Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Setiadi Ranutinoyo

Ikut membangun perpustakaan IKJ-LPKJ (1975 - 1982); menjadi redaktur majalah pertanian Trubus (1982-1990); sebagai redaktur selengkapnya

Peluang dan Potensi Ikan Mas untuk Usaha Rumah Tangga

OPINI | 24 November 2011 | 17:49 Dibaca: 5058   Komentar: 3   1

13221075871853010292

Kata seorang pedagang dan pemasok ikan di Depok, Jawa Barat. Kebutuhan ikan konsumsi air tawar (termasuk ikan mas) bagi para pedagang dan pemasok di kawasan sekitar Sawangan, Parung, Depok (Jawa Barat), dan Ciputat (Tangerang Selatan) cukup besar. Normalnya 15 – 18 ton sehari. Namun jumlah kebutuhan ini sulit terpenuhi.

Nara sumber itu menerima pasokan dari waduk Cirata dan Jatiluhur, kemudian dari Sukabumi dan Bogor. Dalam sehari hanya menerima satu sampai dua ton dari kebutuhan normalnya antara dua sampai tiga ton. Jadi yang terpenuhi baru 50 – 80 persennya saja. Namun pernyataannya yang paling menarik, di antara ikan konsumsi air tawar, “Ikan mas paling favorit,” katanya. Barangkali karena itu, permintaan menjadi tinggi, pemasokannya terbatas, dan akhirnya harganya selalu tinggi.

Itulah penerawangan sekilas situasi perdagangan ikan konsumsi air tawar setidak-tidaknya pada saat nara sumber tersebut ditemui penulis sekitar kuartal satu dan dua tahun 2009. Makanya tak salah bila dikatakan, ikan mas atau Cyprinus carpio Linn., yang memiliki beberapa sebutan yakni kancra, tikeu, tombro, raja, rayo, ameh, karper, atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya, merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air tawar yang bernilai ekonomis penting.

Buktinya, ‘ikan’ yang konon pendatang dari Cina itu, sudah kurang lebih 13 abad atau ‘seribu tiga ratus tahun’ lamanya berada di nusantara ini (DR. Fuad cholik, MSc., dkk., 2005). Mungkin karena bernilai, ikan mas bisa bertahan begitu lama; bisa demikian akrab dengan ‘lidah indonesia’; leluasa masuk dan ke luar pasar becek, pasar swalayan, warung padang, warung sunda, warteg, restoran, serta warung tenda kaki lima, juga kolam pemancingan.

Keleluasaan ikan mas bisa masuk dan ke luar ke mana saja, tak lepas dari peran besar para peternaknya dan tentu saja juga para pelaku bisnis di komoditas ini. Para peternak berhasil dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya; sedangkan para pemain bisnisnya berhasil dalam memasarkannya. Secara prinsip, mereka sukses dalam mengusahakan atau membudidayakan ikan mas, yang meliputi usaha penetasan, pembibitan dan pembesaran, serta pemasaran.

1. Wabah penyakit

Entah kapan persisnya serangan dimulai. Yang ditemukan dalam catatan, Mei 2002, Kabupaten Subang, Jawa Barat, berkabung karena dalam tempo kurang lebih seminggu, 250 ton ikan mas yang dipelihara dalam kolam-kolam air deras, bergelimpangan dan mengambang di atas permukaan kolam. Dilaporkan, penyakit melepuh adalah biang keladinya. Setelah itu, penyakit menyebar ke hampir seluruh daerah pembudidayaan ikan mas dan familinya. Berita selanjutnya, hanya di pulau Jawa, tidak kurang dari 1.500. ton atau ‘satu juta lima ratus kilogram’ ikan mas meregang kehilangan nyawa. Dan, miliaran rupiah menguap ke udara.

13221077151818379347

Kepadatan berpengaruh terhadap kesehatan ikan

Penyakit melepuh muncul akibat serangan virus herves. Virus ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh ikan menghilang dan menimbulkan infeksi primer pada tubuh ikan. Karena sistem kekebalan tubuh hilang, datanglah infeksi sekunder, yaitu penyakit infeksi pada insang dan yang dikenal sebagai infeksi bakteri insang atau Bacterial Gill Disease (BGD). Jenis BGD yang sudah dikenal adalah, Flexibacter columnaris; Flavobacterium sp.atau Edwardsiella sp., dan juga Aeromonas hydrophilla serta Aeromonas caviae.

Gejala awal serangan penyakit itu, nafsu makan ikan menurun; ikan terengah-engah seperti kekurangan oksigen, makanya ikan kerapkali muncul ke permukaan air, atau berenang ke arah sumber air. Bila ikan ini ditangkap, akan tampak tubuhnya seperti memar, melepuh, kehilangan banyak lendir, sehingga kalau diraba terasa kasar atau tidak licin.

Pada tingkatan yang lebih parah, kadang-kadang disertai sisik rontok, ujung sirip ‘gripis’, terjadi pendarahan di permukaan kulit, terutama di bagian perut dan pangkal sirip. Juga akan ditemukan bintik-bintik atau bercak putih (white spot) di sekitar insang, sehingga petani ikan umumnya menyangka ikan diserang penyakit tuberculosa. Seterusnya insang akan rusak dan akhirnya membusuk. Kalau ikan ini dibedah, hati dan pankreasnya rusak, ginjalnya membengkak.

13221078362135577940

Setelah panen kolam dibersihkan

Penyakit di atas konon masuk ke Indonesia bersama-sama masuknya ikan mas koi dari Jepang, Hongkong, dan Taiwan. Sebelumnya diberitakan juga menyerang ikan yang sama di Israel dan Cina. Tapi sebetulnya, di samping adanya faktor ‘kiriman dari luar’, penyakit yang bisa meludaskan ikan budidaya dalam hitungan hari itu, muncul akibat lingkungan hidup ikan yang buruk. Antara lain, pencemaran air yang melebihi ambang batas.

Kalau boleh disimpulkan, akibat serangan penyakit tahun 2002; juga akibat pencemaran lingkungan, membuat produksi dan pemasokan terganggu. Sehingga, penyediaan ikan mas terbatas dan akhirnya harga meningkat.

2. Pasar domistik

Semua jenis ikan (laut dan tawar), baik yang lokal maupun dari daerah, masuk Jakarta, seperti di TPI (Tempat Pelelangan Ikan), pada sore sampai tengah malam. Jadi transaksi jual beli antara pemasok setempat maupun daerah dengan pedagang penampung di TPI terjadi pada malam hari. Pada dini hari sampai menjelang siang hari barulah terjadi transaksi antara pedagang penampung dengan pedagang eceran. TPI ini memang seperti pasar induknya ikan untuk wilayah Jakarta.

Sore itu, sekitar pukul 19.00. pada Maret 2009, penulis bertemu dengan salah seorang pedagang penampung ikan air tawar di TPI Muara Angke, Jakarta. Katanya, “Malam ini kiriman dari Jatiluhur 45 drum mujair dan 10 drum patin. Biasanya, untuk mujair saja, sampai 60 drum”.

Seharusnya ia juga mendapatkan kiriman ikan mas dalam jumlah kurang lebih sama. Namun karena harga ikan mas tinggi, ia merasa kesulitan untuk memasarkannya. “Pedagang tidak sanggup menjual. Sebab yang beli itu juga pedagang dan akan dijual lagi. Kalau harga tawaran ke TPI sudah mahal, pedagang di TPI tidak sanggup menampung, “jelasnya. Harga yang ditawarkan kepada penampung di TPI Rp.18.000. sekilo. Padahal, harga pasaran ikan mas pada waktu itu Rp.15.000. sekilo.

Perlu diketahui, dengan plafon harga Rp.15.000. saja, pedagang penampung atau pemasok di tempat itu akan melepas dengan harga Rp.16.000. kepada pedagang pasar di sekitar Jakarta. Pedagang pasar akan melepas dengan harga sedikitnya Rp.17.000. kepada pedagang pengecer. Pedagang pengecer kemudian melepas dengan harga bervariasi antara Rp.18.000. sampai Rp.20-an ribu kepada konsumen.

13221079341253754179

Ukuran yang dicari pasar

Harga ikan mas memang memang naik turun. Biasanya, setelah melewati ‘musim Barat’, ikan laut mulai ramai, harga ikan air tawar pasti turun. Apalagi kalau ikan air tawar mulai memasuki musim panen. Karena itu, kalau ingin memanfaatkan situasi dan kondisi yang menguntungkan bagi ikan air tawar, terutama yang dimasukan ke TPI-TPI di Jakarta, kirimlah ikan air tawar termasuk ikan mas saat ‘musim Barat’ tiba (sekitar Oktober – April). Sebab, pada saat ini, para nelayan tidak banyak yang melaut. Ikan laut pun kosong di pasaran, sehingga pilihan pedagang dan juga konsumen jatuh kepada ikan air tawar. Bisa juga dikatakan, saat “musim Barat” tiba, adalah saat permintaan ikan air tawar cenderung meningkat.

Pedagang penampung ikan air tawar di TPI Muara Baru membuat catatan agak berbeda. Selama setahun, ada bulan-bulan yang bagus, ada bulan-bulan yang normal, dan ada bulan-bulan yang kurang bagus.

13221081072145693649

Ikan laut kosong, ikan air tawar masuk TPI

· Bulan-bulan bagus

Maksudnya adalah bulan-bulan ikan air tawar di TPI itu harganya tinggi. Untuk ikan mas, harga pasarannya bisa di atas Rp.15.000. sekilo. Biasanya bulan-bulan ini berlangsung ‘dua bulan’ yaitu Januari dan Februari ditambah pada hari-hari besar agama seperti menjelang Puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Pada bulan-bulan ini, karena iklim, produksi ikan air tawar pada titik yang rendah karena tidak banyak ikan yang dipanen. Harga ikan menjadi lebih tinggi.

· Bulan-bulan normal

Maksudnya adalah bulan-bulan ikan air tawar di TPI itu harganya normal. Untuk ikan mas, yang ditawarkan kepada penampung di TPI ini, tertinggi Rp.15.000. sekilo. Bulan-bulan ini berlangsung “empat bulan” yaitu Maret, April, Mei, Juni. Bulan-bulan ini adalah bulan-bulan memasuki musim panen ikan air tawar, paling tidak di daerah yang memasok ke TPI itu seperti Jatiluhur dan Cirata.

· Bulan-bulan kurang bagus

Maksudnya adalah bulan-bulan ikan air tawar di TPI itu harganya menurun. Untuk ikan mas, yang ditawarkan kepada penampung di TPI ini, kurang dari Rp.15.000. sekilo bahkan mendekati Rp.13.000. atau di bawahnya . Bulan-bulan ini berlangsung “enam bulan” yaitu Juli sampai Desember. Biasanya pada bulan-bulan ini banyak peternak ikan yang memanen ikannya. Sehingga, produksi meningkat, penyediaan mencukupi bahkan bisa berlebih, dan akhirnya harga ikan cenderung menurun.

3. Antara pemasokan dan permintaan

13221082361579264918

Rusmali (Mally). Jual beli ikan air tawar di Sawangan, Depok

Berbicara harga, pedagang dan pemasok ikan air tawar di Sawangan, Depok, mengakui kalau harga pasaran ikan mas normalnya memang Rp.15.000. sekilo. Kalau harga sudah Rp.20.000., apalagi kalau lebih tinggi lagi, bisa dikatakan sudah tidak normal lagi. Barangkali karena itu, untuk kasus ikan mas, penampung ikan itu lebih memilih pemasokan langsung dari Cirata dan Jatiluhur dibanding dari TPI.

Penampung ikan air tawar dari TPI Muara Angke di atas menambahkan, sejak 2002, harga ikan mas memang cenderung melambung terus. Situasi ini bakalan berlangsung lama. Penampung ikan air tawar di Depok, yang sejak 2002 sudah membaca situasi ikan mas bakalan bergejolak setelah kasus virus herves, menjelaskan, gejolak itu bias berlangsung panjang bila masalah lingkungan tidak diperhatikan. Sebab timbulnya penyakit karena lingkungan yang terabaikan. “Jadi kecenderungan harga ikan mas terus melambung juga akan berlangsung panjang,” begitu tuturnya.

Meskipun begitu, penampung dari Bojongsari (Depok), ikan mas tetap dijadikan pilihan utama bagi bisnis ikannya. Alasannya, ikan mas mudah dijual. Masuk pasar tradisional diterima, masuk swalayan bisa. Warung makan tenda kaki lima, warung nasi padang, dan warung tegal, apalagi warung sunda, semuanya tidak lupa menyediakan menu masakan gulai ikan mas, ikan mas goreng, ikan mas panggang/bakar, pepes ikan mas, dll. Kolam pemancingan juga memberikan pelayanan tambahan untuk memasakan ikan mas hasil pancingan. Restoran-restoran besar pun membutuhkannya juga.

Kalau penampung di Depok rata-rata menerima pemasokan satu sampai dua ton, dari kebutuhannya yang dua sampai tiga ton; maka penampung dari Bojongsari tersebut, melepas ikan mas ke Pasar Parung dan Ciputat, pada Senin sampai Jumat, 60 kg – 70 kg. Pada Sabtu dan Minggu serta hari libur 80 kg. Angka ini di luar pesanan dari kolam pemancingan yang secara rutin meminta rata-rata 600 kg. Bahkan kalau awal bulan atau pada tanggal tanggal muda bisa satu ton untuk kolam pemancingan besar langganannya. Namun setiap harinya ia menerima pemasokan ikan Senin sampai Jumat 500 – 700 kg; Sabtu – Minggu – hari libur dan awal bulan satu ton.

Pedagang ikan di Pasar Minggu, Jakarta, menceritakan hal senada. Ia tidak langsung menerima ikan dari Cirata dan Jatiluhur melainkan dari penampung ikan di Pasar Minggu juga. Biasanya ia menerima setoran satu kuintal, namun ketika dijumpai pada Maret 2009, hanya menerima 80 kg. Sampai kira-kira pukul 11.00, ikan masnya yang laku 40-50 kg. Rupanya, karena harganya tinggi, Rp.21.000. sekilo, ikan mas agak lambat lakunya. Yang aneh, harga ikan tidak turun-turun. Kalaupun turun kisarannya masih Rp.18.000. – Rp.20.000. Karena itu, sisa ikan yang tidak laku hari ini dijual esok hari. Kalau esok hari ada yang mati, ikan masih laku Rp.15.000. sekilo. Biasanya ikan yang mati mencapai 10%.

Kata pedagang di Pasar Minggu itu, para pelanggannya kebanyakan warung padang, warung sunda dan warteg. Mereka umumnya membeli 2 – 3 kg berukuran sekilo 4 - 6 ekor. Namun ketika harga ikan mas murah, masih dalam kisaran Rp.10.000. – Rp.15.000. sekilo, katering memesan dalam jumlah lumayan banyak. Satu katering bisa mengambil 20 - 50 kg. “Kalau harga ikan mas murah, katering bisa masuk, saya bisa menjual ikan sampai satu kuintal perhari,” jelasnya. Diakuinya, kalau kondisinya normal, harga tinggi hanya berlangsung saat menjelang Puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Setelah itu harga kembali seperti semula.

Contoh lain dari Pasar Ciputat Lama dan Pasar Ciputat Baru (Pasar Cimanggis). Kenapa pasar lokal masih dijadikan sasaran ? Kata salah seorang penampung ikan air tawar, karena pasar lokal adalah “pasar rakyat”. Jadi pembelinya beraneka ragam. Selain rumah tangga, juga warung makan dan kolam pemancingan. Ketika ditanya, kalau ada peternak ikan air tawar (lele, ikan mas, bawal air tawar, gurame) yang menawarkan ikannya, seberapa banyak kemampuan menampungnya? Jawabannya, kalau harganya sepakat, satu pedagang sanggup menampung masing-masing 50 kg sehari !

Di dua pasar itu, sekurang-kurangnya ada lima pedagang penampung ! Kenapa mereka masih mau menampung tawaran dari peternak ? Karena pada saat itu pasokan ikan tidak tentu datangnya. Bisa setiap hari tapi bisa pula hanya saat hari pasaran saja yaitu hari Selasa dan Sabtu saja, bahkan bisa seminggu sekali. Sementara yang belanja ikan di pasar tersebut, setiap harinya, dalam skala kecil, kurang atau lebih dari sekilo adalah ibu rumah tangga; dalam skala sedang, sampai 5 – 10 kg adalah warung makan; dan dalam skala besar sampai sekuintal atau lebih adalah pemilik kolam pemancingan ikan.

Tabel:

Harga Rata Rata Ikan Air Tawar

(Konsumsi)

Wilayah Prov. DKI Jakarta

Harga Pasar *)

Harga Tawaran ****)

Agustus 2007 **)

February 2010 ***)

Gurame

Mas

Mujair

Lele

Patin

Gurame

Mas

Mujair

Lele

Patin

Gurame: 30 000; Bawal

16 000; Nila Merah

18 000; Nila Gift 15 000; Nila Gesit (Monosex) 17 000; Patin

17 000.

Pusat

13 500

10 500

25 000

18 500

12 075

12 000

16 500

Utara

13 500

10 500

25 000

18 500

12 225

12 500

16 500

Barat

13 500

10 500

25 000

18 500

12 000

12 500

16 500

Selatan

13 500

10 518

25 000

18 500

12 150

12 000

17 000

Timur

13 500

10 518

25 000

18 500

12 150

12 000

17 000

Harga Rerata

13 500

10 507

25 000

18 500

12 120

12 200

16 700

Catatan: Ikan konsumsi. Untuk Harga Pasar: keadaan ikan segar. Ukuran: sedang. Untuk Harga Tawaran: bobot ikan 3 – 7 ons (+ 300 – 700 gram). Harga untuk per 5 kg perboks.; *)Sumber: Perusahaan Daerah Pasar Jaya; **). Sebagai contoh harga rata rata Musim Kemarau; ***). Sebagai contoh harga rata rata Musim Penghujan; ****) Daftar Harga Ikan Air Tawar. www.empangraddina.com.

4. Kebutuhan kolam pemancingan

Satu kolam pemancingan tidak setiap hari belanja ikan, namun sebulan sampai tiga bulan sekali. Hanya saja, jumlah kolam pemancingan di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) saja sangat banyak. Hanya di sekitar Ciputat, Pamulang, Serpong, ada ratusan kolam pemancingan. Jadi setiap harinya kolam-kolam itu belanja secara bergiliran.

13221085401071633740

Kolam pemancingan Durian Seribu Depok

Tampaknya, harga ikan mas boleh tinggi, pengadaan boleh berkurang, tapi bukan berarti hobi memancing ikan harus berhenti. Makanya penampung ikan di atas selalu menerima pesanan ikan dari pemilik kolam pemancingan. Malahan, kolam pemancingan di Durian Seribu (Depok), yang memiliki kolam dengan 20 lapak ukuran kira-kira 2,5 m x 10 m perlapaknya, mengisi kolamnya sampai 6 ton ikan mas ukuran 0,5 kg sampai 6,0 kg. Diharapkan, ikan yang 6 ton ini sampai 2 tahun mendatang menjadi 8 ton, sesuai dengan daya tampung maksimal dari kolam kolam tersebut. Sedangkan penggantian ikan baru perbulan bisa mencapai 200 kg.

Kemudian setiap tiga bulan sekali kolam dibersihkan. Ikan diberi obat untuk membasmi kutu ikan dan mencegah virus, juga diberi vitamin perdua minggu sekali, dan lain-lain perawatan. Pada saat ini pula ada ikan yang diangkat dan dikirim ke kolam lain (masih dalam satu grup). Pengangkatan ikan bisa sampai satu ton. Artinya, setiap tiga bulan dibutuhkan ikan baru sebagai pengganti ikan yang diangkat sebanyak kurang lebih satu ton juga, sehingga kolam pemancingan tetap berisi 6 ton ikan.

Kata pemilik kolam pemancingan di Gang Sahidin (Pamulang, Tangerang), dengan lima kolam ukuran kurang lebih 12 x 12 m, masing-masing diisi bawal, tawes, dan mas. Setiap kolam rata-rata ditebar 200 kg ikan ukuran sekilo 1-2 ekor; sekilo 3 ekor; sekilo 5 ekor; dan sekilo 6 ekor. Karena setiap minggunya ikan-ikan itu berkurang karena terpancing, setiap minggu berikutnya, kolam diisi dengan ikan baru dalam jumlah yang sama. Ikan-ikan baru ini dimasukkan ke dalam kolam di depan para pemancing, supaya mereka mengetahui jumlah ikan dalam kolam selalu sama setiap minggunya yaitu 200 kg perkolam. Jumlah ikan yang terambil memang tidak tentu. Namun rata-rata dalam sebulan pemilik kolam ini harus belanja sedikitnya 100 kg ikan termasuk ikan mas.

Rupanya, untuk mengisi ikan baru, tidak mudah. Pemilik kolam pemancingan di Gang Sahidin itu sempat merasakan betapa tidak mudah mengisi kolamnya dengan ikan baru karena ‘agak’ susah mencari ikannya. Kalaupun ikannya ada harganya cukup tinggi.

1322108648424024991

Dalam lomba pemancingan di Durian Seribu Depok

Hal senada juga dirasakan pemilik kolam pemancingan di Durian Seribu. Apalagi kalau kebutuhannya cukup besar. Sepertinya tidak mungkin mencarinya. Sebab pengadaannya harus mengandalkan kiriman dari luar (terutama dari Cirata dan Jatiluhur) yang paling tidak sampai awal 2009 kondisinya masih belum pulih. Sementara daerah sentra produksi seperti Cibening, Ciampea, Leuwliang, yang diandalkan Kabupaten Bogor untuk produksi ikan masnya, belakangan ini ada kabar burung, sudah terindikasi mulai tercemar limbah penggalian emas dari Pongkor. Konon sudah ada beberapa kolam yang tidak produktif lagi.

Karena itu, bagi pengelola kolam pemancingan yang tidak memiliki stok ikan dalam kolam, bisa terkena imbas, tidak bisa mengisi kolamnya. Artinya, akan mengurangi pengunjung yang akan memancing. Dengan kata lain, kolam pemancingan bisa sepi dari para pemancing.

5. Nomor satu

Meskipun harganya tinggi, berdasarkan pantauan pemasok ikan di Sawangan di atas, ikan mas masih tetap nomor satu di pasaran. Karena nomor satu, pasar masih mau menerimanya. Makin besar makin mahal dan banyak yang mencarinya. Sebagai contoh, pada awal 2010, pemilik kolam ikan mas di Gadog, Bogor, menceritakan, ikan mas peliharaannya yang sudah berbobot kira-kira 5 kg ditawar Rp.250.000. alias Rp.50.000. perkilogram dan tidak dilepaskan karena ia masih ingin memeliharanya.

1322108877296333225

Ukuran yang banyak dibeli konsumen

Biasanya, ikan mas ukuran besar seperti itu, kalau tidak untuk mengisi kolam pemancingan, untuk indukan. Rumah makan kelas menengah ke atas dan swalayan juga membutuhkan ikan mas ukuran besar namun tidak sebesar itu. Nara sumber di atas menambahkan, kalau soal bobot atau ukuran ikan mas berdasarkan permintaan pasar adalah:

§ ukuran untuk pasar umum (termasuk pasar tradisionaL), 1,0 kg jumlah ikannya 8 ekor sampai 4 ekor; kecuali pasar swalayan atau sejenisnya umumnya 1,0 kg dua ekor;

§ ukuran untuk kolam pemancingan, 1,0 kg banyaknya 3 ekor sampai satu ekor, atau satu ekor di atas 1,0 kg;

§ ukuran untuk restoran / rumah makan, 1,0 kg jumlahnya 4 ekor sampai 3 ekor;

§ ukuran untuk warteg, 1,0 kg antara 6 ekor sampai 8 ekor;

§ dan ukuran untuk warung nasi padang, 1,0 kg sekitar 4 ekor sampai 6 ekor.

6. Produksi dan konsumsi dalam negeri

a. Produksi

Produksi ikan mas secara nasional memang ada peningkatan sebagaimana dicatat Kompas, 14 April 2008 dan Departemen Kelautan dan Perikanan (dalam Produksi Ikan Mas Indonesia en.wordpress.com).

§ Tahun 1996 - 178.362. ton

§ Tahun 2002 - 199.632. ton

§ Tahun 2003 - 199.532. ton

§ Tahun 2004 -

§ Tahun 2005 - 216.920. ton

§ Tahun 2006 - 247.633. ton

§ Tahun 2007 - 285.100. ton

§ Tahun 2008 - 375.000. ton (angka sementara)

§ Tahun 2009 - 446.000. ton (angka sementara)

Setelah kematian masal, memang terjadi penurunan produksi. Dua tahun kemudian, produksi terus meningkat. Barangkali, yang menjadi masalah, saat pemanenannya tidak merata sepanjang tahun. Musim panen raya ikan air tawar umumnya berlangsung pada bulan-bulan tertentu, sehingga pada bulan-bulan lain panenannya terbatas. Hal ini mengingatkan kita pada penjelasan nara sumber pedagang penampung dan atau pemasok ikan air tawar di TPI di atas yaitu:

§ Bulan-bulan Januari dan Februari, karena iklim (musim hujan), pemasokan ikan air tawar menurun karena sedikit peternak ikan yang melakukan panenan. Namun pada saat ini harga ikan air tawar cukup tinggi karena persediaan ikan air laut menyusut akibat musim barat.

§ Pada bulan-bulan Maret, April, Mei, Juni, mulai memasuki awal pemanenan. Pemasokan ikan mulai berjalan normal, dan harganya pun juga normal, namun masih tetap tinggi dibandingkan harga normal ikan air tawar umumnya.

§ Pada bulan-bulan Juli sampai Desember memasuki panen raya. Pemasokan ikan bisa berlebihan dan harga bisa turun meskipun masih di atas rata-rata harga normal ikan air tawar umumnya.

Apa yang bisa dipetik dari catatan itu ? Bila ingin memanfaatkan harga yang tinggi, memang harus direncanakan, saat panen jatuh persis pada bulan-bulan tidak terjadi panen raya kira-kira Januari – Juni; atau saat-saat para nelayan tidak banyak yang melaut karena musim barat.

b. Konsumsi

Konsumsi ikan nasional tahun 2005 mencapai 26 kg perkapita pertahun dan naik menjadi 28 kg pada 2006. Tahun berikutnya naik lagi menjadi 30 kg perkapita pertahun. Dari total konsumsi itu, Provinsi DKI Jakarta tercatat yang paling banyak mengonsumsi. Menurut Data Perikanan DKI Jakarta Tahun 2003 – 2007, konsumsi perkapita hasil perikanan di DKI Jakarta adalah:

§ 2003 sebesar 22,87 kg

§ 2004 naik menjadi 22,91 kg

§ 2005 tetap bertahan 22,91 kg

§ 2006 naik lagi menjadi 23,09 kg

§ dan 2007 meskipun tidak besar tetap naik menjadi 23,24. kg.

Dengan demikian, dari total konsumsi ikan secara nasional, sekitar 77% - 88%-nya dikonsumsi penduduk Jakarta dan sekitarnya. Karena itu, Jakarta tetap menarik bagi para pelaku bisnis komoditas ini.

Namun ada kontradiksi dengan data konsumsi ikan mas secara nasional. Setelah kasus kematian masal 2002, terjadi lonjakan harga pasaran ikan mas. Pengaruh yang paling nyata atas kenaikan harga adalah penurunan konsumsi ikan mas perkapita pertahun. Pada periode 1996 – 2002 (6 tahun) konsumsi rata-rata 0,72 perkilogram pertahun dan turun drastis lebih dari 70% menjadi 0,19 perkilogram pertahun pada periode 2003 – 2009 (6 tahun).

13221090451291637481

Disukai peternak untuk indukan, tapi juga disukai pemilik kolam pemancingan

Konsumsi Beberapa Jenis Ikan Air Tawar
Jenis Ikan

Konsumsi Perkapita Pertahun (Kg)

Rata-rata

Konsumsi Perkapita Pertahun (Kg)

Rata-rata

1996

1999

2002

2003

2005

2007

2009

Gabus

0,82

0,70

0,77

0,76

1,44

0,14

0,10

0,10

0,45

Mujair

0,79

0,63

1,12

0,85

0,24

0,31

0,25

0,27

0,27

MAS

0,72

0,46

0,99

0,72

0,20

0,23

0,18

0,16

0,19

Lele

0,65

0,63

0,71

0,66

0,14

0,17

0,17

0,19

0,17

Sumber: (1). Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), BPS-Jakarta, dalam Analisis Perkembangan Tingkat Konsumsi Ikan Nasional oleh Suhana, Dewan Direktur Ocean Watch dan Pemerhati Masalah Kelautan dan Perikanan, http//;ocean.iuplog.com, http//:nelayanindonesia.blogspot.com.; (1). Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia. Jakarta: BPS, 2005, 2007, 2009.

Bila konsumsi ikan mas rata-rata selama Periode 2003 – 2009 dijadikan patokan, yang besarnya 0,19 kg perkapita pertahun, maka kebutuhan ikan mas berdasarkan pengeluaran untuk penduduk Jakarta, yang tercatat sebagai pengonsumsi ikan terbesar secara nasional, yang jumlah penduduknya pada tahun 2009 diperkirakan 9.223.000. jiwa, besarnya 1.752,37. ton pertahun.

Di luar kebutuhan ini, juga berdasarkan keterangan nara sumber pedagang ikan di atas, ikan mas juga dibutuhkan oleh restoran, warung makan, catering, dan warung lainnya. Karena yang masuk restoran atau warung makan ini tidak hanya penduduk Jakarta saja, bisa saja penduduk luar Jakarta yang ‘mampir jajan’ di ibukota ini, maka total kebutuhan ikan mas untuk memenuhi semuanya itu kurang lebih berikut ini.

§ Berdasarkan pengeluaran untuk konsumsi ikan mas perkapita

o 1.752,37. ton pertahun

§ Berdasarkan belanja restoran/warung makan/kedai

o Belanja warung makan perhari berdasarkan informasi dari pedagang ikan, antara 2 – 3 kg dan 5 – 10 kg, atau rata-rata 5 kg. Jumlah warung makan yang tercatat sampai 2007/2008 adalah 33.574 warung. Dengan demikian kebutuhan ikan mas kurang lebih 60.433,20. ton pertahun.

§ Berdasarkan belanja pedagang makanan kaki lima

o Menurut Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), khususnya pedagang pecel lele yang sudah terdaftar di Jakarta 6.000. pedagang. Biasanya, pedagang makanan ini, menyediakan menu pecel lele dan juga ikan mas, gurame, bawal, dll. Bila asumsi belanja ikan mas seperti di Pasar Minggu, 2 – 3 kg atau rata-rata 2,5 kg perhari, maka kebutuhkan ikan mas kurang lebih 5.400. ton pertahun.

o TROBOS, 1 Oktober 2007, melaporkan, untuk wilayah Jabodetabek tercatat ada 15.000. unit warung tenda yang menyajikan menu pecel lele dan tentu juga menu ikan mas. Bila menggunakan angka rata-rata seperti sebelumnya, kebutuhan ikan mas untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya kurang lebih 13.500. ton pertahun.

§ Berdasarkan belanja katering atau jasa boga yang terdaftar

o Usaha katering atau jasa boga atau sejenisnya, yang tercatat 185 usaha. Kalau menggunakan banyaknya ikan mas yang dibutuhkan katering seperti di Pasar Minggu rata-rata 20 kg perhari, maka dalam setahun membutuhkan kurang lebih 1.332. ton.

§ Berdasarkan belanja warung nasi padang

o Warung nasi padang atau rumah makan padang di Jakarta ada 65 tempat (www.ayojajan.com). Dari tempat ini, menurut catatan Ikatan Warung Padang Indonesia (Iwapin), di wilayah Jakarta dan sekitarnya ada kira-kira 20.000 rumah makan padang (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

o Mengambil contoh dari Pasar Minggu, setiap warung padang (juga warteg dan warung sunda), belanja 2 – 3 kg (rata-rata 2,5 kg) ikan mas ukuran 4 dan 6 ekor perkilogram perhari. Dengan demikian kebutuhan ikan mas untuk warung nasi padang ini kurang lebih 18.000. ton pertahun.

§ Berdasarkan belanja warteg

o Mengutip Kompas, 9 Mei 2008, warung tegal (warteg) yang tergabung dalam Koperasi Warung Tegal (Warteg) di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), sekitar 26.000. warung. Tahun 2008 sekitar 30 persen warteg yang gulung tikar. Jadi yang masih eksis kurang lebih 18.200. warung. Sebagaimana warung nasi padang, kebutuhan ikan mas rata-rata perhari 2,5 kg. Kalau tahun 2009/2010 dianggap warteg yang masih hidup 18.200. warung, maka kebutuhan ikan mas warung ini kurang lebih 16.380. ton pertahun.

§ Total kebutuhan ikan mas di Jakarta

o Sebetulnya di samping warung-warung di atas masih ada warung sunda, atau warung-warung semacamnya yang menyediakan menu masakan ikan mas. Namun karena keterbatasan data kebutuhan warung-warung ini tidak bisa disajikan di sini.

o Dengan asumsi di atas, total kebutuhan ikan mas untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya kurang lebih 111.397,57. ton pertahun.

Apakah kebutuhan ikan mas untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya 111.397,57. ton pertahun atau kurang lebih 305,2 ton perhari bisa dipenuhi? Yang pasti, produksi ikan mas di Jakarta dan sekitarnya relatif tidak mencukupi kebutuhan itu. Karenanya wilayah ini membutuhkan pasokan ikan mas dari daerah. Pemasok utama untuk pasar di sini adalah Jawa Barat.

Produksi ikan mas di Jawa Barat diperkirakan 124 ribu ton (Periode 2002 – 2006) sampai 147.808. ton (Periode 2006 -2010). Dari jumlah ini, ikan mas dari Jawa Barat didistribusikan ke Jakarta, Surabaya, Semarang, Sumatera Selatan, Bandung, Lampung, Bogor, dan Cirebon; dan tersiar kabar juga diterbangkan ke Malaysia.

Sementara itu, bila menggunakan konsumsi ikan mas perkapita pertahun 0,19 kg, maka Jawa Barat membutuhkan ikan mas sampai 7.885,3. ton pertahun untuk memenuhi konsumsi penduduknya yang kurang lebih 41.501.500. jiwa pada tahun 2009. Bila total produksi 147.808. ton (periode 2006 – 2010), lalu 111.397,57 ton didistribusikan ke Jakarta; yang 7.885,3 ton dikonsumsi sendiri; dan yang 28.525,13. ton, akankah cukup didistribusikan ke daerah lain ? Ini masih tanda tanya. Sebab, kalau pendistribusiannya memang seperti ini, maka kurang lebih 75% produksi ikan mas Jawa Barat masuk ke Jakarta; hanya sekitar 5% untuk dikonsumsi sendiri; dan kira-kira 20% didistribusikan ke daerah lain.

Kalau hanya berpatokan pada ‘angka’ produksi ikan mas secara nasional tahun 2009 kurang lebih 446.000. ton, dengan tingkat konsumsi 0,19 kg perkapita pertahun (penduduk Indonesia tahun 2009 kira-kira 231.369.300. jiwa), kelihatannya memang tidak ada masalah dengan penyediaan ikan air tawar ini. Kalau begitu kenapa harga ikan mas masih tetap tinggi ? Kenapa pedagang penampung di atas tidak menerima jumlah pasokan sesuai dengan permintaannya ? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini secara tidak langsung menyajikan gambaran permasalahan mengenai ‘keajekan (kontinuitas)’ dalam penyediaan ikan mas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tersebut, paling tidak untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dengan kata lain:

§ pasar Jakarta sebagai pasar induk ikan untuk wilayah sekitarnya, membutuhkan ‘keajekan’ pemasokan ikan mas;

§ agar pemasokannya ‘ajek’ dibutuhkan ‘keajekan’ dalam produksi;

§ ‘keajekan’ dalam produksi merupakan ‘kata kunci’; atau karena produksi tidak ‘ajek’ pemasokan terganggu; jadi, ‘ketidakajekan’ produksi membuat ‘ketidakajekan’ pemasokan;

§ karena ‘tidak ajek’, peluang usaha membudidayakan ikan mas menjadi terbuka lebar sampai terpenuhinya ’keajekan’ baik dalam produksi maupun pemasokan;

§ hanya saja, bagi calon pelaku usaha ikan mas, perlu memperhatikan, kapan waktu yang tepat memulai usahanya. Catatan dari pedagang TPI di atas; dan catatan dari nara sumber di bawah perlu digarisbawahi secara tebal.

7. Peluangnya bagi usaha rumah tangga

1322109386708342467

Dipelihara di kolam sederhana juga bisa

Asalkan pilihan waktu memulainya tidak salah, usaha membudidayakan ikan mas tidak membuat orang menjadi bangkrut. Untuk memulai usaha tidak harus menyediakan lahan yang luas. Dengan lahan terbatas di sekitar rumah usaha tersebut sudah bisa dimulai. Silakan simak pernyataan penampung ikan dari Sawangan di atas yang berani mengatakan kalau usaha budidaya ikan mas masih cerah, baik bagi petani ikan, tentu saja bagi pedagang dan atau pemasok, bahkan bagi pengelola kolam pemancingan, juga rumah tangga.

Tentu saja peluang usaha ikan mas tidak hanya tersedia bagi kegiatan pembesaran bibit menjadi ikan konsumsi serta pemasaran saja yang besarnya sudah kita lihat di atas. Kegiatan pembenihan juga mempunyai peluang; kegiatan pendederan (pembesaran benih menjadi bibit) memiliki peluang yang sama pula. Berapa besar peluang yang tersedia ? Perkiraannya kira-kira seperti berikut.

§ Peluang secara nasional

o Kalau berpatokan pada produksi ikan mas (untuk konsumsi) secara nasional sebesar 446.000. ton, perkilogram ikan diasumsikan 4 ekor, maka total produksi itu sebanyak 446.000.000. ( kg) x 4 ekor = 1.784.000.000. ekor.

o Biasanya, berdasarkan pengalaman petani ikan mas umumnya, dalam setiap tahapan pemeliharaan, ada ikan yang mati. Asumsi tingkat kematian ikan masa pembesaran benih kira-kira 40%; untuk pembesaran bibit sebesar kurang lebih 20%; untuk pembesaran menjadi ikan konsumsi kira-kira 5%. Jadi untuk memroduksi 1.784 juta ekor ikan konsumsi diperlukan:

Ø (100% : 95%) x 1.784. juta ekor = + 1.877,9. juta ekor bibit ukuran kurang lebih 8 – 12 cm (tingkat kematian 5%)

Ø (100% : 80%) x 1.877,9. juta ekor = + 2.347,4 juta ekor bibit ukuran kurang lebih 5 – 8 cm (tingkat kematian 20%)

Ø (100% : 60%) x 2.347,4 juta ekor = + 3.912,4 juta ekor benih/calon bibit ukuran kurang lebih 3 – 5 cm (tingkat kematian 40%).

o Angka-angka ini merupakan angka-angka peluang usaha yang bisa digali untuk setiap tahapan pemeliharaan dari sejak pembesaran benih sampai pembesaran ikan untuk konsumsi.

13221094671194216540

Dipelihara di kolam jaring apung juga bisa

§ Peluang secara domistik

o Kalau menggunakan patokan Jakarta dan sekitarnya saja, yang total kebutuhan untuk ikan mas kurang lebih 111.397,57. ton pertahun, atau kira-kira sebanyak 445.590.288. ekor ikan konsumsi (perkilogram 4 ekor), maka peluang yang bisa digali dari kebutuhan ini adalah:

Ø (100% : 95%) x 445,6. juta ekor = + 469,1. juta ekor bibit ukuran kurang lebih 8 – 12 cm (tingkat kematian 5%)

Ø (100% : 80%) x 469,1. juta ekor = + 586,4. juta ekor bibit ukuran kurang lebih 5 – 8 cm (tingkat kematian 20%)

Ø (100% : 60%) x 586,4 juta ekor = + 977,4. juta ekor benih/calon bibit ukuran kurang lebih 3 – 5 cm (tingkat kematian 40%).

o Kalau produksi ikan mas provinsi Jawa Barat yang dijadikan patokan, dimana dari produksi ini didistribusikan ke Jakarta dan sekitarnya serta daerah lainnya, juga untuk konsumsi lokal (penduduk Jawa Barat), dimana target produksi sampai 2010 sebesar 147.808. ton atau sebanyak kira-kira 591.232.000. ekor ikan konsumsi (perkilogram 4 ekor), maka peluang yang bisa digali adalah:

Ø (100% : 95%) x 591,3. juta ekor = + 622,4. juta ekor bibit ukuran kurang lebih 8 – 12 cm (tingkat kematian 5%)

Ø (100% : 80%) x 622,4. juta ekor = + 778,0. juta ekor bibit ukuran kurang lebih 5 – 8 cm (tingkat kematian 20%)

Ø (100% : 60%) x 778,0 juta ekor = + 1.296,7. juta ekor benih/calon bibit ukuran kurang lebih 3 – 5 cm (tingkat kematian 40%).

Hanya saja, kalau ikan mas dijadikan ladang usaha, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ekstra, yaitu mutu pakan yang diberikan kepada ikan.

Berikut adalah cerita petani yang pernah membudidayakan ikan mas. Cerita ini kami peroleh pada Triwulan I tahun 2009 berdasarkan pengalaman mereka pada tahun sebelumnya.

Sekedar contoh, berikut pengalaman petani ikan ikan dari Kampung Pojok (Situ Cilala), desa Babakan, Ciseeng. Nara sumber ini, yang ditemui pada bulan-bulan awal 2009, menceritakan pengalamannya. Untuk ikan mas, ia lebih suka membesarkan larva menjadi calon bibit. Lama pemeliharaan sekitar 3 minggu, dari umur larva sekitar 5 hari, dipelihara sampai umur 21 hari (ukuran larva 1 – 3 cm dengan bobot 0,1 - 0,5 gram).

Kalau membesarkan bibit menjadi ikan konsumsi, ukuran sekilo 20 ekor (50 gram perekor) menjadi sekilo 4 ekor (250 gram perekor), yang memerlukan waktu sampai 3 bulan, biaya pakannya (maksudnya pakan pabrik) cukup mahal ! Karena itu, bila modalnya terbatas, pilihan usahanya memang membesarkan larva tersebut.

Berikut perhitungan usaha membesarkan larva dan bibit (menjadi ikan konsumsi) mengambil contoh dari Ciseeng dan sekitarnya.

13221096171604874412

Jika dana cukup, buat kolam tembok

a. Membesarkan larva

Berikut perhitungan usaha pemeliharaan larva (umur 5 – 7 hari) ikan mas versi nara sumber di atas, yang memiliki kolam sendiri, dan semua pekerjaan dilakukan sendiri bersama keluarga, lamanya pemeliharaan sebulan. Saat dipanen, larva sudah menjadi benih umur 35 – 37 hari, ukuran kurang lebih 5 cm, bobot benih kira-kira 2,5 gram. Pemeliharaan dilakukan secara tradisional (apa adanya). Kemasan dan lain-lain tidak dibeli karena si pembeli yang membawa ember penampung sendiri (biasanya para pedagang penampung bibit). Kepadatan tebar larva antara 100 – an ekor permeter.

Perhitungan usahanya bila menggunakan pakan jadi dan lama pemeliharaan satu bulan (pada Semester I – 2009).

§ Pembelian pakan larva (tepung) 5 kg @ Rp.12.500. = Rp.62.500.

§ Tepung kotoran ayam kering 5 karung (untuk menumbuhkan jasat renik sebagai pakan alami larva) @ Rp.20.000. = Rp.100.000.

§ Pembelian larva 20 ribu @ Rp.16. = Rp.320.000.

§ Pengeluaran sementara Rp.482.500.

§ Asumsi pembelian peralatan, obat, dll. Rp.96.500. (20%).

§ Total pengeluaran Rp.579.000.

§ Asumsi tingkat kematian larva 40% (8.000. ekor)

§ Hasil panen 12.000. ekor.

§ Penjualan perekor Rp.70.

§ Total hasil penjualan Rp.840.000.

§ Keuntungan kotor Rp.840.000. – Rp.579.000. = Rp.261.000.

b. Membesarkan bibit di kolam

Pembesaran ikan mas dari bibit ukuran sekilo 20 ekor (50 gram perekor), ukuran kira-kira 13 cm, umur benih kira-kira 60 hari. Dipelihara selama 90 hari, menjadi ikan konsumsi sekilo 4 ekor (250 gram perekor), dan umur ikan sudah mencapai sekitar 150 hari. Umumnya pembeli ikan konsumsi adalah pedagang dan mereka mengambil sendiri. Sehingga, petani tidak perlu menyiapkan ember penampung.

Kebutuhan pakan untuk bibit ukuran tersebut 3% kali bobot tubuh ikan (antara 50 – 250 gram atau rata-rata 150 gram) perhari. Jadi, perekor bibit membutuhkan 4,5 gram pakan perhari. Kalau lama pemeliharaan 90 hari, kebutuhan pakannya kurang lebih 405 gram perekor. Bila yang dipelihara 2.000. ekor total kebutuhan pakannya kurang lebih 810.000. gram atau 810 kg pakan.

Pehitungan usaha menurut nara sumber di atas dan penjelasan pemasok dari Sawangan, berikut ini:

§ Pembelian bibit 2.000 ekor (100 kg) harga perekornya Rp.600. = Rp.1.200.000.

§ Kebutuhan pakan untuk pemeliharaan selama tiga bulan 810 kg.

§ Harga pakan untuk ikan mas perkarung (30 kg) Rp.170.000. (harga Minggu Akhir Februari 2010). Total pembelian pakan (810 : 30) x Rp.170.000. = Rp.4.590.000.

§ Lahan milik sendiri

§ Tenaga kerja dilakukan sendiri

§ Pengeluaran sementara Rp.1.200.000. + Rp.4.590.000. = Rp.5.790.000.

§ Asumsi pembelian peralatan, dll. Rp.579.000. (10%)

§ Total pengeluaran Rp.579.000. + Rp.5.790.000. = Rp.6.369.000.

§ Tingkat kematian 5% (100. ekor).

§ Panen yang diperoleh 1.900. ekor (475 kg).

§ Penjualan hasil panen tingkat petani bervariasi antara Rp.15.000.; Rp.17.000,; dan Rp.18.000. perkilogram. Harga diambil rata-rata Rp.16.500. perkilogram.

§ Pendapatan kotor Rp.7.837.500.

§ Keuntungan kotor Rp.7.837.500. – Rp.6.369.000. = Rp.1.468.500.

c. Membesarkan bibit di jaring apung

Sementara itu, pengalaman kelompok tani di waduk Pamulang Tangerang yang pernah membesarkan bibit ikan mas menjadi ikan mas konsumsi, menunjukan hal demikian.

§ Biaya pembiayaan jaring apung ukuran 5 x 10 m. = Rp.1.500.000.

§ Bibit ukuran dua jari 3.000. ekor x Rp.500. = Rp.1.500.000.

§ Pakan 8 karung isi 50 kg @ Rp.270.000. = Rp.2.160.000.

§ Tenaga kerja 4 bulan Rp.1.000.000.

§ Total pengeluaran Rp.6.160.000.

§ Panen dari benih ukuran dua jari atau 60 ekor per kg menjadi 5 ekor per kg. Total panen 600 kg. untuk pemeliharaan sampai 4 bulan.

§ Kalau harga perkg Rp.16.500. pendapatan kotor Rp.9.900.000.

§ Keuntungan kotor Rp.3.740.000

1322109743103860061

Setelah 3-4 bulan dipelihara, ikan mas sudah bisa dipanen

d. Sebelum kegiatan usaha dimulai

Yang bisa disimpulkan, baik itu kegiatan pembesaran larva menjadi bibit, maupun pembesaran bibit menjadi ikan konsumsi, untuk skala rumah tangga dan semua pekerjaan dilakukan sendiri, masih menguntungkan. Dengan kata lain, untuk meningkatkan pendapatan keluarga, memelihara ikan mas mungkin bisa dijadikan salah satu pilihan usaha rumah tangga, meskipun dengan catatan yang seperti dikemukakan pemasok di Sawangan dan pemilik kolam pemancingan di Durian Seribu dan Pamulang:

§ Lokasi kolam harus didukung oleh lingkungan yang baik. Maksudnya, air yang masuk kolam, baik dari sungai maupun sumber air setempat, tidak tercemar limbah; pH air normal, dan kondisi seperti ini harus selalu stabil. Kalau tidak, ikan gampang diserang penyakit; pertumbuhannya tidak maksimal, bahkan bisa menyebabkan kematian.

§ Soal teknis dan perawatan, pasang surut air, harus diperhatikan, demikian juga dengan pakan, obat dan vitamin; lalu bibit yang ditebar adalah bibit yang bagus, setelah dipelihara 3 bulan, dari bibit 100 gram bila dirawat secara sungguh-sungguh bisa diangkat ikan konsumsi 500 gram (meningkat 5 kali lipat !).

§ Saran lain:

o Harus rajin memantau ikan/kolam, baik pagi, siang, maupun sore/malam hari

o Kolam tanah lebih bagus

o Ukuran kolam ‘running’ disarankan 3 m x 7 m dengan kedalaman lebih dari 1,0 m;

o Untuk kolam ukuran itu, tebarlah bibit sebanyak 100 kg – 150 kg. Ukuran bibit kalau ditimbang, perkilogram 100 ekor atau perekor 10 gram (kira-kira 5,0 – 8,0 cm) ; atau total bibit yang ditebar 100 bibit x (100 – 150 kg) = 10.000. – 15.000. bibit.

o Kalau ikan yang dipelihara bibit ukuran per-1,0 kg adalah 20 ekor, dipelihara sekitar 3 – 4 bulan, per-1,0 kg menjadi 4 ekor;

o Pemeliharaan yang menguntungkan untuk kondisi sekarang, panenan per-1,0 kg adalah 3-4 ekor. Tapi kalau harga normal (harga pasar Rp.15.000. perkg) semua ukuran menguntungkan.

o Jadi untuk analisa usaha tani budidaya ikan mas sebaiknya perhitungannya menggunakan harga di bawah Rp.15.000. perkg.

13221098821927169820

Saluran pemasukan dan pengeluaran air harus lancar

e. Pola produksi

Bila sudah mengambil keputusan ikan mas menjadi pilihan usaha, langkah berikutnya adalah mengenal bagaimana pola produksi ikan mas secara intensif dengan menggunakan konsep agribisnis. Maksudnya, suatu usaha yang mengandalkan kepada kegiatan subsistem subsistem, dimana masing-masing subsistem tidak bisa dipisahkan, saling berhubungan, saling berkaitan antara yang satu dengan lainnya.

Oleh karena itu setiap orang yang akan berusaha dalam budidaya ikan mas dapat memilih salah satu subsistem atau semua subsistem. Pada kegiatan intensifikasi, pemilihan ini tergantung dari kemampuan modal, kondisi geografis lahan, dan prasarana yang dimiliki.

Pada intensifikasi budidaya ikan mas dikenal beberapa subsistem kegiatan yaitu:

§ Subsistem kegiatan pembenihan

Subsistem pembenihan meliputi kegiatan pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, perawatan larva sampai menjadi benih ikan mas mencapai ukuran 1 - 3 cm. Kegiatan pembenihan dapat dilakukan di kolam yang dasarnya tanah sementara pematang ditembok atau kolam yang dasar dan pematang semuanya dari tanah.

§ Subsistem kegiatan pendederan

Pada subsistem pendederan kegiatannya adalah pemeliharaan benih ikan mas berukuran 1 - 3 cm yang berasal dari kegiatan pembenihan. Ikan seukuran ini dipelihara sampai mencapai ukuran 3 - 5 cm atau 5 - 8 cm perekornya. Pendederan dapat dilakukan pada kolam dasar tanah sementara pematang tembok atau dasar dan pematang semuanya tanah.

§ Subsistem kegiatan pembesaran

Pelaku usaha subsistem pembesaran memulai usaha dari pemeliharaan benih ikan mas yang berukuran 5 - 8 cm. Benih dipelihara dalam jangka waktu tertentu sehingga diperoleh ikan mas ukuran komsumsi. Lokasi pembesaran secara intensif dapat dilakukan di dua tempat yaitu di jaring apung dan kolam air deras. Sementara pemeliharaan di kolam-kolam biasa umumnya adalah pemeliharaan yang bersifat secara tradisional dan semi intensif.

§ Subsistem kegiatan pemasaran

Pasar merupakan tujuan akhir dari budidaya ikan mas secara intensif. Kegiatan pemasaran dimulai dengan memasarkan hasil dari kegiatan pembenihan, hasil dari kegiatan pendederan dan yang terakhir adalah hasil dari kegiatan pembesaran.

Pemasaran hasil dari kegiatan pembenihan dan pendederan biasanya hanya terjadi di kalangan petani pembudidaya di lingkungan usaha pemeliharaan. Kalau pun ada yang didagangkan di pasar umumnya terjadi di pasar khusus yaitu pasar ikan budidaya. Sementara pemasaran hasil kegiatan pembesarn selain dapat dikirim langsung ke konsumen juga bisa dijual di pasar khusus yaitu pasar ikan konsumsi atau di pasar umum yang langsung dibeli oleh konsumen akhir.***- Set/Tim Agriminakultura (Sebagian tulisan ini pernah dimuat di Majalah Flona sekitar 2009-2010 dan sebagai pendahuluan naskah buku Bisnis dan Budidaya Ikan Mas).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Buron FBI Predator Seks Pedofilia Ada di JIS …

Abah Pitung | | 23 April 2014 | 12:51

Ahok “Bumper” Kota Jakarta …

Anita Godjali | | 23 April 2014 | 11:51

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 10 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 12 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 13 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: