Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Hendi Nukasep

Hidup hanya sekali, manfaatkanlah sebaik mungkin

Masih Layakah Kita Disebut Sebagai Negara Agraris

REP | 05 September 2012 | 03:55 Dibaca: 1827   Komentar: 20   10

134681709024284633

Sumber Gambar : dendysekeluarga.blogspot.com

Sejak SD kita sudah mengetahui  bahwa Indonesia adalah sebagai negara agraris dengan memiliki daratan yang masih luas, subur dan beriklim tropis berada di tengah zambrud khatulistiwa tapi bukan (jambul khatulistiwa). Sangat cocok sekali ditanam berbagai jenis tanaman pangan maka tak heran jika Koes Plus membuatkan lagu “ Bukan lautan hanya kolam susu itu”.

Membaca harian Kompas kemarin mengenai langkah BULOG yang  telah menandatangani kerjasama dengan lima Negara eksportir beras seperti Vietnam, Kamboja, Thailand, India dan Myanmar. Kebijakan tersebut sih sah-sah saja sebagai antisipasi kekurangan, tapi untuk jangka panjang apakah harus terus melakukan impor berbagai komoditi dengan bea masuk rendah?

Kalau melihat kondisi seperti sekarang ini sepertinya julukan Indonesia sebagai Negara agraris patut dipertanyakan. Katanya, Indonesia adalah negara agraris, tapi sekarang sepertinya nasib petani membuat miris, lahan pertanian pun semain terkikis, lama kelamaan menjadi habis, dan bisa-bisa menjadi krisis pangan seperti yang telah diperingatkan oleh Bank Dunia.

Berdasarkan data BPS mencatat, Indonesia mengimpor sedikitnya 28 komoditi pangan mulai dari beras, jagung, kedelai, gandum,terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur,kelapa, kelapa sawit, lada, teh,kopi, cengkeh, kakao, cabai segar dingin, cabai kering tumbuk, cabai awet, tembakau dan bahkan singkong alias ubi kayu juga diimpor.

Kalau di era orde baru kita banga bisa sukses berswasembada pangan karena perhatian pemerintah pada saat itu  benar-benar fokus pada sektor pertanian. Masih ingat acara KELOMPENCAPIR di TVRI dimana Pak Harto sering berinteraksi dengan para petani di desa. Namun sekarang Indonesia sebagai Negara agraris yang paling hobi mengimpor berbagai produk pangan.

Kenapa bisa terjadi seperti sekarang ini, ada beberapa faktor diantarnya  para petani yang mengeluhkan kalau biaya untuk bercocok tanam dengan hasil yang di panen tidak sebanding, bahkan bisa terus  merugi sehingga mereka cenderung lebih memilih opsi menjual lahannya  dengan harga menurut mereka menguntungkan  namun untuk jangka panjang justeru berpengaruh terhadap siklus perkembangan dan kehidupannya. Daripada menjadi seorang petani tapi terus hidup susah mending jual saja tanahnya. Terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi daerah sentra industri atau pemukiman bukan peristiwa yang aneh, di daerahku banyak juga contoh seperti ini.

Masalah ketahanan pangan sudah menjadi masalah buat kita semua, bukan hanya para petani dan pemerintah saja yang harus berperan, tapi kita pun harus turut serta berkontribusi menjaga produk-produk pangan dalam negeri supaya bisa tetap eksis. Dengan membeli produk lokal meskipun  mahalan sedikit ya enggak apa hitung-hitung membantu kehidupan para petani kita, lagian masalah kwalitas produk dalam negeri rasanya sih menurutku lebih bagus di bandingkan dengan produk impor.

Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/04/20500568/Stok.Beras.Menipis..Bulog.Impor.dari.5.Negara

http://www.bisnis.com/articles/ketahanan-pangan-awas-krisis-pangan-mengintai-dunia

Nukasep3rut

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 8 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 9 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: