Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Tabung Gas yang Tidak Bisa Meledak

REP | 27 July 2010 | 08:20 Dibaca: 1988   Komentar: 17   2

Ibu Atik yang tinggal di Kp. Cibedug, Ds. Cikole, Kecamatan Lembang, sekarang ini tidak kuatir lagi dengan kejadian meledaknya tabung gas LPG ketika sedang memasak.

Saat ini dia dengan senang hati memanfaatkan gas yang dia punya untuk segala macam keperluan rumah tangganya.

Awas LPG!

Awas LPG!

Suara kompor yang menderu-deru di dalam dapurnya tak membuatnya merasa kuatir dengan bahaya ledakan, tetapi justru membuatnya lebih bersemangat untuk bekerja di dapur.

Ibu Atik tidak perlu kuatir bila listrik tiba-tiba mati di daerah tersebut, hal yang biasa dialami di banyak daerah di Indonesia, karena dia sudah menyediakan lampu petromak yang berbahan bakar gas di dalam rumahnya.

Ibu Atik tidak perlu setiap kali harus bolak-balik membeli tabung gas baru sebanyak 6 tabung per bulan karena persediaan gas yang dia miliki sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan di dapurnya, bahkan dia bisa membagi gas tersebut ke rumah orang tuanya yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Semua kompor yang ada, sebanyak tiga mata api, dicukupi dengan persediaan gas dari dalam tabung tersebut.

Setiap hari dia hanya mengisi tabung itu hanya dengan kotoran sapi sebanyak satu setengah ember cat, atau kira2 40 kg, ditambah dengan air sebanyak kotoran yang sapi kemudian diaduk sampai rata baru kemudian dimasukkan ke dalam tabung tersebut.

Pengalaman Ibu Atik juga dialami oleh ibu-ibu lainnya di kampung itu, setelah mereka menyingkirkan tabung hijau LPG 3 Kg dan menggantinya dengan tabung reaktor biogas.

Tabung tersebut adalah sebuah digester anaerobik (biogas) yang di dalamnya koloni bakteri melakukan proses penguraian bahan-bahan organik kotoran sapi yang dimasukkan yang kemudian dihasilkan biogas yang mempunyai kandungan gas methane yang tinggi. Gas (biogas) ini lah yang kemudian dimanfaatkan untuk menggantikan gas LPG yang selama ini dipakai oleh rumah tangga-rumah tangga. Tabung tersebut terbuat dari beton, sehingga dengan pemeliharaan yang sederhana, bangunan tabung digester tersebut dapat bertahan lama, bahkan kalau mau dapat diwariskan kepada anaknya.

Sketsa Tabung Digester Biogas

Sketsa Tabung Digester Biogas

Tabung tersebut memang bentuknya mirip dengan tabung gas elpiji, namun ukurannya bukan 3 kg atau 12 kg, tetapi 4 m3, 6 m3 atau sesuai dengan kebutuhan dan terbuat dari konstruksi semen. Tabung digester ini yang menggunakan model fix-dome ini tidak dapat dibawa-bawa atau disimpan di dalam dapur, tetapi diletakkan (dibangun) di pekarangan, atau dekat dengan kandang sapi, tertimbun tanah dan hanya pipa gas saja yang tampak dari luar. Tabung digester biogas yang dibangun mengikuti contoh sukses model biogas dari Nepal ini merupakan sebuah cara yang efektif untuk menunjang kemandirian energi di pedesaan.

Selain mendapatkan gas, yang tidak kalah penting adalah bahwa tabung digester tersebut membantu proses penguraian unsur organik kotoran sapi yang setiap hari dimasukkan, sehingga keluarannya (bio-slurry) ditampung dan dan sudah menjadi pupuk organik yang berkualitas. Para petani sudah tahu kualitas dari pupuk ini, dan mereka berebutan untuk mendapatkan barang tersebut, setiap kali dilakukan pengurasan dari penampungan tersebut. Ibu Atik mendapatkan keuntungan dari hal ini, karena pupuk organik yang ditampung dibeli oleh para petani, dan para petani juga diuntungkan mendapatkan produk yang berkualitas dengan harga yang baik.

Siklus Biogas

Siklus Biogas

Dengan mengisi setiap hari sebanyak 40 kg, dalam satu bulan Ibu Atik bisa mendapatkan 2,5 m3 pupuk cair yang siap diaplikasikan ke lahan pertanian, atau jikalau dikeringkan bisa di dapatkan 500 kg pupuk yang sangat bagus dipakai di lahan pertanian atau untuk media pembibitan tanaman, dan memberi peningkatan produktivitas lahan pertanian. Hal ini merupakan keuntungan besar bagi peternak, karena sebelumnya mereka menyadari betapa tidak berharga dan mengganggunya kotoran sapi ini, namun setelah diolah di dalam tabung digester biogas, ternyata memberi manfaat yang berlipat, selain mendapatkan gas, juga mendapatkan pupuk.

Sedangkan Pak Mii, yang membangun reaktor 6 m3 sangatlah bergembira dengan hasil gas yang dihasilkan, sehingga dia perlu untuk membaginya kepada tetangganya supaya mereka pun dapat menikmati kelebihan gas tersebut. Sedangkan Pak Fandi mempunyai kemudahan baru, karena dia bisa mengembangkan usaha penggorengan keripik dengan kompor biogas. Sedangka Pak Cahya sangat bersemangat membangun reaktor biogas ini, karena dia dapat memanfaatkan bidang diatasnya untuk dipakai menjadi kandang lagi, dan kemudian ternyata dia juga bisa menjadikan reaktor biogas ini sebagai septic tank bagi WC keluarganya, ”all in one” semua menjadi satu.

Lain halnya dengan Pak Is, selain diambil gasnya, keluaran (bio-slurry) dari tabung digester tersebut dipisahkan antara padatan dan cairan, dan kemudian cairan tersebut ditampung di dalam kolam ikan lele. Pak Is tidak perlu memberi makanan ikan lele tersebut, karena mereka dengan cepat sekali berkembang biak di kolam tersebut.

Tabung digester biogas yang dibangun Pak Is memang sangat besar, yaitu 25 m3, oleh karenanya gas yang dihasilkan cukup untuk memenuhi 4 dapur rumah tangga di sekitarnya dan sebuah dapur umum yang intensif dipakai setiap hari untuk kebutuhan penginapan yang dia miliki.

Dampak lainnya adalah kandang menjadi bersih, sungai yang biasanya menjadi tempat pembuangan kotoran sapi tidak lagi berwarna hijau, tepi justru mengalirkan air sungai yang bening. Sapi menjadi sehat, karena setiap hari harus dibilas dengan air panas supaya kualitas susunya meningkat. Pendapatan keluarga peternak meningkat, pengeluaran keluarga menurun. Para petani tidak kesulitan lagi mendapatkan pupuk, karena pupuk organik yang berkualitas telah tersedia setiap saat. Sehingga lingkungan alam dan keluarga para petani sama-sama diuntungkan. Dengan investasi yang tidak mahal, maka dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun, pemilik tabung digester biogas sudah kembali investasinya.

Ibu Atik, Pak Is, Pak Mii, Pak Cahya dan Pak Fandi dan para peternak lainnya tidak banyak mengerti tentang hal-hal berkaitan dengan mengenai efek rumah kaca, efek pemanasan global, emisi karbon, carbon trading atau Clean Development Mechanism, … atau istilah yang lain sejenisnya, tetapi mereka merasakan manfaat dari tabung digester biogas yang dia buat, bahwa dengan membuat tabung digester biogas maka kebutuhan dia akan gas untuk kebutuhan rumah tangga dan pupuk bagi lahan pertaniannya sudah dicukupkan.
Tetapi yang lebih penting juga adalah, para peternak, khususnya para ibu-ibu tersebut terhindar dari rasa takut. Karena  tabung reaktor biogas ini tidak bisa meledak, sehingga para ibu dibebaskan untuk menikmati pekerjaan di dapurnya dengan tenang dan gembira.

Salam Taklim

Kang Samad

Catatan : Tulisan tersebut merupakan hasil pendampingan para peternak yang menggunakan biogas di daerah Lembang, Subang, dan Garut selama satu tahun terakhir ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: