Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Dono

PNS di Badan Litbang Pertanian yang berkerja di bidang penyebaran informasi hasil penelitian tanaman pangan

Tanam kedelai tumpang sari dengan pohon jati muda

OPINI | 16 January 2012 | 02:57 Dibaca: 215   Komentar: 1   0

Tanam Kedelai Tumpang Sari dengan Pohon Jati Muda

Kritikan pedas
Ketua Dewan Kedelai Nasional Benny Kusbini terhadap panen kedelai di kawasan
hutan jati di Ngawi yang dimuat Kompas.com tanggal 10 Januari, perlu kita
hargai sebagai dorongan para pembuat kebijakan pertanian untuk mewujudkan
swasembada kedelai. Sesungguhnya budidaya kedelai di bawah pohon jati merupakan

jawaban bahwa areal di kawasan hutan (pohon jati muda umur 1-5 tahun) merupakan
areal potensial untuk ditanami komoditas tanaman pangan dan tanaman obat dan
rempah. Kasus di kawasan hutan jati di Ngawi, para peneliti kedelai Kementerian
Pertanian berkerjasama dengan petani LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dan

Perhutani telah membuktikan bahwa kedelai dapat ditanam diantara pohon jati dan
dapat memberikan hasil sekitar 1,7 ton/ha pada populasi tanaman kedelai 50%
dari populasi normal jika ditanam secara monokultur di lahan sawah pada MK-I (Musim Kemarau I: April-Juli).
Melalui inovasi penataan drainasi, pemupukan, pemberian pupuk organik, dan 
benih varietas unggul yang tahan naungan, produktivitas kedelai sebesar 1,7
ton/ha tidak sulit untuk diperoleh. Kenapa
tanaman kedelai?
Tujuannya adalah
meningkatkan produksi kedelai nasional dan salah satu upaya mencapai swasembada
kedelai tahun 2014. Tanaman ini sangat bermanfaat karena berpotensi menyuburkan
tanah. Dalam satu musim tanam, kedelai menyumbang 44-485 kg N/ha, 7,6-22,5

kg/ha P2O5, 20,0- 92,6 kg/ha K2O, 25,4-51,4
kg/ha Ca yang berasal dari hasil dekomposisi daun, batang, dan akar tanaman
kedelai. Tanaman jati membutuhkan unsur P dan Ca dalam jumlah besar untuk
pertumbuhan dan pembentukan kualitas kayu yang baik. Dengan demikian penanaman

kedelai di antara tanaman jati dalam sistem tumpangsari akan memperbaiki
kesuburan lahan hutan. Disamping itu keuntungan lain sistem tumpangsari tanaman pohon jati + kedelai
memiliki kelebihan: (a) pemanfaatan lahan lebih optimal  yang ditunjukkan oleh nisbah kesetaraan lahan
(NKT) atau Land Equivalent Ratio (LER) yang meningkat dari 1,0 menjadi 1,3-1,7,
(b) lebih cepat memperoleh penghasilan (kedelai panen umur
76-80 hari), (c) memperoleh
tambahan hasil dari tanaman yang ditanam, (
d) mencegah erosi, dan (e) brangkasan kedelai dapat dimanfaatkan
untuk pakan ternak.
Permasalahan
lahan untuk perluasan areal tanam kedelai, salah satu diantaranya yang
potensinya besar adalah kawasan hutan dengan tegakan yang masih muda berumur
1-5 tahun yang dikelola/dimiliki oleh
Perhutani, Inhutani, hutan rakyat dan Kementerian Kehutanan. Luas
kawasan hutan yang dikelola Perum Perhutani memiliki potensi untuk ditanami
tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau) sekitar
169.000 ha dengan pola tumpang sari, yang sebarannya sebagai berikut: 1) 49.000
ha di Unit I Jawa Tengah, 2) 78.000 di Unit II Jawa Timur, dan 3) 42.000 ha di
Unit III Jawa Barat. Potensi tersebut hanya di Jawa, sedangkan di Luar Jawa
masih tersedia lahan di Inhutani dan hutan rakyat. Jika potensi besar di
kawasan hutan tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan padi, jagung dan
kedelai, akan memberikan tambahan produksi ketiga komoditas tersebut cukup
besar. Upaya ersebut tidak terlalu sulit, Perhutani telah membuka diri untuk
berkerjasama dengan Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan lahan di kawasan
hutan dan petani pesanggem juga antusias karena akan meningkatkan pendapatan
mereka. Peluang besar ini perlu kita manfaatkan, khususnya bagi jajaran
Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan serta Kementerian BUMN (yang
membawahi Perhutani dan Inhutani). Tentunya ada faktor lain jika produksi
kedelai sudah dapat dinaikkan yaitu masalah harga kedelai yang berfluktuasi.
Hal ini menjadi PR kita bersama untuk menaikkan harga dasar kedelai yang layak
bagi petani, serta dukungan para anggota DPR. Harapan kedepan, inovasi
teknologi sudah tersedia, petani sudah antusias, lahan juga sudah ada di
kawasan hutan produksi, tinggal masalah harga dan impor kedelai yang harus
segera ditangani lebih serius. Mudah-mudahan harapan petani kedelai di
Indonesia akan terwujud seperti sebelum tahun 1992.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Real Madrid 1 – 0 Bayern Muenchen …

Arnold Adoe | | 24 April 2014 | 04:37

Pojok Ngoprek: Tablet Sebagai Pengganti Head …

Casmogo | | 24 April 2014 | 04:31

Rp 8,6 Milyar Menuju Senayan. Untuk Menjadi …

Pecel Tempe | | 24 April 2014 | 03:28

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 3 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 8 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Capres Demokrat Tak Sehebat Jokowi, Itu …

Dini Ambarsari | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: