Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Herry B Sancoko

Hidup tak lebih dari kumpulan pengalaman-pengalaman yang membuat kita seperti kita saat ini. Yuk, kita selengkapnya

Diversifikasi Makanan Pokok

REP | 18 December 2012 | 07:14 Dibaca: 799   Komentar: 4   0

Sebagian besar rakyat Indonesia makanan utamanya beras.  Tidak heran kita selama ini masih mengimpor karena produk dalam negeri kurang mencukupi.  Sementara lahan untuk menanam beras makin sempit.  Padi adalah sejenis tanaman yang perlu banyak tenaga untuk merawatnya.  Belum lagi jumlah air yang dibutuhkan.

Sudah saat kita mencoba melakukan variasi atas makanan pokok kita. Selain beras, kita bisa variasi dengan jagung, ketela, kentang atau mie.  Sepertinya roti-rotian belum banyak penggemarnya.

Di Indonesia, makanan pengganti beras amat banyak. Yang paling mudah ditanam dan dibudi-dayakan adalah singkong baik singkong rambat atau singkong kaspe.  Di daerah pesisir selatan pulau Jawa sudah ada masyarakat yang dulu makanan utamanya adalah gaplek yang terbuat dari singkong. Singkong kaspe memang amat fleksibel.  Jenis makanan yang terbuat dari singkong amat beraneka.  Misalnya: thiwul, gaplek, gethuk, keripik dan berbagai makan kecil lain.

Makanan dari singkong saat ini sepertinya mulai populer.  Jenis makanan sepertinya sudah tidak begitu lagi diasosiasikan dengan kelas ekonomi masyarakat yang dulunya menganggap hanya masyarakat kelas rendah dan tidak bisa beli beras saja yang mengkonsumsi.  Makanan tradisional kini mulai disukai.

1355789434219328340

Ketela rambat yang dijual di supermarket Sydney, Australia. (Foto dokumentasi pribadi)

Di Australia, singkong rambat sudah mulai memasyarakat dan bahkan menjadi menu makanan di hotel berbintang.  Produk singkong dan produk pertanian lain banyak didatangkan dari Thailand atau Vietnam.  Jarang ditemui produk pertanian dari Indonesia.  Produk dari Indonesia yang cukup populer di Australia adalah indomie.

Indonesia hingga saat ini telah melakukan impor atas 28 komoditi pangan yakni beras, jagung, kedelai, gandum, terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur, kelapa, kelapa sawit, lada, teh, kopi, cengkeh, kakao dan cabai.  Impor pangan Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2011 mencapai 5,36 miliar dolar AS.

Menurut anggota DPR Komisi IV, Ma`mur Hasanuddin, menilai total nilai impor pangan Indonesia masih akan terus merangkak naik jika sumber munculnya kebijakan impor tidak diatasi.  (http://www.antaranews.com/berita/272479/anggota-dpr-minta-persoalan-impor-pangan-diselesaikan)

Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Program dan Kerjasama-Komite Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Lena Prawira memperkirakan, dari berbagai produk pangan yang diproduksi di tanah air, sebesar 80 persen bahan bakunya merupakan produk impor.  Jika saja bahan baku pangan ini bisa diproduksi dan diperoleh dari dalam negeri, harga produk pangan di Indonesia bisa turun sampai kisaran 10-20 persen.

Jumlah penduduk Indonesia makin bertambah, jika masalah pangan ini tidak segera diantisipasi, tidak mustahil kita bakal jadi negara yang punya penduduk terkena busung lapar.  Langkah-langkah negara lain yang mulai mengantisipasi masalah pangan untuk masa dekade mendatang perlu diikuti.  Bahkan beberapa negara sudah mengantisipasi langkah-langkah bila bibit bahan makanan punah karena bencana alam besar-besaran.

Kita selama ini terlalu mengandalkan alam Indonesia yang subur dan tidak merasa kuatir akan kekurangan pangan.  Ketergantungan kita pada beras sebagai makanan pokok harus mulai didiversifikasi.  Luas 12 juta hektar dengan jumlah petani yang 14 juta itu tidak cukup. Kalo tingkat laju pertumbuhan penduduk kita tidak bisa ditekan, maka  15 – 20 tahun mendatang kita akan rawan pangan.  Pembukaan lahan sawah baru tidak setingkat dengan bertambahnya jumlah penduduk pengkonsumsi beras.*** (HBS)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Bertualang dalam Lukisan Affandi …

Yasmin Shabrina | | 25 October 2014 | 07:50

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | 6 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 10 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Cara Efektif Menghafal …

Masykur | 7 jam lalu

Sembilu Cinta …

Christian Kelvianto | 7 jam lalu

Pembunuhan Karakter Keprofesian Industri …

Vendy Hendrawan | 7 jam lalu

Seorang Perempuan di Pemakaman …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Gayatri Si Anak Ajaib Yang Terbang Ke Negeri …

Birgaldo Sinaga | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: