Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Agung Triatmoko

Harap maklum. Kalau bahasaku buruk, itu karena aku hanya seorang bakul jagung dan sapulidi, terakhir selengkapnya

Kenapa jual Gaplek?

OPINI | 21 September 2012 | 03:48 Dibaca: 3260   Komentar: 8   0

Menurut kebiasaan, setiap 1 kg. gaplek dihasilkan oleh 2,5 kg. singkong basah, kalau panen singkong anda dihargai Rp. 600,- oleh kapitalis curang, ditambah biaya operasional menjadikan gaplek sekitar Rp. 500,-, maka nilai singkong anda jadi Rp. 2.000,- dalam bentuk gaplek. Padahal kalau anda jual dalam bentuk gaplek, akan diterima dengan harga maksimal Rp. 2.500,-, itu pun kalau nggak di potong-potong lagi. Memang masih ada untung jika kita menjualnya dalam bentuk gaplek, tapi tentu tidak semua petani memiliki kemampuan untuk membuat gaplek sesuai kriteria yang di tetapkan untuk harga tersebut.

13481556361608921500

Menghitung manfaat yang diterima petani dari menanam singkong, hanya akan meninggalkan handuk yang basah oleh air mata. Bahasan ini sebaiknya dimulai dari kenapa aku menggunakan istilah kapitalis curang. Di suatu daerah, sebuah perusahaan penampung singkong menetapkan harga beli ke petani sebesar Rp. 1.350,-, ketika beberapa petani bergabung untuk mempercayakan seseorang diantara mereka berangkat menempuh jarak hampir 60 km. untuk menjual hasil panen singkongnya, harapan mereka tentu akan menerima sejumlah uang hasil panen yang cukup memadai (untuk ukuran petani), tapi nyatanya setelah sampai di tempat penjualan, harga singkong yang Rp. 1.350,- itu masih harus dikenakan potongan-potongan sampai akhirnya hanya tinggal Rp. 600,- per kg. yang di terima petani. Hebaaaatttt……………!!!!

Kejadian tersebut tidak hanya dialami oleh komoditi singkong, tapi hampir di semua komoditi pertanian. Lain kali saja aku tulis yang dialami komoditi lain, sekarang aku bahas singkong aja dulu. Yang jadi pertanyaan sekarang, berapa gaplek laku di pasaran atas? lantas kemana saja gaplek itu di jual?.

Menurut sumber yang bisa dipercaya, gaplek kalau di ekspor ke China atau Korea bisa laku hingga Rp. 2.900,-, woooouuwww…. keren..!!! kenapa petani yang “nekat” memproses singkong menjadi gaplek cuma kebagian harga maksimal Rp. 2.500? bahkan kalau mau di hitung lebih njelimet, harga jual bersihnya cuma Rp. 2.300,-, karena harga Rp. 2.500,- belum kepotong ongkos kirim, ongkos kuli dan rafaksi.

Teknologi Aminofert (http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/09/19/lowongan-pekerjaan/), mencoba membuat solusinya dengan peningkatan hasil produksi, yang biasanya perhektar hanya menghasilkan antara 20-30 ton, dengan teknologi tersebut meningkat hingga 50-80 ton per hektar.

Peningkatan kuantitas panen sebetulnya sudah cukup dapat menutup kerugian-kerugian petani singkong, tapi ya itu? biasanya nantinya pasar akan bergolak sedemikian rupa hingga posisi petani akan kembali seperti ketika hanya mampu panen 20-30 ton per hektar, dan selalu akan seperti itu, dan selalu “hukum” ekonomi tentang demand & supply jadi alasan paling dibanggakan. Sialan bener tuh hukum..!!!

—–

Beberapa waktu yang lalu, aku diminta oleh seorang eksportir untuk menjual gaplek, aku bilang, “Sepertinya kami akan memproses gaplek kami menjadi tepung, kalau anda mau beli produk kami, belilah dalam bentuk tepung”, dan mereka cuma mencibir saja.

Aku mulai coba meraba lebih lebar lagi permasalahan ini. Dalam pemikiran sederhana dari orang segoblog aku ini, aku bayangkan, kalau Indonesia nggak mau jual gaplek ke asing, matilah banyak perusahaan di China dan Korea yang berbahan baku gaplek. Nah, untuk mencegah itu, tentu para agen mereka di Indonesia akan mati-matian menekan harga singkong basah, sedikit memberi keuntungan di penjualan gaplek, tapi menghancurkan industri-industri kecil pengolah tepung singkong. Anehnya, yang aku pikirkanitu sudah benar-benar terjadi.

Hadeeeeehhhh…… jadi pusing, gimana ya solusinya?

———

Kelak, jika teknologi Aminofert ini berkembang, alangkah idealnya kalau :

  1. Pemerintah mengurangi secara besar-besaran, import tepung terigu
  2. Pemerintah mendorong pembangunan pabrik-pabrik pembuat tepung singkong dan mocaf (pengganti tepung terigu)
  3. Gaplek dilarang untuk di ekspor.

Kalau anda ingin jelas lagi, mengapa singkong sangat menarik, silahkan nyari tahu ke mbah Google.

Tags: singkong

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: