Artikel

Jusuf Kalla

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Nama :Drs H Muhammad Jusuf Kalla Lahir :Watampone, 15 Mei 1942 Agama :Islam Jabatan Kenegaraan: Wakil Presiden RI (2004-2009) Menko KESRA Kabinet Gotong Royong (2001-2004) MENPERINDAG Kabinet Persatuan Nasional (1999-2000) Pendidikan : Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar, 1967 The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977) Organisasi 2010 - Sekarang : Chairman Centrist Asia Pacific Democrats International (CAPDI) 2009 - Sekarang : Ketua Umum PMI 2000 - sekarang : Anggota Dewan Penasehat ISEI Pusat 1985 - 1998 : Ketua Umum...

Pemerintah Jangan Utamakan Bangsa Lain…


OPINI | 24 April 2010 | 09:59 Dibaca: 1355   Komentar: 60   8 dari 18 Kompasianer menilai Menarik

Bangsa kita adalah bangsa yang kaya, segala macam hal ada di sini, apakah itu minyak, batu bara, nikel, Gas alam dan masih banyak lagi. Namun yang menjadi tragis bagi kita, mengapa bangsa yang sedemikian kaya akan sumber daya alam ini tidak maju-maju dan jauh ketinggalan dari bangsa lain dalam hal kesejahteraan? Itu karena selama ini segala kekayaan alam yang kita miliki lebih banyak dinikmati oleh bangsa lain. Ibarat kata pepatah “Ayam Mati di Lubuk Pangan”

Semua hal itu sebenarnya bukan kita tidak sadari, tapi yang jadi masalah tinggal dibutuhkan kesadaran dari pemerintah untuk tidak mengulangi yang sama di mana saat terjadi kekosongan gas alam di saat terjadi kekosongan gas alam di Pupuk Iskandar Muda (PIM) Aceh dan Proyek Tangguh di Papua. Memang kita bisa ekspor gas alam, akan tetapi industri pupuk kita tak bisa berproduksi. Kita bisa mengekspor, akan tetapi harganya murah seperti Tangguh.

Seharusnya pemerintah bisa belajar dari itu semua, untuk itu beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke sulawesi tengah, saya jadi khawatir jangan-jangan pemerintah mulai tidak konsisten lagi untuk tidak mengekspor hasil Gas Alam dari Donggi Senoro sebelum kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Pada masa pemerintahan saya, keputusan untuk tidak mengekspor hasil dari Donggi Senoro untuk tidak diekspor sudah pernah disetujui oleh pak SBY, semoga saja Pemerintah masih bisa konsisten dengan putusan tersebut. tidak adanya pupuk, mengingat ketergantungan Pabrik pupuk terhadap Gas cukup tinggi.

Sekarang pilihannya mengekspor dengan catatan Devisa memang bertambah, tapi di lain sisi akan lebih banyak biayanya jika industri dalam negeri kita tidak jalan akibat tidak adanya gas alam. Selain kita kekurangan energi, belum lagi tutupnya lapangan kerja akibat industrinya mati karena tidak ada bahan baku. Industri mati, juga tidak ada pendapatan negara dari penerimaan pajak Jangan sampai Bangsa lain lebih maju karena membeli energi dari kita, sementara kita tetap terbelakang karena kekayaan alam habis kita serahkan pada bangsa lain.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: