Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ary Tri Setyanto

Engineer Bidang Perencanaan dan Manajemen Proyek. Tapi suka dengan masalah keuangan, bisnis dan manajemen. Juga selengkapnya

Akankah DOLAR Mencapai Rp 15.000??

REP | 03 February 2009 | 01:25 Dibaca: 515   Komentar: 7   0

Sepertinya krisis ekonomi saat ini masih panjang. dampak krisis tersebut sudah terasa dimana2, penutupan pabrik& PHK, bahkan dialami oleh perusahaan-perusahan besar di dunia. Saat saya membaca kondisi ekonomi Amerika makin buruk, dan melihat nilai Rupiah semakin terpuruk, akankah Rupiah akan terus terpuruk?  Dua hari ini, perkembangan Dolar sangat relatif tinggi, mencapai 11.700 untuk kurs tengah BI. Jika melihat di Kurs Jual BCA hari ini sudah mencapai 12.100 sedang BNI 11.900. BI berjanji untuk menjaga dengan ketat perkembagan rupiah agar tidak lebih dari 11.500, dengan paket stimulus Rp 71,3 triliun yang sekarang masih dibahas di DPR, yang diharapkan akan menggerakkan sektor riil, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi nasional akan menjadi lebih baik. Dengan melihat perkembangan rupiah yang begitu cepat ini, apakah BI masih mampu menjaga ketat nilai rupiah? Kita tunggu hasil paket stimulus tersebut.

Di AS sendiri paket stimulus sudah disetujui DPR, mengingat sebagian besar anggota DPR adalah dari Partai demokrat. Dengan Stimulus  819 miliar dollar AS tersebut diharapkan akan menyelamatkan atau menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja selama lima tahun mendatang. Semoga..

Bagaimana dampaknya di Indonesia? Akankah pertumbuhan ekonomi juga membaik? Di Indonesia sendiri, pertahanan terhadap krisis, menurut Boediono, tergantung pertahanan dari perbankan. Dimana BI harus melakukan pengawasan ketat pada bank agar dapat menjalankan Good Gorvernance dan Good Supervision dengan baik. Jadi memang seharusnya pertumbuhan di sektor riil yang harus dipacu, sehingga pertumbuhan ekonomi nasional akan membaik, dan pertahanan terhadap krisis semakin kuat. Bagaimana dapat meningkatkan pertumbuhan sektor riil? Salah satunya dengan menurunkan suku bunga BI (BI rate), sehingga bunga kredit dapat diturunkan dan terjangkau. Jika beberapa waktu lalu BI sudah menurunkan suku bunganya sebesar 50 basis poin, menjadi 8,75%. Akankah BI akan kemblai menurunkan suku bunganya? Di AS sendiri suku bunga Fed sudah mentok di-set terendah. Seharusnya BI dapat kembali menurunkan suku bunganya paling tidak 25-50 basis poin kembali.

Ditambah bila paket stimulus Rp 71,3 triliun  disetujui, kemungkinan akan semakin memperbaiki kondisi pertumbuhan ekonomi di sektor riil. Sehingga diharapkan fundamental ekonomi akan semakin kuat. Pertahanan terhadap krisis juga semakin kuat. Tidak akan ada PHK ribuan karyawan, seperti yang sekarang ini semakin menyebar ke berbagai daerah, karena tidak mampunya perusahaan membiayai operasionalnya.

Jadi akankah rupiah akan terus menurun mencapai 15.000? Semoga tidak.. BI harus semakin ketat mengontrol dan intervensi, mengucur valas ke pasar. Tapi sampai seberapa kuatkah BI? Juga jatuh tempo pembayaran utang luar negeri sudah dekat. Kita tunggu, semoga tim kuat ekonomi Indonesia dapat mencari cara yang paling tepat.

Dan faktor yang cukup tinggi mempengaruhi melemahnya rupiah adalah Kepercayaan masyarakat terhadap rupiah yang terus menurun. Sehingga aksi memborong dolar semakin memicu terperosoknya rupiah.

Bagaimana dengan kita? Akankah kita juga ikut-ikutan? Saya teringat waktu ayah (almarhum) tidak mau disarankan untuk membeli dolar, dengan tegas beliau mengatakan bahwa cintailah negerimu, jangan mengambil keuntungan di tengah terperosoknya negerimu sendiri…  satu dari sekian ribu bahkan juta insan Indonesia yang masih peduli terhadap negeri.

Sebenarnya kondisi krisis tidak akan mempengaruhi kondisi ekonomi bila pondasi ekonomi nasional sudah kuat. Sektor riil dapat berkembang pesat. Produk dalam negeri menjadi idola bangsa, bukan lagi produk luar negeri, pemerintah semakin memperhatikan UKM dan industri dalam negeri.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 11 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 12 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 12 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 15 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Buzz!!! Apa Sih Maumu? …

Lipul El Pupaka | 7 jam lalu

Bersikap Bijak Ketika Harga Elpiji Melonjak …

Sam Leinad | 8 jam lalu

Kicau Cendrawasih Tersisih …

Ando Ajo | 8 jam lalu

Melihat Perjuangan Rakyat Bali Mengusir …

Herdian Armandhani | 8 jam lalu

Belajar Open Mic Matematika …

Andi Setiyono | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: