Back to Kompasiana
Artikel

Agrobisnis

Rahmad Agus

"Alam Terkembang Jadi Buku," dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan… Insyaallah… Belajar sampai nafas terakhir. Suka selengkapnya

Cara Sederhana Membuat Pupuk Hayati Organik (Organic Biofertilizer)

HL | 26 September 2013 | 07:03 Dibaca: 9018   Komentar: 26   14

Pupuk Hayati (Biofertilizer) berbeda dengan Pupuk Organik.

Pupuk hayati adalah larutan konsentrat campuran sel-sel beberapa jenis mikrorganisme tertentu yang aktif (hidup), diantaranya mikroorganisme pengikat nitrogen, pelarut pospat dan pengurai senyawa organik, yang dapat menyuplai nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

Mikroorganisme tersebut diperoleh dari perakaran tanaman atau dari tanah disekitar zona perakaran (Rhizosphere).

Sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang terdiri dari unsur-unsur kimia organik yang bisa langsung diserap oleh tanaman.

Namun dengan cara yang sederhana, keduanya bisa dikombinasikan sehingga menghasilkan pupuk tanaman yang berkualitas tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Pupuk hayati organik ini lebih menguntungkan dari segi pembiayaan, ketahanan terhadap penyebab penyakit tanaman, bebas dari mikroorganisme patogen, dan dari segi keramahan terhadap lingkungan, dibandingkan dengan pupuk kimiawi buatan.

Sisa atau residu pupuk kimiawi buatan yang terbuang ke aliran sistem perairan adalah penyebab terganggunya keseimbangan ekosistem diantaranya adalah terjadinya eutrofikasi, yang pernah saya bahas di dalam artikel ini,

Dampak, Penyebab dan Pelajaran Berharga Bagi Indonesia dari Fenomena Alga Blooming Qingdao, RRC

Selain itu residu pupuk kimiawi ini juga bertanggungjawab dalam rusaknya keseimbangan kimiawi tanah pertanian.

Berikut ini saya hendak berbagi mengenai cara membuat pupuk hayati organik dengan cara yang sederhana, efektif dan efisien, berdasarkan ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dan memanfaatkan video dokumenter yang dipublikasikan oleh Princess Sirindhorn’s Projects yang dikelola oleh para peniliti dari Worcester Polytechnic Institute dan Chulalongkorn University.

Prosesnya membutuhkan waktu yang agak lama, sekitar 2,5 bulan, namun hasilnya sebanyak kurang lebih 1.000 Liter dari 100 L konsetrat pupuk hayati organik, bisa digunakan untuk ribuan hektar tanaman selama berbulan-bulan.

Namun jika kebutuhan akan pupuk ini mendesak, biasanya toko-toko pertanian ada menjual pupuk hayati ini dalam botolan dengan harga sekitar Rp. 20.000/Liter.

Cara sederhana ini bisa dimanfaatkan oleh koperasi pertanian atau lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah pemerhati kesejahteraan petani, atau bisa juga digunakan untuk skala rumahan atau perorangan dengan cara mengurangi kuantitasnya, misalnya untuk tanaman hias di pekarangan rumah.

A. Proses Produksi Pupuk Hayati

Tahap Pengisolasian Mikroorganisme

  1. Mengambil satu kg tanah yang berasal dari kedalaman 10-15 cm dari permukaan tanah. Pilih lokasi tanah subur yang bebas dari gangguan manusia, jauh dari pemukiman misalnya dari tanah perkebunan yang terawat dengan baik atau dari hutan yang lebat (Gambar 1 dan 2).
  2. Tanah tersebut dicampur dengan satu kg daun bambu kering, 5 kg sekam padi dan 2 kg dedak padi, diaduk rata sambil menuangkan air secukupnya,sekitar 5 liter (Gambar 3 dan 4).
  3. Masukkan campuran tersebut ke dalam wadah berdiameter 50 cm dengan ketinggian 30 cm. Buat lobang berdiameter 10 cm di tengah-tengah campuran (gambar 5 dan 6).
  4. Tutup campuran tersebut dan letakkan di tempat yang teduh selama satu bulan. Aduk campuran tersebut 4 hari sekali dan membuat lobang ventilasi baru.
  5. Proses selesai setelah terbentuknya lapisan serat putih di permukaan campuran (Gambar 7 dan 8).
13801530071624943403

1

138015304250121945

2

1380153062694569941

3

13801530761195966810

4

1380153202793094682

5

1380153223302983881

6

1380153356361775516

7

13801534122018509733

8

Tahap Peningkatan Jumlah Mikroorganisme

  1. Campuran kering mikroorganisme diaduk rata, kemudian diambil sebanyak 500 gram dan dimasukkan ke dalam jaring plastik (Gambar 9).
  2. Campur 15 liter molase (produk sampingan dari hasil pengolahan gula tebu) atau 15 kg gula merah cair ke dalam wadah berisi 75 liter air tanah atau sumur yang bersih (Gambar 10 dan 11).
  3. Masukkan jaring plastik berisi campuran mikroorganisme tersebut ke dalam wadah (Gambar 12).
  4. Aduk merata secara searah.
  5. Tutup wadah dan biarkan selama satu bulan di tempat yang teduh.
  6. Indikator kesuksesan tahap ini adalah larutannya berbau harum, jika berbau busuk berarti prosesnya gagal (Gambar 13).
13801535071215791477

9

1380153523371063350

10

1380153541275620150

11

1380153556411715615

12

1380153571843667547

13

B. Proses Produksi Pupuk Hayati Organik

  1. Satu bagian larutan dimasukkan ke dalam wadah yang telah berisi 10 bagian air yang telah dicampur dengan satu bagian molase. Aduk merata secara searah.
  2. Masukkan potongan/rajangan daun-daun sayur-sayuran seperti daun singkong atau daun kangkung sebanyak sepertiga wadah, diaduk searah, kemudian ditutup (Gambar 14).
  3. Biarkan campuran tersebut selama 15 hari di tempat yang teduh (Gambar 15).
1380153604327457892

14

13801536211320598001

15

C. Cara Pengaplikasian

  1. Sekitar 100 ml cairan pupuk dimasukkan ke dalam 20 liter air untuk 40-50 tanaman (Gambar 16).
  2. Siram ke tanaman dan ke permukaan tanah tempat tanaman tumbuh (Gambar 17).
  3. Pengaplikasian dilakukan satu kali dalam satu minggu.
  4. Sebaiknya di awal penggarapan tanaman, diaplikasikan pupuk bokasi atau kompos sebagai pupuk dasar sekitar 500 gram/meter2
13801536421200517633

16

1380153697788553083

17

Demikianlah cara pembuatan pupuk hayati organik yang relatif mudah dan sederhana, dalam konteks Green Revolution. Dengan senang hati saya siap berdiskusi, menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif.

Semoga bermanfaat.

Salam Hangat Sahabat kompasianers…

[-Rahmad Agus Koto-]

Sumber: Video

Referensi,

“Handbook of Biofertilizer and Biopesticides”, Ed. A.M. Deshmukh, R.M. Khobragade, P.P.Dixit. Oxford Book Company, 2007.

***

Penulis adalah lulusan Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara, yang sekarang bekerja sebagai Manajer Produksi dan Kepala Laboratorium Mikrobiologi, di CV Hamsa Multisains Indonesia, Medan. Perusahaan penjualan produk dan jasa pengolahan air, limbah industri dan domestik.

***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 7 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 12 jam lalu

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: