Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Ginanjar Yulianto

mahasiswa teknik mesin Universitas Negeri Yogyakarta

Teknik Petani Sederhana Berkebun Karet

OPINI | 05 March 2011 | 22:40 Dibaca: 9253   Komentar: 0   1

Berbisnis karet sangat memberi kemakmuran bagi masyarakat yang menggeluti bidang tersebut, mulai dari petani atau pekerja, pengepul, hingga agen-agen besar sampai ke pengolah atau pabrik. Begitu pula penggunaannya sesudah menjadi produk, karet diperlukan dalam teknologi, rumah tangga, sampai pada mainan anak-anak.

Selain menguntungkan, cara berkebun karet tidak sulit namun membutuhkan biaya yang cukup besar karna butuh lahan yang luas supaya mempunyai penghasilan yang besar. Berikut ini cara-cara bertani karet dari hasil sebuah pengalaman mulai dari penanaman, perawatan, hingga pemanenan atau menyadap karet.

Pohon karet ini bisa tumbuh didataran rendah hingga 200 m diatas permukaan laut. Dalam penanaman bibit karet berikan jarak antara baris dan kolom, jarak yang efisien yaitu 4×5, 4m dalam baris dan 5m jarak pada kolom. Karena jika terlalu rapat akan mempengaruhi laju tumbuh karet tersebut. Jika terlalu renggang atau terlalu jauh jarak penanaman tersebut bibit karet akan cepat tumbuh namun kurang efisien lahan bagi petani sederhana. Selanjutnya saat penanaman ada juga teknik menanam bibit karet yaitu pada mata tunas bibit karet tersebut dihadapkan ke arah barat. Hal ini ditujukan supaya bibit karet tumbuh tegak karena dari barat berlawanan ke timur mengikuti sinar matahari, dan hasil sesudah tumbuh pun akan rapi hal ini juga dapat menyenangkan hati petani dan semakin semangat merawat serta memupuknya.

Dari kebanyakan para petani-petani sederhana yang dapat dilakukan saat penanaman tidak memberi bahan-bahan kimia lain karna faktor biaya, meski banyak cara-cara teknologi pertanian contoh menggunakan pasta Rootone saat penanaman dan sebagainya. Dalam penanaman ini juga dapat diterapkan sistim tumpang sari. Jadi para petani disela-sela bibit pohon karet ini ditanami berbagai umbi-umbian, singkong, sampai padi. Manfaatnyapun sekaligus dapat dilakukan penyiangan yang komplek baik pada tanaman dan pohon karet tersebut. Namun ada batas kurun waktu 2-3 tahun tanaman-tanaman bisa tumbuh dalam sela-sela pohon karet tersebut.

Pemupukan sangatlah penting untuk merangsang laju pertumbuhan pohon karet, serta penyulaman mengganti bibit-bibit yang mati. Perawatan yang rutin selama 2 minggu sekali yaitu mematikan tunas-tunas palsu agar tidak bercabang-cabang. Hingga berumur 8-10 bulan yang sudah tumbuh mencapai 4-6 meter, ujung pohon karet itu di pangkas dan dicek secara rutin 2 minggu sekali agar tumbuh 2-4 mata tunas untuk calon dahan. Dahan yang ideal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi batang pohon yang roboh terkena angin akibat terlalu lebat, dan juga agar batang cepat besar.

Setelah berumur 5-6 tahun pohon karet siap dipanen atau disadap. Penyadapan pada batang pohon yaitu ½ keliling lingkar pohon karet tersebut, dilakukan pada pagi hari, waktu yang pas yaitu jam 04.00-08.00 karena belum ada angin dan panas terik matahari yang memampatkan pori-pori dari irisan sadapan tersebut. Kendala yang umum bagi para petani yaitu hujan, karena dapat merusak kulit pohon karet, getah tidak mengalir dan tertampung dalam mangkuk, dan jika menunggu kering pasti penyadapan dilakukan siang hari dan hal ini mengurangi hasil sadapan saat hari itu juga.

Petani biasa menjual dalam bentuk cetakan yang sudah didiam kan dalam mangkuk berhari-hari yang dipungut sekiranya sudah banyak atau biasa disebut Ce’El, namun ironisnya hal itu juga menjadi kendala “khusus” pada aksi pencurian. Ada juga menjual dalam bentuk getah, dan ada pula yang menjual harian yaitu getah yang cair dalam mangkuk diberi pengental atau biasa disebuttawas dan langsung dipungut.

Harga karet berubah-ubah dari daerah satu dengan daerah lain bahkan harga dari pengepul atau pembeli yang satu dengan yang lain itupun relatif tidak sama tergantung penilaian kualitas pembeli atau pengepul tersebut. Kualitas yang bagus itu bersih dari tatal atau sisa pengirisan dan sudah berhari-hari dalam mangkuk biasanya per kilo mencapai Rp.12.000/kg jika harga karet normal. Kendala yang lain yaitu pada saat musim pergantian daun saat daun mulai kering dan rontok, masih bisa disadap, namun saat semi tumbuh daun muda tidak setetespun getah yang bisa diambil. Pada saat ini cocok untuk pemupukan dan perawatan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 9 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 10 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: