Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Bude Binda

Langkah kecil kita mengubah dunia. Berpuisi di Http://jendelakatatiti.wordpress.com.

Tempe Kara Pedang dan Pisang Masya Allah di Banjarnegara Agro Ekspo

REP | 21 October 2012 | 21:24 Dibaca: 358   Komentar: 2   1

Oleh Bude Binda

Hari Jumat tak sengaja saya lewat alun-alun mau menengok rumah di Selamanik. Lho kok utara alun-alun ramai? Ada pameran! Motor pun terhenti, saya dan suami turun dan mulai menyusuri stan demi stan pameran. Ternyata pameran pertanian yang bertajuk “Banjarnegara Agro Ekspo”.

Setiap kecamatan memamerkan hasil pertanian mau pun olahan hasil pertanian unggulan. Sigaluh memamerkan sayuran organik dari para petani di Bojanegara yang menanam sayur di polybag di halaman dan  pekarangan rumah. Madukara menyajikan salak kualitas ekspor yang sudah bersertifikat. Ada pula nasi jagung instan dan tiwul instan dari kecamatan Pagedongan.  Ada pula pisang Raja Lawe atau kadang disebut pisang Masya Allah karena masya Allah  pisangnya besar-besar dna tandannya panjang dan banyak sisirnya. Pisang ini dipamerkan di kecamatan Banjarmangu dan di dinas pertanian.

Selain stan kecamatan ada juga stan dari dinas terkait. Yang menarik dari dinas ketahanan pangan yang memamerkan pangan lokal sebagai alternatif  makanan pokok selain nasi beras. Ada uwi ular yang panjang meliuk seperti ular, suweg atau iles-iles, keladi, ganyong dll. Sayang tak tersedia bibit tanaman-tanaman tersebut. Saya yakin andai disediakan bibit banyak pengunjung yang tertarik untuk membeli dan membudidayakan tanaman pangan lokal non beras.

Pameran ini berlangsung sejak Jumat  19 Oktober sampai Minggu 21 Oktober 2012. Saya yang hari Jumat sudah membeli tempe terbuat dari kara pedang di salah satu stan kecamatan dan bayar uang muka Rp5000 untuk bibit jeruk purut kembali ke arena pameran. Arena yang ada di Jalan Dipayuda, depan SMPN 1 Banjarnegara sampai depan kantor KPUD Banjarnegara.

Saya pun datang lagi ditemani suami, dan tentu tergoda dengan beberapa barang di pameran. Di stan kecamatan Pagentan saya beli busil/keladi. Satu kg dihargai Rp1.500. Murah meriah, beli juga opak satu bungkus kecil Rp3.000, ditambah  rengginang yang terbuat dari ketela pohon/ubi kayu satu bungkus Rp4.000. Uang sepuluh ribu rupiah dapat tiga macam, busil, opak, dan rengginang ketela.

Di stan kecamatan Banjarnegara saya pun mengambil  bibit jerut purut dan membayar  kekurangannya Rp10.000. Harganya Rp15.000. Sedang di stan HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Banjarnegara saya tertarik dengan bibit jeruk keprok yang harganya juga lima belas ribu. Setelah trasanksi saya is eng bertanya “Pak,  kantor HKTI di mana?”. “Di BPP Bu. Di Argasoka”. “Ketuanya masih Pak Tejo?” “Masih, saya sekretarisnya”. “Nama Bapak siapa?”. “Saya Harjo”. “O, Pak Harjo yang dulu Pak Wakil Bupati, putranya Pak Jirno? Maaf Pak saya pangling”. Saya pun mengulurkan tangan bersalaman dengan Pak Harjo wakil bupati periode lalu berpasangan dengan pak Jasri. Pak Jirno mantan Bupati Banjarnegara yang sangat dihormati.

Surprise juga jumpa Pak Harjo. Ketika saya melintas di stan Sigaluh untuk kembali membeli bibit pepaya California ada kejutan lagi……Pak Hadi Supeno wakil bupati juga sedang masuk ke stan itu. “Pak Peno”. Saya menyapa beliau dan berjabat tangan. Bahkan saya sempatkan bertanya “Pak saya ingin wawancara dengan Bapak boleh?” “Silakan datang saja, wawancara tentang apa?” “Yah tentang apa saja Pak, terutama tentang Adipura, saya gemas lihat Banjar tak bersih seperti dulu”. “Saya boleh datang pagi-pagi ke rumah dinas Bapak?” “Silakan datang”. Alhamdulillah  keinginan lama saya untuk wawancara dengan beliau  sudah mendapat titik terang, satu langkah sudah terayun.

Pak Peno ke stan sebelahnya, masuk juga Pak Tejo, Bupati Bnajarnegara ke stan Sigaluh. Penjaga stan menawari pot berisi tanaman lombok atau cabai rawit yang tengah rimbun berbuah.

Hari ini kedua pejabat tinggi di Banjarnegara itu membuka acara kontes ternak di alun-alun sekaligus menutup pameran “Banjarnegara Agro Ekspo”. Semoga even yang baik ini berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Saya ke stan yang menjual tempe kara pedang dan membeli lagi 10 buah. Satu bungkus tempe kara harganya dua ratus rupiah. Kara pedang ini tanaman alternatif pengganti kedelai sebagai pembuat tempe. Kara pedang dapat tumbuh di pekarangan atau kebun. Rasa tempenya tak kalah dnegan tempe kedelai, bahkan lebih empuk.

Di ujung ada stan yang menjual tanaman bunga mawar, saya pun memilih tiga warna merah, merah jambu, dan kuning. Sayang harganya mahal, tiga tanaman dua puluh ribu.

Saya dapat beberapa bibit tanaman, rambutan binjai, jerut purut, jeruk keprok, pepaya, mawar. Dapat juga busil, opak, rengginang, tempe kara. Hemmm lamayan bisa berbelanja, dapat pengetahuan tentang pertanian dan  refreshing. Jumpa pula dengan Pak Harjo,Pak Peno, dan Pak Tejo, orang penting di Banjarnegara. Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: