Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Agus Widi

ingin banyak menulis dan berbagi informasi kepada siapapun. Karena dengan itu, kita bisa memberikan dan selengkapnya

Profesi Petani Tak “Berwibawa” Lagi

OPINI | 10 March 2011 | 13:04 Dibaca: 298   Komentar: 2   2

1299762381709800825Siapa yang tidak membutuhkan sandang ,pangan dan papan saat ini? Semua berlomba-lomba mencari kebutuhan tersebut. Sarapan di pagi hari dengan tersedianya beragam hidangan, pakaian yang dikenakan untuk melakukan beraktivitas serta tempat tinggal yang bukan hanya sekadar untuk “tempat tidur”,namun lebih dari itu.

Namun pernahkan semua sejenak berfikir, siapa yang paling sangat berperan penting sehingg bisa menikmati kebutuhan hidup senyaman itu? Kemungkinan ada sedikit yang memikirkannya. Namun parahnya, jika seseorang yang tak mau menau mengenai hal tersebut. Yang terpenting ia bekerja, bisa mencukupi kebutuhan. Titik. Tak lebih dari itu lagi. Padahal dibalik semua itu, Petani-lah yang harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan para anggota masyarakat lainnya, yang berprofesi di bidang pemerintahan, industri, pengajar,wirausaha, pariwisata dan pengusaha.

Dalam satu kalimat sederhana, dunia global telah memandang bahwa pertanian saat ini dan masa mendatang merupakan bidang terpenting dalam menyelesaikan permasalahan umat manusia. Termasuk kebutuhan yang semakin membludak. Akankah agenda pertanian itu dapat terwujud? Bagaimana peluang pertanian di Indonesia menghadapi tuntutan global itu?

Ironis. Jumlah manusia yang terus menerus bertambah, ternyata justru diikuti dengan makin menyempitnya lahan pertanian dan menurunnya jumlah orang yang berminat terjun menjadi petani. Kita paham, milyaran manusia di planet ini memerlukan makan sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Makanan sendiri merupakan hasil dari kegiatan pertanian dalam arti luas.Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani.

Profesi Petani

Menjadi seorang petani apalagi bisa menekuninya sebagai profesi di era saat ini, tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi masyarakat yang cenderung hidup pragmatis dan hedonis. Tentu piki-pikir dulu, untuk menjadi seorang petani. Meskipun saat ini, kemungkinan ada yang memiliki lahan cukup luas untuk berkebun, di pastikan lahan tersebut, kalau bukan dijual atau di sewakan kepada pihak lain. Tentunya ke-engganan untuk menekuni sebagai seorang petani. Meskipun ada yang menggarapnya, itupun bisa dihitung jari. Kemungkinan karena terpaksa ataukan sebuah pilihan hidupnya.

Sejarah petani di Indonesia begitu panjang perjalannya. Sebagai seorang yang dianggap perkumpulan yang telah lebih dari tiga abad sejak kolonialisme menjadi warga kelas bawah. Menjadi budak dan buruh di tanah sendiri. Mungkin itulah yang menjadi cerminan, mengapa porsi tawar profesi petani kurang menggiurkan. Belum lagi ambisi masyarakat kita yang semakin praktis. Sedikit kerja, namun menanti hasil yang banyak. Faktor gengsi pun, sebagai pemicu untuk tidak menekuni profesi petani sebagai warisan ulung di negeri agrasis.

Itu terbukti dari bukan hanya masyarakat kota, desa pun tak ketinggalan dengan hal tersebut diatas. Para orang tua sibuk banting tulang, sebagai petani. Meyekolahkan anak mereka setinggingi-tingginya , dengan harapan kelak nantinya bisa hidup layak,dan secara tidak langsung menginginkan anaknya sukses dengan menekuni pekerjaan selain menjadi petanai.

Menghormati Karya Petani

kita saksikan saat ini, petani seakan menjadi garis pembatas dengan Si kaya dan Si miskin. Profesi petani seakan tak terjamah sampai ke kota, yang hidup dengan gaya modernisasi. Namun, tak terpisahkan dari kebutahnnya yan berasal dari petani. Pendidikan yang digeluti pun tak mencerminkan negeri ini yang terkenal dengan masyarakatnya yang agraris. Pendidikan yang berbasis dan lebih menjurus pada teknologi dan menjanjikan. Meskipun ada yang menjurus ke pertanian, itu pun langka peminat.

Apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk menyimak hal tersebut. Apalagi mereka yang bergelut dipekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan keringat namun dengan penghasilaan berkali lipat dibandingkan petani yang harus mengeluarkan energi ekstra. Harusklan kita juga menjadi petani tulen untuk menyikapi ini semua?

Pernahakan kita semua menghabiskan nasi tanpa menyisakan sebutir pun diatas piring, pernahkan kita berusaha mengkonsumsi buah-buahan lokal ditengah gempuran buah impor yang harganya bersaing dengan buah local. Pernahkan ibu rumah tangga belanja di pasar tradisional, yang merupakan pasar petani disamping menjamaurnya swalayan yang menjajankan kebutuhan pokok dengan beragam fasilitas. Itulah yang bisa kita usahakan, ditengah tak berwibayanga frofesi petani saat ini. Meskipun kita tidak harus turun menjadi petani, setidaknya mendukung dan memberikan sumbangsih kepada petani-petani dinegeri ini. Dengan menghargai kurasan keringat mereka. Hidup petani Indonesia!

***Baca juga artikel menarik saya lainnya hanya di: kotakinformasi.wordpress.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bola Lampu Pijar, 135 Tahun Penemuan yang …

Necholas David | | 22 October 2014 | 08:19

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

FFI, Hajat Insan Film yang Tersandera Tender …

Herman Wijaya | | 22 October 2014 | 14:35

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 9 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 10 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 11 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: