Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Apakah Bunga Uang Sama Dengan Riba?

OPINI | 01 March 2010 | 15:26 Dibaca: 1188   Komentar: 13   0

Sebagian besar rakyat Indonesia menganut agama Islam dan Kristen. Di dalam kedua agama besar ini ada larangan melakukan riba. Dalam Kitab Suci riba (usury, rente) diartikan sebagai keuntungan yang terlalu besar, berlebihan, tidak patut dan di luar kewajaran. Riba terjadi karena ada pihak-pihak yang mempunyai posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pihak lainnya. Dengan adanya posisi tersebut maka pihak yang satu akan dapat memaksakan suatu transaksi yang sangat menguntungkan bagi dia tetapi demikian sebaliknya bagi pihak yang lain.

Misalnya, jika suatu waktu seseorang mengalami kekurangan uang, karena suatu kebutuhan yang sangat mendesak, kemudian ia hendak menjual harta miliknya, maka si pembeli dapat menekan harga jual harta tersebut sampai serendah mungkin. Atau jika si orang yang butuh uang tersebut meminjam uang kepada seorang pelepas uang maka si pelepas uang tersebut dapat mengenakan bunga yang sangat tinggi kepada si butuh uang tersebut. Dalam keadaan yang wajar seseorang tidak akan mau menjual hartanya dengan harga yang terlalu rendah atau meminjam uang dengan bunga yang terlalu tinggi.

Jadi bunga uang memang dapat menjadi riba manakala suatu pihak membebankan bunga, bahkan tingkat bunga yang sangat tinggi kepada pihak lain yang sedang sangat membutuhkannya. Dan dengan demikian riba menjadi suatu alat pemerasan oleh manusia terhadap sesamanya. Dengan riba seseorang dapat merampasi harta milik sesamanya. Karena itu riba ditentang di dalam kebanyakan agama.

Namun dalam prakteknya riba tidak hanya dibatasi semata-mata mengenai bunga uang. Semua pengambilan keuntungan yang tidak wajar adalah riba. Misalnya jika seseorang berdagang dan mengambil laba yang terlalu tinggi, itu adalah riba. Juga mereka yang mengambil untung dari kegiatan spekulasi jelas dapat dikatagorikan sebagai riba, karena kegiatan spekulasi semata-mata berusaha mengambil untung dari jerih lelah orang lain. Spekulas adalah keuntungan yang tidak patut karena keuntungan tersebut didapat tanpa memberikan tukaran atau kontribusi. Mereka yang berusaha mengambil untung tanpa menjadi produktif adalah pencari riba atau rente.

Katagori riba yang lain adalah keuntungan yang didapatkan dengan menghasilkan produk yang merusak manusia dan lingkungan alam, misalnya usaha di bidang industri rokok; atau yang dalam kegiatannya merusak manusia dan lingkungan alam, misalnya penambangan emas yang menggunakan bahan kimia logam berat yang meracuni lingkungan. Demikianlah sebenarnya, menurut hemat pengarang, pengertian riba itu tidak sesempit hanya mengenai bunga uang.

Sebaliknya apakah bank dan perusahaan pembiayaan yang mengambil keuntungan dari membungakan uang adalah melakukan bisnis riba? Misalnya dalam hal perusahaan pembiayaan. Mereka meminjamkan uang untuk membiayai pembelian mesin atau kendaraan bermotor, dsb. Untuk itu mereka membebankan bunga terhadap uang yang mereka pinjamkan. Bunga uang itu pertama untuk membayar biaya dana para kreditur. Sebagian lagi mereka gunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan, seperti menggaji para pegawai, biaya transportasi, perlengkapan, listrik, sewa gedung dan biaya-biaya operasional lain. Sebagian lagi digunakan untuk cadangan kerugian akibat pinjaman yang tidak dibayar. Sisanya merupakan keuntungan pengusaha yang merupakan imbalan bagi jerih lelah pengusaha tersebut, sesudah dipotong pajak. Sedangkan bunga pinjaman yang dibayarkan kepada para kreditur juga merupakan kompensasi dari uang mereka yang terkena inflasi dan sebagai imbalan atas kesediaan mereka untuk menaggung resiko usaha.

Jika riba adalah keuntungan yang tidak sewajarnya atau selayaknya, yang manakah yang sebenarnya merupakan riba : (1) bunga yang dibebankan oleh bank dan perusahaan pembiayaan, atau (2) para spekulan yang bermain dan mengambil untung di pasar saham? Jadi memang di jaman sekarang substansi atau isi lebih penting daripada label, karena praktek-praktek usaha jaman sekarang tidak dapat disamakan dengan yang di jaman ribuan tahun lalu. Pada jaman dahulu dimana belum dikenal usaha perbankan, praktek peminjaman uang yang ada lebih mirip dengan usaha rentenir jaman sekarang. Demikian pula pada jaman dahulu belum muncul jenis-jenis kegiatan seperti yang dikenal pada jaman sekarang, seperti industri spekulasi saham, dsb. Jika kita hanya memperhatikan label atau sebutan saja daripada hakekatnya, maka sangat mungkin kita akan salah mengidentifikasi; yang riba dikatakan bukan riba, atau sebaliknya yang bukan riba dikatakan riba.

Dikutip dari buku “SOSIALISASI EKONOMI”, buku tsb dapat diunduh dari  sini  : http://ekonomi.kompasiana.com/2010/02/24/launching-buku-sosialisasi-ekonomi-gratis/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 3 jam lalu

Mungkinkah Duet “Jokowi-Modi” …

Jimmy Haryanto | 6 jam lalu

Beli Indosat, Jual Gedung BUMN, Lalu? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Ngapain Garuda Minta Maaf ke Ahmad Dhani? …

Ifani | 11 jam lalu

Lawan Lupa Komnas HAM, Antasari Harus Dibela …

Berthy B Rahawarin | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: