Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Stimulus Ekonomi

OPINI | 18 March 2010 | 05:54 Dibaca: 215   Komentar: 21   1

Kita sudah mengerti bahwa mesin ekonomi baru bergerak jika ada demand. Karena itu jika demand tiba-tiba anjlok maka mesin ekonomi juga akan melambat; akibat selanjutnya produksi barang dan jasa mengalami kontraksi atau mengkerut. Penurunan produksi mengakibatkan pendapatan yang diterima oleh masyarakat (yaitu para pemilik faktor produksi) juga akan menurun. Dengan menurunnya pendapatan maka daya beli dan permintaan juga akan menurun. Demikianlah akan terjadi spiral penurunan kegiatan ekonomi. Kontraksi ekonomi secara terus menerus dalam kurun waktu tertentu disebut sebagai resesi. Dalam bentuknya yang lebih parah krisis ekonomi tersebut disebut sebagai depresi.

Dalam keadaan seperti ini yang paling menderita adalah mereka yang mempunyai pendapatan dan atau tabungan kecil. Makin kecil pendapatan mereka maka makin tidak tercukupi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Bagi mereka yang berpendapatan besar, atau mempunyai uang tabungan yang besar, meskipun ‘kue’ ( barang dan jasa yang tersedia ) yang harus dibagi-bagi tersebut makin kecil, mereka tetap dapat mencukupi semua kebutuhan dan keinginannya. karena mereka mempunyai pangsa yang besar atas ‘kue’ tersebut.

Pemerintah mencoba mengatasi penurunan kegiatan ekonomi ini dengan ‘menciptakan’ demand dengan uang yang dikuasainya. Penciptaan demand dilakukan dengan mengucurkan uang kepada berbagai proyek atau kegiatan dan juga dengan mengucurkan uang secara langsung kepada mereka yang membutuhkannya ( misalnya BLT=bantuan langsung tunai).

Uang yang dibelanjakan atau dikucurkan oleh pemerintah akan menjadi demand yang menggerakkan mesin ekonomi nasional untuk bekerja lebih giat menghasilkan barang dan jasa sehingga memberikan penghasilan lebih kepada para pemilik faktor produksi. Selanjutnya mereka akan membelanjakan uang tersebut kembali sehingga menciptakan demand yang baru. Demikianlah terjadi reaksi yang berantai sehingga terjadi efek yang berganda (mutiplier effect). Maksudnya dengan sejumlah uang yang dibelanjakan oleh pemerintah pada mulanya, pada akhirnya akan menambah produksi nasional dalam jumlah yang berlipat ganda.

Tetapi skenario di atas kemungkinan tidak akan berjalan begitu lancar. Uang yang diterima oleh para pemilik faktor produksi tersebut tidak akan dibelanjakan seluruhnya, karena sebagian darinya akan ditabung, sehingga efek berganda tersebut akan berkurang. Makin besar bagian yang ditabung, yaitu makin kecil bagian yang dibelanjakan kembali, maka makin kecil efek dari stimulus tersebut.

Kepemilikan faktor-faktor produksi menentukan distribusi pendapatan masyarakat. Masyarakat yang kayalah yang memiliki banyak faktor produksi sehingga merekalah yang paling banyak menerima tambahan pendapatan dari adanya stimulus tersebut. Karena itu uang yang dibelanjakan oleh pemerintah sebagai stimulus tersebut pada akhirnya akan jatuh kepada mereka yang sudah mengalami surplus sehingga uang tersebut akhirnya akan mengendap sebagai tabungan daripada dibelanjakan kembali. Uang yang tidak dibelanjakan tersebut artinya berhenti menjadi demand yang mendorong perekonomian. Semakin tidak merata pembagian pendapatan akan semakin cepat uang stimulus tersebut mengendap sebagai tabungan. Kesimpulannya, semakin tidak merata pembagian pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat maka semakin tidak efektif stimulus tersebut.

Sekedar menciptakan demand melalui pemberian daya beli kepada masyarakat tanpa usaha untuk memeratakan distribusi pendapatan hanya akan mempunyai efek yang lemah dan sebentar saja. Adalah lebih baik memberdayakan masyarakat dengan memberi kail dan jaring daripada memberikan ikan saja. Jalan yang lebih efektif tapi lebih sulit untuk menyehatkan ekonomi adalah dengan menciptakan demand dan sekaligus memeratakan distribusi pendapatan dengan jalan : (1) memeratakan kepemilikan faktor produksi, dan (2) menjamin adanya harga yang adil bagi para pemilik faktor produksi.

Stimulus dapat menjadi alat yang efektif untuk menyehatkan dan memperkuat perekonomian jika stimulus tersebut di samping menciptakan demand juga dapat meningkatkan kapasitas produksi nasional dan sekaligus memberdayakan kelompok masyarakat yang miskin. Misalnya dengan mengadakan proyek-proyek infrastruktur baru, mengucurkan pinjaman lunak kepada usaha kecil dan menengah, pemberian beasiswa, pengadaan proyek-proyek penelitian, proyek-proyek pendidikan dan pelatihan, dsb. Pengeluaran atau pembelanjaan uang seperti itu dilakukan untuk menimbulkan demand yang akan menggiatkan kembali perekonomian yang sedang lesu. Di samping menimbulkan demand proyek-proyek tersebut juga meningkatkan kapasitas produksi nasional dan memberdayakan mereka yang lemah secara ekonomi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: