Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

M. Anfaul Umam

Korlap LPPI (Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Indonesia) Semarang

“Mendongkrak Daya Jual Buah Sawo dengan Penyuluhan dan Pelatihan”

OPINI | 27 October 2011 | 04:34 Dibaca: 853   Komentar: 0   0

Siapa megenal buah sawo? Pertanyaan ini wajar mengingat sawo diidentifikasi menjadi salah satu di antara beberapa buah yang terpinggirkan dewasa ini. Sawo yang disebut neesbery atau sapodillas adalah tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Tanaman sawo hidup menahun (perennial), batang berkayu keras, bercabang cukup rapat dan mampu tumbuh mencapai ketinggian 20 m lebih serta berdaun lebat.

Siapa sangka, di balik ketidakpopuleran pamor sawo, buah yang lekat dengan wilayah tropis ini mempunyai daging yang rasanya manis dan menyegarkan. Rasa manis buah sawo disebabkan oleh kandungan glukosa dan fruktosa yang amat tinggi, yaitu masing-masing 4,2% dan 3,8%. Selain itu, buah sawo juga kaya akan kandungan gizi yang komposisinya lengkap. Dalam setiap 100 gram buah sawo terdapt tidak kurang dari kalori 92,00 kal, protein 0,50 gr, lemak 0,10 gr, karbohidrat 22,40 gr, kalsium 25,00 gr, fosfor 12,00 gr, zat besi 1,00 mg, vitamin A 60,00 S.I, vitamin B1 0,01 mg, vitamin C 21,00 mg dan air 75,50 mg (Rahmat Rukmana: 1996).

Idealnya, buah sawo potensial terutama dari segi ekonomi. Terlebih sebaran buah sawo bisa dijumpai hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan, di luar negeri tingkat ketergarapan potensi ekonomi sawo sudah cukup tinggi yang terlihat pada eksplorasi di luar buah semata. Di antaranya, getahnya yang dijadikan industri bahan baku permen karet di Thailand dan kategori sebagai tanaman obat untuk mengobati sakit diare, gusi bengkak atau peradangan mulut di Thailand. Tidaklah mengherankan apabila pakar pertanian dunia, Dr. Terry Mabbett memasukkan sawo menjadi salah satu jenis buah masa depan (fruits for the future) di samping jambu air, keluwih dan asam selong (cerme Jepang).

Patut disayangkan, di dalam negeri sawo seperti tidak mampu memenangkan hati sebagian besar masyarakat. Pada daerah-daerah sentra penghasil buah sawo, sawo seolah menjadi “pesakitan di negeri sendiri”. Oleh sebagian besar pemilik lahan sawo, buah sawo lebih banyak dikonsumsi sendiri atau sesekali dilepas pada tengkulak dengan harga seadanya. Salah satunya di desa Sidorejo, kecamatan Sedan, kabupaten Rembang. Banyak keluarga di daerah ini memiliki tanaman sawo baik yang tumbuh di sekitar areal pemukiman maupun yang tersebar di lahan pekebunan.

Dengan rata-rata kepemilikan 5-7 tanaman sawo (beberapa ada yang mencapai hingga tiga puluhan), ditaksir mampu menghasilkan sawo sebanyak ratusan kwintal bahkan menembus bilangan ton pada tiap kali panen raya yang jatuh sepanjang musim panas. Dari hasil tersebut sawo yang dijual pada tengkulak dihargai hanya Rp. 20.000,- untuk setiap seratus buah sawo berukuran kecil dan Rp. 25.000,- untuk setiap seratus buah sawo berukuran besar. Kalau dikonversi kedalam satuan kg, berat setiap seratus buah sawo berkisar antara 10 – 13 kg. Di samping itu, perlu diketahui, oleh petani dan tengkulak berlaku kesepakatan penambahan sebanyak dua puluh satu buah di luar hitungan pada setiap seratus buah. Singkatnya, sawo berdaya jual sangat rendah.

Penyuluhan dan Pelatihan

Mendongkrak daya jual buah sawo merupakan sebuah keharusan. Potensi ekonomi sawo yang besar terlampau mahal untuk dibiarkan sekenanya. Program penyuluhan penanganan pasca panen dan pelatihan teknik pengolahan buah sawo menawarkan solusi kegiatan yang patut digalakkan. Penyuluhan diorientasikan pada perlakuan buah sawo dengan ukuran relatif besar agar mendapatkan penanganan pasca panen secara benar mulai dari cara panen, penyortiran, grading, pembersihan, pengemasan, pelabelan, penimbangan dan penyimpanan. Sedangkan pelatihan teknik pengolahan buah sawo dimaksudkan untuk perlakuan buah dengan ukuran relatif kecil mencakup peningkatan nilai tambah (value added) buah dengan menjadikannya ke dalam beberapa macam produk olahan, semisal dodol sawo, keripik, selai, jus, koktail,sirup dan bahkan anggur.

Perlu upaya bersama antara pemerintah kabupaten dalam hal ini departemen pertanian dengan petani pemilik lahan sawo agar membangun kerjasama yang sinergis menangkap peluang potensi ekonomi sawo di antaranya dengan menyelenggarakan program penyuluhan dan pelatihan teknik pengolahan buah sawo. Tidak hanya itu, sinergi dua pihak ini dapat berlanjut pada tahap pemasaran produk salah satunya dimulainya penjajakan kemitraan dengan pelaku pasar-pasar modern sebagai bentuk perluasan pangsa pasar. Hal ini adalah keniscayaan mengingat kekayaan potensi yang menyertai sawo tidak hanya ekonomi melainkan juga potensi sosial dan pada akhirnya bukan tidak mungkin menjadi icon tersendiri bagi kabupaten Rembang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 14 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 15 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: