Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Wandi Hartoyo

SABAR TANPO SULOYO

Jabon, 1 Hektar Milliaran Rupiah dalam 5 Tahun?

OPINI | 19 January 2012 | 02:43 Dibaca: 13227   Komentar: 10   0

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yang mengupas tentang masalah peluang berbisnis kayu Jabon dan sengon. sebagai manusia, kita selalu diwajibkan untuk berusaha dan berdoa dalam upaya mendapatkan rezeki dari Tuhan. Kedua hal tersebut harus berjalan beriringan, guna menghindarkan manusia dari sifat serakah yang pada nantinya akan menghilangkan akal sehat manusia dalam perhitungan meraih rejekinya.

Seperti dalam perhitungan bisnis kayu Jabon dan sengon ini. Ada sebagian kalangan yang memiliki ambisi demikian besar dalam meraup keuntungan. Akibatnya mereka melakukan berbagai macam cara guna meraih laba sebanyak mungkin. Seperti memberikan perhitungan keuntungan di luar kewajaran kepada calon investor kayu Jabon.
Hal ini dilakukan oleh sebagian pedagang bibit kayu jabon nakal, yang mencoba memberikan mimpi kepada pembelinya. Salah satunya dengan menyampaikan gambaran keuntungan mencapai angka milyaran rupiah dari bisnis kayu jabon ini. bagi mereka yang serakah, adanya gambaran keuntungan ini tentu akan disikapi dengan sikap irasional. Namun, bagi mereka yang melibatkan Tuhan dalam proses pencarian rejeki, tentu akan menyikapi kondisi ini dengan sabar dan mengedepankan rasio akal sehat.
Bagi mereka yang mengedapankan kerakusan dalam berbisnis kayu Jabon ataupunsengon, asumsi keuntungan mencapai milyaran rupiah ini diperoleh dengan cara yang tidak sehat. Seperti dengan menyarankan pengurangan jarak kerapatan antar pohon hingga mencapai 1×1 m. Bahkan, ada sekelompok pihak yang menyatakan semakin rapat jarak antar pohon, maka keuntungan yang bisa didapatkan dari kayu Jabonper hektar mencapai angka 1 milyar rupiah.
1326940958410796222

perjalanan kayu jabon

Namun sesungguhnya, asumsi seperti ini adalah sebuah penyesatan. Sebab, semakin rapat jarak antar pohon akan meningkatkan resiko tanaman Jabon terkena hama dan serangan penyakit. Selain itu, kualitas pohon pun tidak akan sesehat jika kerapatan pohon berjarak minimal 3×2 m. Bahkan, jika lahan yang tersedia lebih luas, kerapatan pohon akan lebih baik jika berukuran 4 x 4 m.
Selain bisa meminimalisir serangan hama, jarak pohon yang tidak terlalu rapat tersebut bisa menghemat biaya biaya bibit, biaya lubang tanam, pupuk dan biaya operasional lainnya.
Di sisi lain, untuk mendapatkan keuntungan optimal dari penanaman kayu Jabonbukan sekedar ditentukan jumlah pohon yang ditanam per hektarnya. Sebab, dengan kerapatan yang lebih jarang, 1000 pohon bisa menghasilkan jumlah kayu sebanyak 5000 pohon. Hal ini disebabkan, pada lahan yang ditanami 1000 pohon, kondisinya jauh lebih sehat dan berkualitas daripada lahan yang ditanami 5000 pohon.
Dampaknya bisa dilihat pada nilai jual kayu. Pada lahan yang ditanami 1000 pohon, bisa menghasilkan kayu berdiameter 30-50 cm yang dikategorikan sebagai super log. Nilai jual kayu berukuran ini mencapai 1 juta per meter kubik. Sementara pada lahan yang ditanami 5000 pohon per hektar, kayu yang bisa dihasilkan maksimal hanya berukuran maksimal 20 cm. Itu pun biasanya hanya sekitar 40 – 50 persen dari keseluruhan pohon yang ditanam. Selebihnya, memiliki ukuran di bawah 20 cm. Harga untuk pohon berukuran 20 cm, tidak lebih dari 400 ribu per meter kubik. Dari perhitungan ini, bisa diperkirakan berapa nilai yang bisa didapatkan dari kedua metode penanaman tersebut mana yang lebih menguntungkan.
Oleh karena itu, disarankan kepada para petani Jabon untuk lebih bisa berpikir cerdas dalam proses mencari rejeki melalui penanaman Jabon ini. keuntungan besar bukan sekedar ditentukan dari berapa banyak bibit yang ditanam. Melainkan cara penanaman pun akan mempengaruhi besarnya pendapatan yang bisa diperoleh pada saat panen. Dan berdasar perhitungan secara ilmiah yang sudah dibuktikan di lapangan, nilai keuntungan yang bisa dihasilkan dari menanam Jabon per hektar berkisar 250-300 juta. Angka ini diasumsikan bahwa jumlah bibit yang ditanam adalah 1000 pohon. Sehingga apabila ada pedagang bibit Jabon yang menyarankan untuk memperpendek jarak penanaman antar pohon guna mendapatkan keuntungan hingga 800 juta dari satu hektar lahan, tentu hal tersebut merupakan sebuah penyesatan yang tidak perlu dipercayai.
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 13 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 14 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 14 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 14 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 15 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: