Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Ayu Gina Utari

senang menulis, sekalipun tak tahu akan jadi apa tulisannya, memerlukan banyak sekali masukan dan kritik. selengkapnya

kenaikan harga daging sapi= ???

OPINI | 24 November 2012 | 23:25 Dibaca: 415   Komentar: 0   1

beberapa hari kemarin, saya membaca di halaman depan koran kompas harga daging sapi melonjak hingga 150.000 rupiah. hingga hari selanjutnya topik tersebut masih bertahan di dalam harian ini. tidak banyak yang saya baca mengenai topik ini, meski mungkin semestinya sebagai mahasiswa fakultas peternakan sayalah yang harus lebih up to date mengenai fakta ini. karena yang saya baca hanyalah sepintas, maka yang saya pahami waktu itu adalah kalimat-kalimat seperti ini:

“pemerintah kita kurang tanggap terhadap permasalahan rakyatnya”

“terjadi masalah dalam ketahanan pangan di negeri ini…”

dan seterusnya, yang seperti itulah yang saya pahami, entah pemahaman benar atau hanya representasi saya belaka.

kemudian, di hari jumat ba’da dzuhur saya kuliah Ilmu Makanan dan Nutrisi Ruminansia. dan dikarenakan kuliah itu adalah kuliah pendalaman dimana satu kelas berisi kurang lebih 60 orang anak yang seluruhnya mengulang, maka bapak dosen tidak memulai kuliah dengan kontrak pembelajaran, pendahuluan, kuliah, atau yang sejenisnya, namun beliau membahas apa saja motivasi kami mengulang mata kuliah; apa yang beliau ceritakan adalah bagaimana agar kami tidak menjadi mahasiswa yang hanya mengejar nilai semata, namun pengetahuan ditinggalkan.

berikutnya beliau memulai kuliah dengan membahas penelitiannya yang meggunakan materi ternak kerbau. sebelumnya, tiba-tiba bapak membahas kenaikan harga daging sapi. beliau bercerita kalau bebrapa hari yang lalu beliau mendapat telepon dari wartawan surat kabar yang menanyakan pendapatnya mengenai kenaikan harga daging sapi yang sangat drastis.

sesaat saya berpikir bahwa kalimat yang akan dilontarkan kepada wartawan itu, akan sama dengan ekpektasi saya yang saya dapat dari membaca koran dan ngobrol dengan teman-teman.

namun beliau mematahkan dengan segera pikiran-pikiran saya:

“kalau menurut saya ya itu bagus…”

“selama ini peternak seringkali merasa rugi karena harga jual ternaknya lebih rendah dibanding biaya pemeliharaannya…” tambahnya.

kemudian beliau menambahkan lagi :

“lagipula kenapa kita harus ikut repot sih? memangnya seberapa sering kalian makan daging sapi? apa kalian tiap hari makan daging sapi?”

sontak saya terhenyak.

“saat harga daging masih 80.000 saja, memang siapa yang beli? apa kalian masih rutin membeli daging sapi? saya saja makan daging sapi paling kalau beli bakso…”

kemudian saya merefresh ulang pikiran saya. “lho?! kenapa ya? dipikir-pikir lagi bapak ada benarnya juga, lagipula bagi kami masyarakat menengah ke bawah, sebegitu urgenkah harga daging sapi? yang tersentuh baunya saja paling hanya setahun sekali : Idul Adha saja, ngapain repot dipikirkan?

mungkin untuk sebagian ini adalah penting. tapi untuk sebagian masyarakat negeri ini yang makan daging saja entah berapa bulan sekali, saya lagi-lagi hanya bisa diam. kemudian teman saya nyeletuk

“kalo harga telor naik jadi 40.000 rupiah, baru ntar kita heboh…” katanya.

saat itu, tak ada yang bertanya kepada beliau mengenai penjelasan lebih lanjut kenapa beliau berkata seperti itu. mungkin mahasiswa tingkat akhir ini lebih banyak yang sibuk memikirkan penelitian untuk menjadi sarjana peternakan ketimbang memikirkan harga daging, yang dagingnya sendiri entah kapan mereka temui. atau mungkin ada yang ingin membantah, tapi tak berani?

entahlah. tapi bagi saya, argumen beliau cukup masuk akal dan mewakili kalangan kami. mengapa kita harus ikut sibuk memikirkan hal yang sebiasanya pun tak kami gubris karena itu bukan konsumsi utama kami?.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 3 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Filosofi Kodok …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Mirip Penyambutan Raja yang Dicintai …

Dr. Nugroho, Msi Sb... | 7 jam lalu

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami …

Nelvianti Virgo | 7 jam lalu

Fenomena Rokok pada Anak Usia Dini …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: