Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Mangkum

Fund Manager yang suka jalan-jalan dan fotografi :)

Memitigasi Risiko Pembobolan Rekening Bank via ATM

OPINI | 27 January 2010 | 13:28 Dibaca: 223   Komentar: 0   0

Akhir-akhir ini masalah kecolongan dana rekening Bank mencuat kembali. Uang yang “dititipkan” di Bank dicuri orang. Modus operandinya memanfaatkan kelemahan kartu magnet yang masih menjadi bentuk default kartu ATM di negara kita. Si pencuri menggunakan alat-alat untuk skimming dan mendapatkan PIN yang ditempel di mesin ATM. Kebijakan BI yang menyarankan atau mewajibkan Bank untuk segera mengganti teknologi kartu ATM beserta mesinnya telah disampaikan pada Bank-Bank, namun implementasinya tidak akan secepat membalik telapak kaki. Tetap saja, dari kita sendiri yang harus memitigasi risiko kehilangan uang sendiri dari awal. Caranya?

Pertama, ganti PIN secara periodik. Karena meskipun mereka mendapatkan data yang disimpan di kartu magnetik, bagaimanapun mereka membutuhkan PIN untuk melakukan transaksi.

Risiko selanjutnya yang datang adalah lupa PIN karena keseringan diganti. Nah ini ada contoh PIN yang mudah diingat. PIN ditautkan dengan bulan dan tahun, sehingga PIN dirubah sebulan sekali. Misalnya:201001 untuk PIN bulan Januari 2010. Namun ini bakal gampang ketebak, makanya silakan berkreasi dengan kombinasi angka yang mudah diingat. Misalnya untuk 2010, dua digit depannya diganti dengan usia kita (misal 25 tahun) sehingga menjadi 2510. Dua digit terakhir, untuk bulan 01,  dibuat rumus seperti ini 12-(bulan ke berapa)+1. Kalau Januari berarti 12-01+1 = 12. Kalau Mei berarti 12-05+1 = 08. Sehingga kita punya PIN 251012 untuk bulan Januari 2010 dan PIN 251008 untuk bulan Mei 2010. Nah itu mah contoh. Silakan berkreasi sendiri bikin rumus PIN yang mudah diingat.

Kedua, meskipun rekening kita masih bisa dijebol dari ATM, usahakan agar si maling ga bisa ngambil gede. Salah satu caranya adalah pilih kartu ATM kelas paling bawah: Classic atau apalah, jangan yang Gold atau Platinum. Karena, Kartu ATM yang berkasta bawah memiliki limit pengambilan dana yang jauh lebhi rendah daripada ATM berkasta tinggi. Bergantung kebutuhan juga sih.

Ketiga, ini yang penting, kalau punya duit banyak, jangan disimpen di Bank tapi diinvestasikan di pasar modal (hehehe.. karena saya orang pasar modal jadi solusi yang datang ya ini). Insya Allah ga bakal ada yang maling pake ATM. Apalagi saat ini pemerintah sedang menjual instrumen Sukuk Negara Ritel seri SR002. Kesempatan bagus untuk memitigasi risiko kecurian dana via ATM Bank.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Mengenang Penyair Rendra di Taman Ismail …

Trie Yas | 8 jam lalu

Menyapa Ijen, si Eksotis dari Timur Jawa …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Air Sehat Untuk Semua …

Asep Dudinov Ar | 9 jam lalu

Peluang dan Tantangan Kebijakan SBY dalam …

Adi Rio Arianto | 9 jam lalu

Mengenang Skandal Spingate di Richmond 2013 …

Bertho Mulwiennoer | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: