Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Bang Pilot

Nama asli : Muhammad Isnaini. Tinggal di Batu Bara, Sumut. Pemilik blog : http://bibitsawitkaret.blogspot.com/ . Menulis apa saja yang selengkapnya

Kaya Raya dengan Perkebunan Karet Tumpangsari

OPINI | 12 July 2013 | 23:11 Dibaca: 2200   Komentar: 2   5

13736453681545387712

Sumber foto : dispertan.kaltimprov.go.id

Bagi pemilik tanah kosong yang cukup memenuhi syarat untuk ditanami karet, maka berkebun tumpangsari karet dengan tanaman lain adalah sebuah pilihan yang patut diperhitungkan.

Ada beberapa tanaman yang dapat ditumpangsarikan dengan karet. Diantaranya adalah tanaman salak pondoh, gaharu, pisang barangan, dan nenas.

Namun semua tanaman tumpang sari di atas, tidaklah kami rekomendasikan, karena cenderung sedikit mengganggu tanaman utama, terutama bila gaharu yang dijadikan tanaman sela, karena tanaman ini cukup tinggi tajuk pohonnya, sehingga akan mengganggu produktifitas tanaman karet selaku tanaman utama. Tanaman pisang juga tidak direkomendasikan karena dapat menjadi pemicu datangnya komes, atau jamur tanah yang sangat mungkin akan menyerang akar tanaman karet. Sedangkan nenas, tidak direkomendasikan karena tanaman ini termasuk tanaman yang rakus unsur hara. Selain itu nenas umumnya akan menghasilkan buah yang masam jika kekurangan sinar matahari. Adapun salak pondoh belum bisa kami rekomendasikan, karena masih pada tahap ujicoba oleh beberapa petani daerah.
Adapun tanaman yang paling menguntungkan untuk ditumpangsarikan dengan tanaman karet adalah : kapulaga, jahe termasuk jahe merah, kunyit, dan kopi.
Selain itu, yang lebih menjanjikan adalah membuat pembibitan karet atau kelapa sawit di lahan perkebunan karet.

Namun yang menjadi catatan penting adalah, jarak tanam karet yang 3×7 meter sebagai tanaman monokultur, harus dijarangkan menjadi 3×9 meter jika ingin ditumpangsarikan. Penjarangan ini tentu akan sedikit mengurangi produktifitas tanaman karet, tetapi di sisi lain, petani akan mendapatkan pendapatan tambahan yang tidak sedikit dari tanaman tumpangsarinya. Terlebih lagi pada saat harga komoditas karet sedang turun, maka penghasilan dari tanaman tumpangsari akan sangat membantu perekonomian petani.

Jika ditumpangsarikan dengan kopi, maka tanaman kopi ditanam bersamaan dengan penanaman karet di lapangan. Bibit kopi ditanam tepat di tengah jalur tanaman karet yang 9 meter itu, dengan jarak antar tanaman kopi adalah 3 meter.

Jika ditumpangsarikan dengan tanaman jahe/jahe merah/kapulaga, maka jarak tanam adalah 3 meter, 4 meter dan 5 meter dari tanaman karet. Jadi ada 3 jalur tanaman jahe-jahean itu dalan satu jalur tanaman karet. Jarak rumpun antara jahe-jahean itu dengan rumpun jahe-jahean kawannya adalah 80 cm.
Kami pernah mendengar bahwa ada juga tumpangsari karet dengan rotan. Dan dalam tumpangsari jenis ini, jarak tanam karet tetap 3×7 meter. Rotan ditanam satu jalur diantara gang yang 7 meter itu dengan jarak antara rumpun rotan adalah 2 meter. Ini cukup masuk akal, karena aslinya rotan adalah tumbuhan merambat yang toleran terhadap teduhan, di tengah hutan rimba.

Lalu, tumpangsari jenis mana yang paling potensial untuk diterapkan? Menurut hemat kami, tumpangsari karet dengan pembibitan benih tanaman, jahe-jahean atau rotan tadi, adalah yang terbaik untuk diterapkan. Tumpangsari karet dengan kopi menurut pengamatan kami, hanya efektif sebelum karet berumur sepuluh tahun. Setelah itu, kopi akan jarang berbuah karena aslinya kopi memang tak terlalu toleran dengan teduhan yang berlebihan.

Nah, disaat kebanyakan orang sedang demam bertanam kelapa sawit secara monokultur, anda bisa saja jadi pemenang dengan memilih melawan arus, bertanam karet dengan tumpangsari. Why not?
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 12 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 15 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 16 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kalah 4-2, Persipura Masih Bisa Balas di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Bahasa Menunjukkan Bangsa …

Alfarizi | 8 jam lalu

Hysteria …

Moch. Mishbachuddin | 8 jam lalu

Harga LPG 12Kg (NonSubsidi) Mencapai Harga …

Yulian Amalia | 8 jam lalu

Cesky Krumlov, Kota Cantik di Republik Ceko …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: