Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Harga Kedelai Naik Turun, Bagaimana Nasib Petani Kedelai Jawa Timur?

REP | 08 July 2013 | 09:19 Dibaca: 152   Komentar: 0   0

Jawa Timur adalah penghasil kedelai terbesar di Indonesia. Pada tahun 2007 Jawa Timur mampu menghasilkan ± 42,5 % produksi nasional. Pada tahun 2011, Provinsi ini mampu memproduksi 366.999 ton kedelai dari 851.286 ton, disusul oleh NTB mencapai 88.099 ton.

Dengan melihat data tersebut maka Jawa Timur haruslah mendapat satu perhatian khusus untuk mendukung perkembangan atau setidaknya bertahan sebagai petani kedelai terbesar di Indonesia. Secara agregat produksi kedelai Indonesia masih belum mencukupi, terlihat dari adanya impor yang dilakukan pemerintah dalam menanggulangi kekurangan tersebut.

Kesiapan produksi dalam negeri sebenarnya masih kurang jika melihat harga pasar yang terus naik turun. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar dalam negeri terus terjadi, apalagi adanya lonjakan permintaan sesaat.

Secara umum, kenaikan harga kedelai juga sangat berpotensi mendorong laju inflasi tahun ini. Sejak tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan potensi inflasi tinggi 6,96 persen, melampaui target pemerintah 5,3 persen. Tentu saja inflasi yang tinggi akan menyebabkan perekonomian nasional cukup terganggu pertumbuhannya.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang tepat diperlukan dalam mendukung bidang pertanian tersebut dan dapat membantu petani dalam eksistensinya di pasar nasional. Bentuk pengkajian mengenai seberapa efektif kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini, terkait dengan sistem pertanian tanaman kedelai Provinsi Jawa Timur dan mencari alternatif skenario kebijakan yang diharap cukup efektif dalam usaha peningkatan perolehan pertanian tanaman kedelai di Jawa Timur ini dapat didukung dengan pendekatan Sistem Dynamics dimana akan mempelajari sebagian dari sistem keseluruhan, namun hal ini bukan berarti mengabaikan sistem amatan dengan lingkungan serta variabel-variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan dalam sistem amatan akan menjadi batasan dalam analisis System Dinamics sehingga menjadikan sistem amatan menjadi sistem yang tertutup.Hal ini akan mempermudah dalam mencari skenario kebijakan yang cukup efektif dalam mengantisipasi dinamisasi harga nasional.

Hasilnya, terdapat 2 skenario terbaik yang bisa digunakan, yang pertama yaitu perluasan areal lahan tanam dan kedua yaitu peningkatan produktivitas melalui sarana produksi (saprodi) dan teknologi. dari 2 hal ini dapat menunjang kepercayaan diri petani kedelai agar tidak berpindah alih untuk menanam palawija lain. kalau petani kedelai saja pindah ke palawija lain, tidak lama lagi tahu, tempe bakal hilang dari pasar. Mau?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 8 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 9 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 10 jam lalu

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspada, Ancaman Katup Jantung Bocor pada …

Yuni Astuti | 8 jam lalu

United Kalah, Wujud Kerinduan Hairdryer …

Aristo Setiawan | 8 jam lalu

Kolaborasi Rasa …

Puji Anto | 8 jam lalu

Ramping Itu Artinya Wamen dan Staff Ahli …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Jadzab, Istimewa atau Abnormal? …

Mahrus Afif | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: