2. buat instalasi sederhana terdiri dari kepala cok, kabel, piting lampu + lampu hemat energi 5 watt, bagusnya yang merek philips, lebih terang. terus sambungkan ke UPS. ini bisa menjadi lampu emergensi yang tahan lama dan lebih terang.
3. sambil berdo’a presiden sby, wapres budiono, menteri esdm, menteri bumn, dirut pln, punya kepedulian dan peka terhadap permasalahan listrik. juga mendesak mereka2 menghilangkan kata2 “akan”, “merencanakan”, “survei”, dalam mengambil tindakan…. do more… do more….

17 November 2009 | 15:47
0

Tips bagus Pak Emha. Dan yg nomor-3 paling top. hehehe

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2009