Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Daniel H.t.

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Durian Termahal di Dunia (Kegemaran Si Raja Judi, Stanley Ho) Dijual di Surabaya

REP | 08 April 2012 | 15:37 Dibaca: 5336   Komentar: 8   1

13338555371060570926

Stanley Ho (Sumber: Wikipedia)

Pada April 2010 lalu, kita sempat dibuat geleng-geleng kepala ketika membaca berita bahwa salah satu orang terkaya di Asia, Stanley Ho (Ho Hung-Sun), si Raja Judi yang berbasis di Macau dan Hongkong itu khusus mengirim pesawat jet pribadinya ke Singapura hanya demi memborong 88 buah durian Mao Shan King kegemarannya. Durian asal Malaysia itu dia beli di Toko 818 Durian Stall di Telok Kurau Road, Singapura, dengan harga total US$ 2.065, atau sekitar Rp 18 juta (kurs pada waktu itu). Atau sekitar Rp. 205.000/buah.

Tentu saja uang sejumlah demikian hanyalah merupakan uang receh baginya. Biaya transportasi oergi-ulang pesawat pesawat jet pribadi yang dikirim dari Hongkong atau Macau itu pasti jauh lebih mahal lagi daripada harga total durian yang dia beli itu.

Kenapa yang dia beli itu mesti jumlahnya 88 buah? Kemungkinan ini masih ada hubungan kepercayaannya dengan angka feng-shui.

Apakah harga duriannya memang semahal itu? Ataukah karena faktor Stanley Ho yang beli, maka harganya bisa “melewati langit” itu?

Yang pasti sepengetahuan saya, dengan harga mencapai Rp. 205.000/buah ditambah dengan biaya terbang pesawat jet pribadinya itu pergi-pulang Hongkong/Macau – Singapura itu, membuat durian Mao Shan King ini adalah durian termahal di dunia sampai saat ini.

Berita selengkapnya dapat Anda baca di sini.

Tak disangka-sangka, saya belum lama ini menemukan durian kegemaran Si Raja Judi itu, Durian Mao Shan King, tidak jauh dari kediaman saya di Surabaya. Di sebuah toko buah terbesar di Surabaya, di sebuah kawasan elit kota Surabaya, durian termahal di dunia itu dijual.

Mau tahu harganya? Durian asal Malaysia itu dijual dengan harga Rp 465.000/pak! Per pak beratnya sekitar ½ kg. Hebatnya lagi, ternyata ada yang mempunyai “nyali” untuk membelinya. Mungkin karena terpengaruh juga kliping berita tentang Stanley Ho membeli durian dengan pesawat jet pribadinya itu yang ditempel di dekat durian-durian itu diletakkan.

1333855918951804248

Durian termahal di dunia itu, Mao Shan King, ternyata bisa dibeli di Surabaya (Foto: Koleksi Pribadi)

1333856036386279951

(Foto: Koleksi pribadi)

1333856110569642872

(Foto: Koleksi pribadi)

Bagaimana rasanya? Karena saya tidak berani membelinya, maka saya tidak tahu. Tetapi apakah sudah pasti rasanya jauh lebih enak daripada durian asal Indonesia yang harganya 1/10 lebih murah? Belum tentu. Apalagi jika dibandingkan dengan durian di kota asal saya, Fakfak, Papua Barat.

Untuk diketahui kota Fakfak, selain terkenal dengan buah palanya, sehingga mendapat julukan “Kota Pala”, Fakfak juga terkenal dengan buah duriannya yang lezat-lezat. Karena jumlah yang dipanen sering melebihi kebutuhan kota Fakfak, maka harganya jauh lebih murah daripada harga durian di Pulau Jawa. Tetapi soal rasanya, pada umumnya lebih enak daripada durian-durian lokal di Jawa. Karena biasanya di Fakfak, para petaninya betul-betul menunggu duriannya jatuh sendiri dari pohonnya baru dijual. Tidak seperti kebanyakan di Jawa, yang biasanya panennya tidak menunggu sampai jatuh sendiri dari pohonnya, tetapi dipetik. Maka rasanya biasanya tidak seenak durian Fakfak. Sekarang, seringkali buah durian asal Fakfak dikirim ke kota-kota lain di Papua. Bahkan keluar Papua.

1333856171334596069

Sejumlah buah durian di pasar Fakfak (Sumber: blog.ac.id)

Seandainya Stanley Ho pernah merasakan enaknya durian Fakfak, mungkin dia akan mengirim juga pesawat jet pribadinya ke Fakfak untuk memborong duriannya. Kalau Si Raja Judi ini lebih memahami seni mengkonsumsi durian yang sesungguhnya, yakni sedapat mungkin langsung dimakan setelah jatuh dari pohonnya (tidak sampai lewat sehari), tentu dia akan khusus ke Fakfak khusus untuk makan durian yang baru jatuh di Fakfak. ***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 9 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 10 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: