Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Dewips

Hanya seorang gadis biasa.. Mau copy-paste atau menyadur artikel dan foto? Boleh saja tapi please! tetap selengkapnya

Manisnya ‘Gula’ untuk Siapa?

OPINI | 18 September 2013 | 08:50 Dibaca: 223   Komentar: 10   4

Masih ingat dengan sebuah video yang menampilkan Sacha warga kanada yang mengamati tingkah laku masyarakat Indonesia pada umumnya? Bisa cek videonya¬†disini. Dimana pada video itu juga terdapat sebuah adegan yang menunjukkan bahwa orang Indonesia ‘cinta’ gula. Kalau kata teman-teman bule saya “Indonesian people don’t drink coffee with sugar but drink sugar with coffee” sindiran itu jelas bukan kreasi karena pada faktanya orang Indonesia sangat gemar menambahkan gula berlebihan pada minuman hangatnya, bahkan untuk keturunan jawa seperti keluarga saya terkadang dalam memasak pun harus selalu ditambah gula. Gaya hidup yang kurang sehat sebenarnya.

1379415340820317025

gula rafinasi : starjogja.com

Kalau bicara tentang gula-gula tentu manis rasanya, tapi kekhawatiran akan segera melanda orang Indonesia untuk beberapa waktu kedepan. Bisakah orang Indonesia hidup tanpa gula? karena dikabarkan produksi gula dalam negeri menurun dari 130 ton per bulan hanya menjadi 100 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi gula pada masyarakat Indonesia cukup tinggi yaitu sekitar 200 juta ton per tahun. Wow, angka yang fantastis bukan? bagaimana Indonesia tidak menjadi negara dengan penderita diabetes tertinggi ketiga di dunia.

Gula Rafinasi menjadi salah satu ancaman bagi petani gula dalam negeri? itulah judul yang sempat saya tangkap pada saat menonton berita di televisi. Mengapa? jawabnya singkat saja, karena gula berbentuk kristal yang biasanya hanya digunakan di pabrik makanan dan minuman itu telah lama bocor di pasaran. Harganya lebih murah, rasa manisnya tidak berbeda, rupanya lebih bersih. Itulah alasan mengapa banyak warga menggunakan produk gula rafinasi ketimbang gula pasir milik petani dalam negeri. Untuk di Jerman sendiri gula rafinasi atau rohzucker merupakan produk yang tidak dianjurkan penggunaannya untuk minuman siap saji, karena efek atau rasa manis yang ditimbulkan melebihi gula murni dan mengandung lebih banyak kalori. Dalam hal ini pemerintah dan masyarakat di Jerman pada khususnya sangat berhati-hati dalam mengonsumsi gula. Mereka akan lebih memilih brown sugar ketimbang gula putih biasa.

13794153961604992730

dok : bisnis-kti.com

Bagaimana dengan aturan di Indonesia? Mengapa gula rafinasi bisa ‘bocor’ ke pasaran? rasanya tidak mungkin kalau tidak ada pihak-pihak terkait yang mengambil untung dalam hal ini. Gula rafinasi yang diimpor dari luar negeri semakin memperburuk keadaan petani gula Indonesia, tapi jangan beralasan alih-alih untuk mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat akan gula lalu dengan seenaknya pemerintah mengimpor tanpa memperhatikan nasib para petani. Kalau menurut saya pribadi, solusi untuk menghadapi rumor kelangkaan ini adalah dengan lebih bijak mengonsumsi gula khususnya untuk gula pasir, selain penyakit diabetes bisa dihindari maka pemerintah pun tidak perlu mengimpor gula lagi demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan gula itu sendiri.

So, manisnya gula untuk siapa..hayoo? :D

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 3 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 3 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 8 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: