Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Beginilah Hidup Rakyat Pedalaman Kalimantan

HL | 03 October 2011 | 17:42 Dibaca: 3281   Komentar: 49   6

131761960933748525

Perkampungan Desa Data Dian

Saat menangani sebuah pekerjaan di pedalaman Kalimantan. Saya mendapatkan sejuta pengalaman yang luar biasa. Mengenali lebih jauh kehidupan masyarakat pedalaman yang tak lain adalah etnis Suku Dayak.

Mulai dari perjalanan awal hingga mengenal berbagai kekayaan alam yang terkandung didalamnya  sehingga dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat. Kali ini saya akan mengupas tentang bumi yang di tempati masyarakat pedalaman sampai pengolahan lahannya. Dimana awal hanya berupa hutan belantara kini bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Pemaparan yang saya angkat adalah daerah Kabupaten Malinau terutama Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, Dan Kecamatan Kayan Selatan. Dari ketiga kecamatan ini, semua terletak hampir berbatasan dengan Sabah Malaysia. Untuk menuju daerah yang saya sebutkan diatas, kita bisa mulai berangkat dari kota Malinau dengan mengendarai pesawat kecil (Susi Air) dan nanti kita akan turun di Bandara Long Ampung (Kecamatan Kayan Hulu).

Di ketiga Kecamatan diatas untuk pengakuan hak tanah yang dijadikan tempat tinggal dan ladang, penduduk setempat tidak memiliki sertifikat atau berkas kepemilikan tanah yang lain. Secara otomatis, warga disana tidak pernah membayar apa yang dinamakan Pajak (PBB). Untuk status lahan yang ada, disana hanya berupa pengakuan semata dari masing-masing individu. Dan warga mematuhi itu semua karena sudah menjadi kesepakatan bersama yang di setujui dalam hukum adat.

Masyarakat pedalaman rata-rata untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hampir  75 % dari mereka bercocok tanam dengan menggarap ladang atau kebun. Tanaman mereka yang utama adalah padi, ketela pohon, dan ubi. Kemudian ada juga buah-buahan seperti nanas, pisang  dan juga tanaman perkebunan yaitu teh dan karet. Sistim mereka berladang adalah berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat yang lain. Awal mereka mencari dulu tempat yang subur, baru kemudian menebang pepohonan yang ada lalu dibakar baru ditanami ( khusus untuk tanaman padi ). Dengan sekali menanami, penduduk setempat sudah mengakui lahan tersebut  adalah miliknya. Akan tetapi ada juga batas-batas warga untuk mengakui tanah sebagai hak mereka dengan yang lain. Jenis pengelompokan kepemilikan  ladang tersebut berdasar batas desa yang sudah di musyawarahkan dan di setujui oleh masing-masing ketua adat. Biasanya batas desa satu dengan yang lain berupa sungai, gunung batu, atau pohon yang besar. Penduduk hanya diperkenankan berpindah-pindah ladang sesuai luas desa yang sudah ditentukan.

1317619731231278190

Tanaman padi, Desa : Sungai Barang

13176198131355130198

Tanaman Nanas, Desa Long Nawang

1317619901910154980

Kebun Teh, Desa Sungai Barang

Masyarakat  tidak serta merta semua hutan yang ada dikelola total di jadikan ladang mereka. Ada juga lokasi-lokasi  tertentu yang mereka sisakan . Seperti hutan lindung, tanah untuk rencana sarana dan prasarana umum ( berdasar  peraturan perundang-undangan  yang baru di bawa masuk oleh aparatur daerah dan sudah di sosialisasikan kepada masyarakat ).

Selain status kepemilikan lahan, masyarakat pedalaman juga tidak bingung membayar besarnya tagihan listrik

13176202291334632040

Balai Adat Desa Long Nawang

dan air. Karena sudah ada beberapa kebijakan dari pemerintah setempat untuk pengelolaan itu semua. Seperti listrik contohnya, seperti sekarang ini misalnya. Hampir setiap desa yang ada di kecamatan tersebut sudah memiliki listrik sendiri. Listrik tersebut berasal dari aliran sungai yang diolah menjadi PLTA ( Pembangkit Listrik Tenaga Air )dengan sistim kerja PLTMH ( Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro ). Penjelasan lebih lanjut ada di artikel saya sebelumnya. Anda bisa klik disini PLTMH, Solusi Listrik Masyarakat Pedalaman

Untuk air bersih, penduduk setempat memanfaatkan sumber mata air pegunungan yang ada. Menggunakan sistim gravitasi. Air di salurkan dari bukit yang tinggi melalui pipa-pipa pvc hingga sampai ke pemukiman penduduk. Kini masyarakat disana tidak bingung lagi memikirkan sulitnya mendapatkan air bersih dan membayar tagihan setiap bulan.

Dengan begini kita bisa membayangkan, betapa enaknya hidup dipedalaman akan tetapi jauh dari keramaian.

Artikel saya yang lain tentang pedalaman Kalimantan Timur di kompasiana, anda bisa membacanya disini :
Arung Jeram Sungai Kayan Mentarang
Produk Unggulan Dalam Negeri, Padi Adzan Terlezat Dilidah

Susi Air, Transportasi Andalan Masyarakat Pedalaman

Bermandi Lumpur Menikmati Perjalanan Di Kaltim

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | | 22 November 2014 | 23:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


HIGHLIGHT

Mafia Migas Perlu Terapkan Strategi Baru …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Refleksi Kenaikan Harga BBM: Menderita …

Kortal Nadeak | 16 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Gubernur Jateng Tolak Kartu Flazz Kriko …

Syukri Muhammad Syu... | 16 jam lalu

Sedikit Oleh-oleh dari Kompasianival 2014 …

Opa Jappy | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: