Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Liman

I want and need to learn more from others

Apa itu Dampak Psikologis ?

OPINI | 11 February 2010 | 10:49 Dibaca: 745   Komentar: 14   1

Beberapa bulan terakhir ini, kita disuguhi drama politik bail-out Century. istilah krisis berdampak sistemik menjadi akrab dan debatable. Berhubung sampai saat ini masih terjadi perdebatan apakah krisis itu berdampak sistemik dimana parameternya berupa psikologis pasar atau psikologis pelaku ekonomi yang tidak (mau) dimengerti kalangan tertentu, maka bail-out Century menjadi bulan-bulanan para politisi.

Kita tidak mau diseret dan tidak ingin ikut dalam perdebatan yang bernuansa politis ini. Oleh sebab itu saya mencoba memberikan pandangan dalam bahasa awam beserta contoh analis ekonomi yang sederhana supaya kita memahami apa itu dampak sistemik berdasarkan psikologis.

Akhir 1997, krisis moneter melanda Asia, termasuk Indonesia. 16 bank dilikuidasi (yang tidak sampai 1% dari total dana perbankan nasional) di akhir 1997. Berhubung tidak ada jaminan / blanket-guarantee dari pemerintah saat itu, dana nasabah tidak bisa ditarik lagi. Hangus semua. Kepanikan melanda masyarakat. Asal ada isu atau rumor sekecil apapun tentang suatu bank, bank apapun tersebut, nasabah akan langsung me-rush.  Untuk amannya, banyak yang menarik dana dari bank dan diinvestasikan ke emas, dollar ataupun dilarikan ke luar negeri.

Krisis berdampak sistemik…..

BCA yang merupakan bank swasta terbesar (BNI, BBD, BRI, dan beberapa bank pemerintah lainnya masih kalah dari sisi pengumpulan dana masyarakat) waktu itu, di akhir 1997 tersebut mendadak di rush. Apa yang membuat BCA di rush padahal saat itu BCA terkenal sehat (dibanding bank sejenis atau yang dilikuidasi)? Rupanya ada rumor pemilik BCA, Soedono Salim meninggal. Begitu malamnya Soedono Salim muncul di Indosiar dan menyatakan sehat-sehat saja, besoknya rush mereda.

Apa hubungan ‘meninggalnya’ pemilik BCA dengan kesehatan BCA? Saat itu semua orang tahu bahwa SS dekat dengan Soeharto. Jika SS meninggal, maka tidak ada jaminan bahwa Soeharto atau pemerintah akan membantu BCA kalau kolaps. Walaupun bank sehat, tetapi suasana krisis saat itu, situasi politik yang memanas, membuat masyarakat kehilangan akal dan tidak sanggup berpikir logis lagi karena bank yang dilikuidasi, dananya pasti akan hilang begitu saja.

Ini disebut dampak psikologis dari suatu krisis yang tidak bisa diprediksi.

Awal 1998 pemerintah memberlakukan blanket guarantee. beebrapa bank dilikuidasi dan dananya dipindahkan ke BNI. Rush sudah berkurang banyak walaupun masih ada sedikit kepanikan karena proses pembayaran di BNI sangat lambat berhubung banyaknya nasabah yang ingin mencairkan dananya di saat krisis ekonomi memuncak. Sampai dengan tragedi mei 1998.

Soeharto jatuh. Kali ini rush terhadap BCA benar-benar buruk dan bertambah buruk. Terlepas dari motif politik, banyaknya nasabah dan yang bukan nasabah antre di depan ATM dan teller sampai ke luar gedung berebut mengambil dananya. Padahal ada yang cuma menarik 15000, 20000, atau bahkan cuma untuk mencetak buku tabungan saja.

Dampak psikologisnya, makin banyak yang ikut walaupun dari sisi dan ilmu bisnis, BCA sehat dan tidak mungkin ambruk saat itu. Tetapi sekali lagi, akibat isu bahwa karena Soeharto jatuh dan kroninya tidak ada yang melindungi lagi, maka BCA akan disita dan ditutup.

Logika yang tidak masuk akal karena benar ditutup pun, khan ada blanket-guarantee. Psikologis mengalahkan nalar. Usaha untuk ‘mengkerdilkan’ BCA berhasil saat itu. BCA diambil alih pemerintah dan tetap beroperasi walaupun manajemen masih di tangan Salim Group. Kepanikan sudah berangsur hilang.

1 minggu kemudian, manajemen pusat BCA meminta seluruh karyawan BCA, dari teller, CS, staff di kantor termasuk pimpinan, membuka file database, menelepon dan menghubungi semua nasabah lama untuk kembali menabung dan bertransaksi di BCA. Hasilnya dalam 2 minggu kerja , dana BCA masuk kembali 90% dan pulih. Fundamental dan pondasi ekonomi kuat, hanya karena isu bisa tumbang.

Apakah dampak psikologis seperti ini akan terjadi pada pabrikan Toyota dan Honda yang me-recall mobilnya besar-besaran?

Saya yakin tidak, karena suku cadang yang rusak sebagian besar merupakan produk hasil supply dari supplier, termasuk supplier dari AS sendiri. Bukan merupakan produksi yang cacat secara sistemik hasil produksi pabrik. Mungkin bagian penerimaan barang dan quality control yang akan terkena dampak reformasi duluan. Tetapi bukan akibat sistem ataupun manajemen yang salah.

Apakah krisis global 2008 berdampak sistemik? Jika melihat dan mengalami sendiri situasi saat 1997-1998, secara psikologis sebagai praktisi ekonomi kita harus mengakui dengan jujur, memang kondisi akhir tahun 2008 sangat mengkhawatirkan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: