
Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!
Dibaca: 904
Komentar: 44
2 dari 4 Kompasianer menilai Aktual
Beberapa orang calon penumpang Sriwijaya Air jurusan Jakarta-Palangkaraya duduk di koridor pintu 7C. Saat foto ini diambil, banyak ibu-ibu yang sudah masuk kembali ke ruang tunggu setelah menyantap makan siang (iskandarjet)
Beberapa hari menjelang keberangkatan ke Surabaya dalam rangka Kompasiana Nangkring, Kamis (1/4), abang saya bercerita panjang lebar seputar pengalamannya menggunakan pesawat Sriwijaya dalam perjalanan pulang dari Jambi menuju Jakarta.
“Pesawatnya telat sampai empat jam, dar!” lapor Fachrurrozi (38 tahun). Akibat keterlambatan tersebut, banyak calon penumpang yang mengeluh panjang di bandara Sultan Thaha Syaifuddin. Saat petugas Sriwijaya membagikan paket makan malam KFC, kekecewaan belum sirna dari wajah sebagian calon penumpang.
“Siap-siap aja pesawat lo telat juga…” imbuhnya sambil melihat-lihat tiket Sriwijaya Jakarta-Surabaya yang saya sodorkan di awal pembicaraan.
Telat Empat Jam
Benar saja. Empat hari menjelang keberangkatan ke Surabaya, sebuah SMS dari Sriwijaya Air mendarat ke ponsel saya. Isinya seperti ini:
KEPADA PELANGGAN SRIWIJAYA AIR YTH:
INFO PERUBAHAN JADWAL PENERBANGAN RUTE JAKARTA-SURABAYA SJ266 01APR’10 SEMULA JAM 08.15 WIB BERUBAH MENJADI JAM 12.40 WIB. UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI CALL CENTRE 24JAM (021) 640.5566 ATAU SRIWIJAYA AIR TERDEKAT. TERIMAKASIH.
Dua hari kemudian, seorang petugas Sriwijaya mengonfirmasikan penundaan tersebut lewat telepon. Saat saya menanyakan penyebabnya, si petugas hanya menjelaskan adanya kendala teknis–yang saya sendiri tidak bisa mengingat rincian penjelasannya waktu itu.
Benar juga kata abang saya tadi. Pesawat Sriwijaya yang akan saya tumpangi telat juga. Persis empat jam seperti yang dia alami sebelumnya. Tapi setidaknya kali ini saya tidak perlu menunggu berjam-jam penuh kecewa di bandara. Pemberitahuan dini dari petugas Sriwijaya merupakan langkah maju yang saya acungi jempol.
Di hari H, saya berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Dalam hati, ada untungnya juga penerbangan ditunda sehingga tidak harus berangkat di pagi buta. Begitu masuk ke pintu 7C, saya melihat banyak sekali orang duduk di sepanjang koridor menuju tempat pemberangkatan pesawat. Beberapa pria berdiri merokok, tapi banyak ibu-ibu dan anak yang duduk di pinggir jalan. Di ruang tunggu, jumlah calon penumpang yang sedang menunggu pesawat lebih banyak lagi.
Penuh sekali penerbangan Sriwijaya hari ini, pikir saya.
Tapi setelah tanya sana-sini, ternyata mereka yang berada di luar adalah korban keterlambatan Sriwijaya Air jurusan Palangkaraya. Penerbangan ke kota lain juga mengalami keterlambatan.
Beberapa orang terlihat masih menyantap menu makan siang dari Hoka Hoka Bento. Satu dua orang lainnya baru mengambil paket makan tersebut dari petugas di dalam. Keletihan nampak di wajah mereka. Apalagi siang itu udara sangat panas. Tidak terbayangkan sesaknya hati menunggu pesawat selama empat jam lamanya!
Menurut salah seorang calon penumpang jurusan Palangkaraya, mereka semula dijadwalkan berangkat jam sembilan pagi. Tapi pesawat ditunda sampai jam 13.00 siang. “Dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya, mas,” kata seorang calon penumpang yang saya ajak ngobrol.
Dari obrolan siang itu, saya mendapat informasi bahwa keterlambatan seperti menjadi bagian dari bisnis maskapai penerbangan. Kebetulan lawan bicara saya mantan karyawan di salah satu maskapai yang sekarang sudah tutup usia.
“Biasanya keterlambatan terjadi karena pesawatnya dialihkan ke rute yang lebih ramai,” ungkapnya, menjelaskan. Misalnya, rute Jakarta-Balikpapan lebih ramai dari rute Jakarta-Palangkaraya. Maka pesawat yang harusnya digunakan untuk Palangkaraya, dialihkan ke Balikpapan.
Dan hari itu penerbangan Sriwijaya memang sangat padat. Jam 11 pagi, sebuah pesawat terbang ke Medan. Sejam kemudian, tiga pesawat bertolak ke tiga kota berbeda, yaitu Yogyakarta, Balikpapan dan Tarakan. Setelah itu, giliran pesawat jurusan Surabaya, disusul kemudian Palangkaraya yang mengudara….
Baca juga: