Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Tri Budiarto

mahasiswa agribisnis ipb sekaligus penghuni Asrama Sylvapinus IPB selaku hubungan Luar dan Alumni. takut berfikir normal. selengkapnya

Kutulis Artikel Ini Pengiring Prof. Widjajono Partowidagdo: Pengembangan Agribisnis Biofuel di Indonesia

OPINI | 23 April 2012 | 06:11 Dibaca: 776   Komentar: 2   0

Perkembangan harga minyak bumi hingga saat ini masih menunjukan kondisi yang menghawatirkan, karena dengan terus meningkatnya harga minyak bumi, membuat banyak negara mulai menyesuaikan kebijakan penggunaan sumber energinya. Seperti yang dialami Indonesia baru-baru ini terkait perubahan APBN-P yang menuai kontroversi itu.

Saat ini harga minyak bumi menjadi perhatian seluruh masyarakat dunia, karena sejak melonjaknya harga dunia pada pertengahan tahun 2008 lalu akibat berbagai faktor antara lain adanya konflik di Irak Utara, terjadinya ketegangan Iran dan Barat karena pengembangan rektor nuklir di Iran serta berkurangnya produksi dari beberapa  produsen minyak dunia akibat kerusuhan yang terjadi di Nigeria, rusaknya fasilitas kilang minyak di Mexico akibat badai dan lain-lain.

Perkembangan harga minyak bumi ini semakin memperkuat alasan pengembangan sumber energi yang dapat diperbaharui, karena semakin terbatasnya jumlah cadangan minyak bumi di dunia, semakin mudahnya kejadian-kejadian yang terkait dengan negara produsen maupun konsumen utama, baik gejala alam, kondisi ekonomi maupun situasi politik menjadi pemicu melonjaknya harga minyak bumi.

Pengembangan energi alternatif menjadi solusi utama dalam mempersiapkan pasokan sumber energi di masa depan, meskipun jumlah cadangan minyak dunia relatif masih besar, sekitar 1,35 triliun barel, tetapi kondisi pertumbuhan industri di dunia menunjukan potensi timbulnya persaingan kebutuhan terhadap minyak bumi.

Situasi yang cukup mengkhawatirkan adalah tingginya pertumbuhan kebutuhan minyak bumi oleh Cina dan India, yang telah mencapai 3,3% dan 4%  per tahun akan menjadi pemicu melonjaknya harga minyak  pada beberapa tahun kedepan.

Potensi persaingan yang sangat ketat di masa depan untuk mendapatkan pasokan minyak bumi,  menjadi  dorongan  utama  pemerintah   Indonesia  untuk mengembangkan energi alternatif, karena saat ini selain produsen, Indonesia juga adalah importir minyak bumi yang cukup besar, sehingga situasi yang terjadi pada minyak dunia akan sangat berdampak pada harga minyak bumi di Indonesia.

Pengembangan Biofuel di Indonesia

Adanya pengurangan subsidi bahan bakar menyebabkan adanya kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat dan ketahanan pangan indonesia yang saat ini masih belum bisa diatasi dengan baik, penulis setuju jika biofuel di Indonesia terus dikembangkan. Di tengah situasi pelik ini, sumber energi alternatif yang berasal dari tumbuhan ini semakin sering dibahas dan mulai dikembangkan. Pengembangn biofuel seyogyanya dalam pola rencana jangka pendek adalah untuk mengurangi ketergantungan kita pada kondumsi sumber energi fosil. Sedangkan rencana jangka panjang adalah bagaimana bahan bakar terbarukan utamanya yang dihasilkan dari sumber-sumber berbasiskan tanaman(nabati) diarahkan sebagai substitusi atas bahan bakar yang selama ini kita gunakan secara total.

Seperti yang diketahui bersama bahwa sumber bahan pembuatan biofuel disediakan oleh produk-produk pertanian misal pada tanaman jagung, singkong, tebu, kedelai, gandum, sorgum, dan kacang-kacangan. Tanaman-tanaman ini ada yang diubah menjadi etanol dan biodiesel yang bisa digunakan sebagai sumber energi pengganti minyak bumi. Jika demikian keadaannya, akan ada dilema atas ketahanan energi dengan krisis pangan bisa jadi akan terus berlangsung, karena terjadi perebutan komoditas untuk kepentingan produksi bahan bakar dan kepentingan pangan.

Seperti di Indonesia, jumlah penduduk yang besar dan kemiskinan yang merajalela menjadi faktor pendorong utama rentannya persoalan ketahanan pangan. Akan tetapi hal ini tidak akan saling mengganggu jika industri biofuel Indonesia dikembangkan dengan skala kecil dan diikuti dengan perkembangan ketahanan pangan Indonesia yang semakin baik. Menteri ESDM sebelumnya Purnomo Yusgiantoro pun mengatakan dalam acara kuliah umum di depan mahasiswa pascasarjana Universitas Atmajaya, Yogyakarta bahwa prinsip pengembangan biofuel itu adalah memanfaatkan produk yang sudah ada tanpa menggunakan lahan hutan baru. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengembangan biofuel di Indonesia dilakukan dengan memanfaatkan lahan kritis atau lahan tidur (unused land).

Diperkirakan cadangan energi fosil Indonesia akan habis dalam jangka waktu 40 tahun kedepan dan akan terjadi krisis energi didunia sehingga dibutuhkan sumber energi alternatif. Biofuel merupakan salah satu solusi dan sumber energi alternatif. Biofuel adalah bahan bakar nabati hasil dari proses pengolahan bahan organik, yang mampu menyerap karbondioksida sebagai penyebab tingginya efek rumah kaca – bahan bakar yang ramah lingkungan. Dan sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah untuk diolah menjadi energi biofuel diantaranya: ganggang laut, kelapa sawit,  bunga matahari, jarak pagar, singkong, dan kedelai.

Pengembangan Biofuel di Indonesia Berdasarkan Pendekatan Sistem Agribisnis

Saat ini pengembangan bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan bakar fosil terus dilakukan. Kepala Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi juga menyatakan, keterbatasan salah satu bahan bakar utama  biofuel, yaitu etanol untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar menjadi kendala utama. Etanol yang tersedia, jadi rebutan dengan dengan industri lain. Etanol di Indonesia masih digunakan untuk industri alkohol atau industri lain seperti rokok dan plastik.

Demikian pula dengan bahan baku biofuel lain yaitu Crude Palm Oil (CPO), produksinya saat ini  masih lebih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku minyak goreng di dalam negeri, dibanding untuk pembuatan biodiesel.

Jarak Pagar (Jatropha) salah satu bahan baku biodiesel yang saat ini digalakan pemerintah untuk dikembangkan secara besar-besaran bagi pemenuhan kebutuhan bahan baku biodiesel. Akan tetapi dalam pengembangannya masih terkendala dengan ketersediaan bibit dan  keterbatasan lahan penanaman.

Salah satu pengembangan biofuel di Indonesia adalah seperti yang telah dilakukan BPLH Kota Bogor, mereka sudah dapat memanfaakan subsistem hilir dari komoditi kelapa sawit yaitu minyak jelantah. Ada langkah yang dipublikasikan oleh BPLH Kota Bogor yaitu menyetorkan minyak jelantah sisa penggorengan tiga kali pemakaian untuk diolah menjadi biodiesel. Minyak jelantah ini dihargai Rp 3,000/liter oleh BPLH Kota Bogor. Sebetulnya di tahun 2008, BPPT pernah menghimbau peran aktif UKM dan koperasi untuk mengumpulkan minyak jelantah ini. Hasil proses minyak jelantah menjadi biodiesel akan menjadi bahan bakar Trans Pakuan milik Pemerintah Kota Bogor. Terdapat 20 bus Trans Pakuan yang membutuhkan 43.200 liter bahan bakar per tahun. Tetapi BPLH Kota Bogor baru bisa memasok 10.000 liter hasil proses minyak jelantah untuk 10 buah bus. Sehingga yang digunakan  masih berupa campuran 20 persen biodiesel dan 80 persen solar

Current Condition Subsistem Agribisnis Biofuel di Indonesia

Kondisi yang terjadi pada subsistem agribisnis biofuel di Indonesia sebenarnya sudah mencukupi hanya beberapa hal saja yang harus dibenahi. Seperti subsistem hulu yang bisa untuk penggunaan lahan untuk pangan tidak sepenuhnya dialihkan untuk biofuel. Pada penanganan tanaman yang berpotensi dapat dijadikan biofuel yang selama ini tidak terlihat, dapat dimanfaatkan dengan sebaiknya.

Universitas yang membahas tentang pertanian dan teknologi sebisa mungkin ada penyelarasan, sehingga ada kesesuaian. Integrasi keseluruhan atas beberapa elemen dengan tujuan penggunaan biofuel: teknologi, ekonomi, peraturan, dan para pihak yang bersangkutan.

Kondisi pengembangan biofuel Indonesia saat ini dalam pola perkembangan gagasan. Kami nilai sungguh mencengangkan dan cukup pesat perkembangannya. Namun dari sisi pemasaran gagasan dan penggunaan biofuel di masyarakat masih kurang. Isu seputar biofuel bukanlah menjadi isu sentral yang memancing daya tarik sebagian besar masyarakat maupun media. Tak dapat dipungkiri bahwasanya ada implikasi alih teknologi akibat penggunaan biofuel ini, mungkin sisi inilah yang menyebabkan pengembangan biofuel tidak bergerak secara signifikan, walau sebenarnya sudah cukup banyak pengembangan dan produksi antar subsistem didalamnya.

Subsistem yang Krusial

Menurut kelompok kami, subsistem yang paling krusial untuk diperhatikan dalam pengembangan biofuel di indonesia ialah subsistem usahatani. Contohnya pada pengembangan jarak pagar untuk biofuel dalam skala kecil di masyarakat secara ekonomis belum menunjukan tingkat keuntungan yang signifikan  jika dibandingkan dengan kegiatan agribisnis umumnya tanaman hortikultura. Hal ini disebabkan harganya yang masih terlalu tinggi dibandingkan harga bahan bakar fosil sehingga berpengaruh terhadap animo masyarakat dalam mengembangkan penanaman Jarak pagar.

Hanya pada komoditas kelapa sawit yang memiliki prospek yang baik pada pengembangan subsistem usahatani. Akan tetapi, tidak lama sebelumnya subsistem usahatani kelapa sawit telah mendapat kasus tentang penanaman kelapa sawit yang merusak struktur lahan dan eksplorasi hutan tanpa izin atau menyalahgunakan izin oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Pengembangan Biofuel Kedepannya

Badan Litbang Kehutanan telah menemukan sumber energi biofuel dari biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum. L) dengan melakukan penelitian sejak tahun 2005. Penelitian tersebut dilakukan dalam rangka mendukung Kebijakan Energi Nasional. Hasil pengujian biodiesel Nyamplung oleh Badan Litbang Kehutanan menghasilkan (Masyhud 2010) : (1) seluruh parameter kualitas telah sesuai dengan kualifikasi biodiesel menurut SNI 04-7182-2006 dengan rendemen konversi asam lemak bebas (FFA) menjadi metil ester 97,8%, (2) uji kelayakan atas kinerja permesinan, biodiesel Nyamplung dapat digunakan untuk kendaraan bermotor sebesar 100%, tanpa campuran solar (B 100), (3) dari segi lingkungan, biodiesel Nyamplung bebas dari polutan (green solar).

Pengembangan tanaman Nyamplung mempunyai prospek  yang menjanjikan. Berdasarkan hasil penafsiran citra Landsat TM-7+ teridentifikasi areal lahan seluas 480.000 ha yang merupakan habitat tanaman Nyamplung dengan prakiraan areal potensial bervegetasi alami sekitar 10 %, maka terdapat areal pembinaan hutan alami sekitar 50.000 ha dan sisanya 430.000 ha dapat untuk areal hutan tanaman. Untuk pembibitan tanaman dapat berasal dari biji, cabutan anakan alami, stek daun atau kultur jaringan. Sumber dari tegakan benih terindentifikasi dan hutan alam tersedia cukup di beberapa daerah.

Gambaran umum dari karakteristik Nyamplung antara lain sebagai berikut: keberadaan hutan secara alami maupun hasil budidaya dari tanaman muda sampai tua (50 tahun) cukup baik, menunjukkan bahwa daya survival-nya cukup tinggi terhadap kondisi makro-mikro lingkungan; tersebar merata sebagai vegetasi pantai berpasir (coastal forest) hampir di seluruh pulau/kepulauan di Indonesia pada ketinggian 0-400 m dpl; jumlah anakan alami pada musim hujan banyak; berbuah  sepanjang tahun dan dapat dipanen 3 kali dalam setahun, dengan produksi biji per pohon minimal 50 kg/tahun; atau potensi produksi tiap ha antara 10 ton (jarak tanam 10 m x 5 m) sampai 20 ton/tahun (5 m x 5m); dari biji dapat dibuat biodiesel berkualitas tinggi; kayunya laku di pasar untuk bahan pembuatan kapal yang tahan terhadap biota laut dan menghasilkan banyak produk sampingan seperti briket, arang aktif dan obat-obatan; berfungsi sebagai wind breaker  dan konservasi sempadan pantai (shelter of coastal area).

Biji Nyamplung selain dapat sebagai bahan baku biodiesel, juga dapat diolah menjadi bio-karosen dengan proses yang lebih sederhana (deguming dan netralisasi), sebagai alternatif pengganti minyak tanah yang sangat bermanfaat untuk masyarakat pedesaan.

Sikap dan Pandangan terhadap Pengembangan Biofuel di Indonesia

Pada jurnal pertama dan kedua, penulis menyatakan kesetujuannya apabila di Indonesia diterapkan sistem biofuel. Adanya integrasi antara beberapa elemen seperti teknologi, ekonomi, hukum, dan pihak yang bersangkutan. Teknologi mengacu pada hasil yang masih rendah, ekonomi persaingan pasar kurang menarik, prioritas antara makanan atau untuk biofuel,serta pajak dan subsidi. Pihak yang terlibat dalam hal tersebut pun seperti produsen, konsumen, pemerintah, komunitas, pendidikan juga pasar internasional harus seimbang proporsi pemikiran untuk makanan dan biofuel (Widodo and Elita 2008). Menurut penulis pula, komoditas kelapa sawit dalam hal ini CPO masih sangat berpotensi dalam mengembangkan biofuel (Jupesta, Parayil, dan Harayama 2010).

Potensi alam dan keberagaman jenis tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia membuat Indonesia dapat mengembangkan biofuel dengan berbagai macam tanaman yang ada. Pengembangan biofuel dapat secara berkesinambungan apabila pihak-pihak yang bersangkutan dalam pengembangan dapat bias secara benar memanfaatkan juga mempergunakan sumber daya alam yang ada secara efektif dan efisien. Bukan hanya sumber daya yang sudah pernah Negara lain mengolah, tapi kita menghasilkan sendiri tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia.

Memang arah kebijakan seputar Biofuel di Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan. Terlihat Indonesia dalam pengembangannya masih terkendala dengan ketersediaan bibit dan  keterbatasan lahan penanaman. Harga jual biofuel juga yang masih terlalu tinggi dibandingkan harga bahan bakar fosil. Saat ini dan kedepannya telah dikembangkan penelitian beberapa tanaman yang dapat dijadikan biofuel dan cocok dari segala aspek untuk digunakan oleh Indonesia. Diharapkan juga, Indonesia dapat mengembangkan biofuel dan tetap memperhatikan ketahanan pangan nasional.

Daftar Pustaka

Agustian, W. 2012. Ini 15 Negara dengan Cadangan Minyak Terbesar di Dunia. [terhubung berkala]. http://economy.okezone.com. (Diakses pada tanggal 12 Maret 2012)

[Anonim]. 2009. Pengembangan Biofuel Menggunakan Lahan Kritis (Unused Land) http://www.esdm.go.id/berita/umum/37-umum/2411-pengembangan-bioenergi-gunakan-qunused-landq.html. (diakses pada tanggal 10 Maret 2012)

Jupesta, J. Govindan P. Yuko H. The Development of Biofuel in Indonesia from Diffusion and Stakeholder. Jurnal.

Hardayanto, Maria. 2011. Minyak Jelantah, Bahan Baku Biodiesel yang Diabaikan [terhubung berkala]. http://green.kompasiana.com/polusi/2011/03/30/minyak-jelantah-bahan-baku-biodiesel-yang-diabaikan/ (diakses tanggal 10 Maret 2012).

Masyhud. 2010. Litbang Kehutanan Temukan Sumber Energi Biofuel dari Biji Nyamplung [terhubung berkala]. http://www.alpensteel.com/article/60-108-energi-bio-fuel/2419–biji-nyamplung-sebagai-sumber-energi-biofuel.html (diakses tanggal 9 Maret 2012)

Widodo, T. W. Elita R. 2008. Current Status of Bioenergy Development in Indonesia. Jurnal.


Dari sebuah artikel di okezone.com

Dikutip dari sebuah artikel di www.esdm.go.id tanggal 6 April 2009

Dikutip dari sebuah artikel di www.green.kompasiana.com tanggal 3 Maret 2011

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 13 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 13 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: