Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Eko Yuono

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret angkatan 2007, memiliki cita-cita menduduki jabatan tertinggi di Bank selengkapnya

Mata Uang Terkuat Dunia

OPINI | 20 April 2010 | 13:10 Dibaca: 1789   Komentar: 18   0

Saat ini boleh dikatakan bahwa mata uang terkuat adalah dollar Amerika karena mata uang tersebutlah yang menguasai jalannya perekonomian . Namun dalam diskusi tadi sore , salah seorang teman saya bertanya dan membuat situasi seolah-olah , apa yang akan terjadi apabila dunia hanya punya 1 mata uang ? . Terkesima saya mendengarnya atau lebih tepatnya tertawa.

Mari saya jelaskan dengan 2 sudut pandang , Yang pertama adalah apabila mata uang tunggal di dunia diberlakukan . Dari situasi ini , dapat dikatakan bahwa dunia berada dalam 1 uni politik , yaitu memiliki 1 kebijakan yang sama di semua daerah . Ekses di dalam perekonomian adalah adanya pergeseran produksi dan capital ke wilayah yang memiliki keuntungan geografis dan sumber daya . INi akan menyebabkan persaingan bebas dan tiadanya proteksi , karena dunia berada dalam 1 kebijakan yang sama . Keadaan ini akan memicu tumbuhnya spot-spot kehancuran dunia yang ditandai dengan daerah sepi , kering kerontang atau sepi karena daerah tersebut ditinggalkan oleh modal dan tenaga kerjanya .
Daya dukung lingkunganpun akan semakin kacau karena pusat petumbuhan ekonomi betulbetul terpusat . Seperti yang dikatakan dalam teori ekonomi wilayah , bahwa semakin dekat ke pasar, maka daerah tersebut akan semakin mahal . Dampaknya adalah pemusatan pertumbuhan ekonomi di sekitar ibu kota dan tempat berkumpulnya modal akan menyebabkan daya dukun lingkungan menurun atau bahkan rusak .
Perihal ketiga apabila 1 mata uang ini berlaku adalah adanya kesulitan dalam pola distrribusi . Seperti yang kita ketahui , biasanya perekonomian sebuah negara khususnya sebuah bidang moneter akan dikendalikan oleh Bank Sentral . Apa yang akan terjadi apabila sebuah bank sentral mengendalikan kekuatan dunia khususnya bidang moneter ? . Yang akan terjadi adalah kebijakn yang diambil akan terkesan lebih lambat , ini dikarenakan analisis yang dilakukan mencakup seluruh pergerakan ekonomi dunia . Salah sedikit , maka hancurlah ekonomi dunia , itulah yang ditakutkan oleh para pakar bank sentral jika keadaan ini berlaku . Akibatnya adalah dunia akan kehilangan arah karena instrumen kebijakan moneter yang ada dipergunakan secara lambat . Masalah distribusi dan pemalsuan menjadi hal yang umum di dunia , karena bank sentral kewalahan dalam mengawalnya .
Sudut pandang yang kedua adalah kenapa saya katakan hal ini tidak mungkin . Yang pertama adalah perbedaan ideologi . Sistem ekonomi yang ada di dunia saat ini sangat beragam dan tidak jarang bahwa sistem ekonomi di dunia ini mencerminkan pola politik negaranya . Dengan adanya berbagai macam sistem ekonomi yang didukung kekuatan politik maupun idiologi adalah tidak mungkin apabila harus ada 1 mata uang yang nota benenya mewakili sistem ekonomi suatu negara berbaur menjadi satu . Yang kedua adalahg matinya pasar valuta asing yang berdampak pada hilangnya cadangan devisa . Ibaratnya adalah menuyuruh orang yang memakai hp kembali menggunakan batu tulis . Begitu pula dengan kekayaan . Tidak akan ada yang mau bergabung dalam 1 mata uang ini karena kekayaan mereka bernilai berbeda di masing -masing negara . Hal ini hanya akan menghilangkab motif spekulasi dan kita terpaksa mengubah buku seluruh literatur ekonomi .
Yang coba saya katakan adalah bahwa tidak mungkin mengubah mata uang dunia ini menjadi 1 saja .Perbedaan ideologi , geografis dan sejarah adalah hal yang tidak mungkin diubah secara simultan .

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | | 18 September 2014 | 23:42

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | | 19 September 2014 | 07:39

Masukan Untuk Petugas Haji Indonesia …

Rumahkayu | | 19 September 2014 | 07:37

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 3 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Jokowi Seorang “Koki” Handal …

Sjahrir Hannanu | 19 jam lalu

Indra Sjafri Masih Main-main dengan …

Mafruhin | 20 jam lalu

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Lari Pagi di Makati di Jalur yang Manusiawi …

Dhanang Dhave | 8 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 10 jam lalu

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: