Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Junaedi Jun

Lahir dan tumbuh di Wonosalam, kawasan pertanian-perkebunan dataran tinggi di Jombang bagian selatan. Sementara ini selengkapnya

Bawang Merah Bawang Putih, Kisah Klasik Ekonomi Indonesia

HL | 13 March 2013 | 10:19 Dibaca: 1123   Komentar: 0   2

13631445571472978123

Sumber: regional.kompas.com

BAWANG merah dan bawang putih, ini adalah kisah legendaris yang mungkin pernah kita dengar waktu sekolah dasar dulu. Sementara dijaman serba elektronik seperti saat ini, kisah ini juga masih tetap eksis dalam bentuk tayangan sinema elektronik. Namun yang terkini, lebih heboh lagi, bawang merah dan bawang putih menjadi pemberitaan banyak media dan menjadi trending topic dalam perbincangan sehari-hari, baik oleh politikus maupun pejabat dan terutama ibu-ibu, sama persis ketika mereka membincang tentang alur cerita sinetron bawang merah bawang putih yang hampir setiap hari disuguhkan televisi.

Kehebohan terjadi harga bawang merah dan bawang putih melejit tak terkendali. Harganya sangat fantastik, untuk bawang putih di beberapa daerah telah menembus angka 100.000,- rupiah per kilogram. Pada ketika harga pada kisaran 60.000,- rupiah per kilogram saja banyak orang yang sudah menjerit. Demikian juga untuk harga bawang merah, meskipun lebih murah daripada bawang putih, namun harganya juga ikut-ikutan melejit mengiringi harga bawang putih.

Kenaikan harga bawang merah dan bawang putih ini ditengarai karena musim panen raya yang belum datang dan/atau juga karena banyaknya petani yang mengalami kegagalan panen. Disamping itu, seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, ada yang menyebutkan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh permainan harga yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Siapa orang-orang yang tidak bertanggungjawab ini? Tentu saja mereka-mereka yang memiliki uang, barang dan gudang karena mereka bisa mengendalikan jumlah komoditas ini di pasaran dengan cara menimbun di gudang.

Kondisi seperti ini tentu saja menyebabkan masyarakat, terutama ibu-ibu yang setiap hari bersinggungan dengan dua komoditas ini semakin keras menjerit. Entah bagaimana caranya, yang pasti mereka harus merevisi Anggaran Pendapatan Belanja Rumah Tangga (APBRT). Jika pendapatan tetap, mau tak mau masyarakat akan mengurangi jumlah yang dikonsumsi atau membuat alokasi dan skala prioritas baru untuk barang-barang yang akan dibeli.

Mendorong Inflasi

Secara ekonomi, dampak dari kenaikan harga bawang merah dan bawang putih ini biasanya akan diikuti oleh kenaikan harga “saudaranya” semacam cabai, tomat dan sebagainya. Inilah yang bisa menimbulkan terjadinya gejolak ekonomi atau inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri telah merilis inflasi yang terjadi pada bulan Februari lalu yaitu sebesar 0,75 persen akibat dari kenaikan harga beberapa komoditas. Salah satunya adalah kenaikan harga untuk komoditas bawang putih, yaitu memberikan andil sebesar 16 persen terhadap inflasi. Perubahan harganya mencapai 30,25 persen, dan bahkan di beberapa kota angkanya mencapai sekitar 60 persen, sementara di tingkat pengecer atau penjual sayur keliling bisa berlipat-lipat lagi.

Masih menurut data BPS, komoditas lain yang mengalami kenaikan yaitu bawang merah dimana harganya rata-rata mengalami kenaikan 14,11 persen. Kenaikan bawang merah ini juga memberikan kontribusi terjadinya inflasi di bulan Februari lalu yaitu sebesar 9,33 persen.

BPS sendiri menengarai terjadinya hal seperti ini karena adanya keterbatasan pasokan di pasar dan masih dibatasinya impor. Adanya kebijakan pemerintah yaitu pembatasan produk holtikultura yang masuk ke Indonesia menyebabkan sejumlah komoditas menjadi langka, termasuk bawang merah dan bawang putih ini. Disamping itu, pengenaan pajak dan biaya transportasi juga sangat mahal menyebabkan importir berpikir ulang jika akan mendatangkan barang.

Menabung Bawang

Sekali lagi kenaikan harga bawang merah dan putih ini membawa dampak yang serius terhadap konsumen/masyarakat luas. Untuk mengantisipasinya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh keseriusan semua terutama dalam kebijakan produksi pertanian komoditas semacam ini. Memang untuk komoditas pertanian semacam ini seringkali terjadi dilema. Disaat terjadi kelangkaan seperti ini harganya bisa melambung sangat fantastis. Namun disaat panen raya harganya bisa terjun bebas, sementara permintaan konsumen cenderung stabil, nyaris tak ada peningkatan.

Pemecahan yang terbaik memang kita harus mampu memproduksi sendiri. Entah melalui berbagai kebijakan dan stimulus pemerintah untuk mendorong masyarakat tani menaman komoditas ini. Atau bisa juga bagi konsumen rumah tangga di pedesaan yang tingkat konsumsinya tak terkalu banyak, namun secara reguler dan terus menerus, secara individu menanam sendiri, meski dengan skala kecil dan memang untuk dikonsumsi sendiri.

Kita bisa belajar dari orang-orang (desa) terdahulu, yaitu dengan “menabung” bawang. Dengan kata lain mereka seringkali ketika panen raya dan harganya relatif murah membeli dalam jumlah besar untuk komoitas bawang merah dan bawang putih. Kemudian mereka menyimpannya di dekat atau di atas tungku masak (para-para) sehingga tiap hari selalu terkena asap. Akibatnya bawang merah dan bawang putih lebih tahan lama karena tak terserang ulat busuk ataupun sejenis ngengat, sehingga cukup untuk menghadapi masa paceklik atau masa menunggu panen berikutnya.

Di samping itu, biasanya mereka juga menanam bawang merah dan bawang putih, juga beberapa tanaman bumbu dapur lainnya dalam skala kecil. Kadang di lahan pekarangan kadang juga di dalam pot-pot yang sekaligus sebagai hiasan. Bibit-bitnya diperoleh secara sederhanan dengan mentisihkan atau menyisakan ketika memasak. Mungkin ini terlalu kecil dan sedikit merepotkan, tetapi tak ada salahnya model atau semangat mereka kita kembangkan lagi. Dari pada kita dibuat repot oleh kelangkaan dan mahalnya harga seperti saat ini, sepertinya lebih baik kita sedikit repot menanam sendiri, dan jangan sampai menjadi kisah klasik ekonomi Indonesia yang terus berulang terjadi!

Tulisan terkait:

Menyoal Ke(tidak)tahanan Pangan Kita
Pekarangan, Lumbung Pangan Kita
Reinkarnasi Lumbung Desa, Mungkinkah?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 6 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: