Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Kayu Syetan Asal Kalimantan

HL | 16 September 2012 | 05:41 Dibaca: 19088   Komentar: 36   18

1347730761717483860

Picture from : indonetwork.co.id

Ketika berbicara kekayaan alam hasil bumi Kalimantan tentu tidak akan ada habisnya. Mulai dari batu bara, emas, minyak bumi dan lain sebagainya. Dari hutan jelas dihasilkan kayu sebagai komoditas utama. Bicara tentang jelas kayu banyak sekali jenisnya. Kebanyakan yang paling dikenal oleh masyarakat umum adalah kayu ulin, meranti, kapur, bengkirai, dan lembasung.

Namun ada satu lagi yang paling populer disini, tempat dimana saya tinggal ( Tanjung Selor Kab. Bulungan Kalimantan Timur ). Kayu itu adalah Kayu Gaharu. Kebanyakan orang menyebut kayu gaharu adalah kayu setan. Karena mengapa ?, alasan utama karena tidak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Diperlukan keberanian, tenaga, kerja keras dan hal yang paling utama adalah keberuntungan.

Pencari atau pekerja kayu gaharu rata-rata orang yang memiliki nyali besar. Tidur ditengah hutan sampai 2 atau 3 bulan setelah mendapatkan apa yang dicari baru turun gunung. Bahkan tidak sedikit diantara para pekerja gaharu yang kembali dengan tangan kosong. Rata-rata pekerja gaharu yang datang di daerah kami adalah orang Ngawi Jawa Timur, orang Lombok Nusa Tenggara Barat juga ada sebagian kecil penduduk lokal sendiri.

13477303261674869294

Photo from : Riawan Djack Upload in Kompas Citizen Images

Kayu gaharu tidak serta merta dicari pohonnya, di tebang lalu dibawa pulang begitu saja. Namun yang diambil adalah bagian tengah kayu tersebut yang sudah berserat dan berwana kehitam-hitaman ( Hati kayu atau Galih kayu ). Disinilah letak keanehan tersebut. Karena tidak semua kayu gaharu memiliki galih seperti yang dicari. Dari cerita salah satu pekerja gaharu yang saya kenal. Banyak diantara mereka yang menebang pohon gaharu namun tidak menemukan galih kayunya padahal pohon tersebut sudah berdiameter diatas 1 M lebih. Contoh keanehan yang lain, satu tempat sudah disisir oleh orang namun tidak di temukan pohon gaharu. Kemudian datang orang kedua mencari bisa mendapatkan banyak galih kayu gaharu di tempat yang sama. Mungkin semua ini sedikit naif, namun fakta membuktikan walau itu diluar batas pemikiran kita.

Pertanyaannya sekarang, mengapa kayu gaharu banyak dicari orang ?

Jawabannya sangatlah mudah, karena kayu tersebut berharga sangat mahal. Harga tergantung dari kualitas kayu tersebut, paling rendah per kilogramnya dibeli oleh tengkulak sebesar 15 – 20 juta rupiah. Sedangkan yang berkualitas super ( King ) harga per kilogramnya bisa mencapai 2 5 - 35 juta rupiah. Cukup besar bukan ?, apakah anda tertarik ? Silahkan mencoba.

Ciri khas kayu gaharu adalah berbau harum atau wangi jika dibakar, sedangkan kegunaannya bervariasi. Pada umunya digunakan sebagai bahan baku pembuatan dupa, parfum, obat-obatan, kosmetik, bahan pengawet serta difungsikan untuk kegiatan religius. Kayu gaharu banyak di ekspor keberbagai negara di luar negeri seperti Singapura, Cina, Korea, Jepang, Saudi Arabia, Yaman, dan Oman. Dinegara maju seperti Amerika dan beberapa negara-negara eropa. Kayu gaharu digunakan untuk penghilang stres, sakit ginjal, pembekakan kanker dan limfa, penyakit asma serta hepatitis.

Lalu apa yang terjadi dinegara kita. Indonesia hanya mampu sebagai negara pengekspor bahan mentah. Setelah jadi produk tertentu dan diberi label merk ternama. Baru kita membeli lagi dengan harga yang berbeda dan yang paling ironis lagi, ada tulisan terpampang dengan jelas “ Made In USA “.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: