Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

“Rumah Duka”, Bisnis yang Tak Pernah Mati

HL | 04 March 2011 | 00:53 Dibaca: 4196   Komentar: 59   4

12992068401742456412

Kematian, sejatinya adalah sebuah proses yang tidak bisa di hindari oleh setiap mahluk hidup. Semua yang bernyawa pasti mati. Takdir yang akan menentukan bagaimana proses seseorang menuju ke kematian. Bayi, Muda, tua bisa saja meninggal dengan berbagai macam sebab. Kapan dan bagaimana kematian menimpa seseorang adalah rahasia Allah SWT sang pemilik kehidupan.

Jasad yang di tinggalkan roh, dalam tradisi manusia tetaplah harus di hormati. Diurus dengan benar dan dengan segala macam prosesi nya. Ada banyak tadisi mengurus jenasah dalam berbagai macam agama dan budaya di Indonesia. Ritual-ritual dalam mengurus jenazah kadang memang sangat merepotkan. Peluang ini kemudian dilirik oleh para pengusaha untuk mendirikan rumah duka. Bisnis yang agak menakutkan, tetapi manjanjikan dari segi keuntungan.

Di Jakarta dan sekitarnya saja saat ini ada kurang lebih 15 rumah duka dengan bermacam-macam fasilitas. Beberapa diantaranya malah menyediakan juga crematorium untuk tempat kremasi jenazah. Dengan penampilan yang modern dan perlengakapan yang canggih, rumah-rumah duka merangkap krematorium terlihat sangat bagus dan menarik. Beda sekali dengan kesan angker yang selama ini tampak pada tempat-tempat kremasi yang ada di daerah Cilincing. Biaya rumah duka mewah seperti ini pastilah tidak murah. Namun terbukti bisnis di bidang jenasah ini tidak pernah sepi order.

Mengapa Memakai Jasa Rumah Duka?

Untuk orang-orang beragama Islam mungkin agak aneh mendengar jasa pengurusan jenazah. Jenazah orang muslim biasanya diurus sendiri, bergotong royong dengan tetangga dan DKM masjid setempat. Pagi meninggal, dimandikan, dikafani, disholatkan, siang hari di makamkan, dilanjutkan dengan acara tahlilan, proses pun selesai.

Namun untuk orang-orang Tionghoa, prosesnya memang agak rumit dan panjang. Terutama untuk orang keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu dan Budha. Orang yang beragama Kristen pun walaupun lebih sedehana, saat ini sering menggunakan jasa rumah duka untuk mengurus pemakaman. Tinggal dilingkungan Pecinan membuat ku sedikit banyak sering bersentuhan dengan tetangga yang tertimpa musibah. Mengurus sendiri jenazah merupakan hal yang mustahil karena banyak ritual-ritual yang harus dilalui. Dari mulai proses membeli peti mati, memandikan jenazah, merias jenazah, memasukan ke dalam peti, sampai menungguinya selama beberap hari sebelum dimakamkan. Proses nya akan lebih rumit lagi bila jenazah akan dikremasi.

Tetangga di sekitar ku biasanya mengunakan jasa Rumah Duka untuk pengurusan jenazah keluarganya. Meskipun jenazah di taruh di rumah, rangkain proses nya tetap dipegang oleh kru dari rumah duka yang disewa. Semua keperluan mengurus jenazah akan disediakan oleh pihak rumah duka. Keluarga yang ditingglkan tidak perlu repot-repot, tinggal hubungi pihak rumah duka, mereka urus sampai selesai kemudian bayar. Menunggui jenazah bukanlah hal yang ringan, tak jarang anggota keluarga yang ditinggalkan malah jatuh sakit karena kelelahan. Kurang tidur dan suasana rumah yang ramai menjadikan mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Apa yang Disediakan Rumah Duka?

-Rumah duka menyediakan peti mati dan pelengkapan sembahyang lainnya

-Ruangan untuk menaruh peti mati

-Kru yang bertugas menjaga peti mati selama 24 jam penuh lengkap dengan upacara dan doa-doa untuk orang yang meninggal

-Makanan dan minuman untuk para pelayat

-Pelayat akan datang ke rumah duka dan bukan ke rumah pribadi

-Tidak merepotkan keluarga yang di tinggalkan

-Keluarga almarhum dapat beristirahat dengan nyaman di rumah sendiri

Selama proses menunggu pemakaman, peti mati akan disemayamkan dan disembahyangi dengan ritual-ritual sesuai dengan agamanya. Pihak rumah duka juga dapat menyediakan jasa rohaniawan untuk pembacaan doa ini.

Untuk wilayah Bogor dan sekitarnya, rumah duka yang sering dipakai adalah SINAR KASIH, yang ada di jalan Batu Tulis No. 38, Bogor. Dalam prosesnya, keluarga almarhum bisa memilih menaruh peti mati dirumah sendiri atau di “rumah duka”. Pengurusan mayat dari mulai memandikan, mendandani, manaruh jenazah kedalam peti, dan doa-doa semua sudah diurus oleh pihak pengelola rumah duka.

Jika pihak yang berduka memilih untuk menyemayamkan peti di rumah sendiri, maka pihak rumah duka akan mengirim tim, lengkap dengan peti mati dan kru pengurus jenazah. Jika akan disemayamkan di rumah duka, maka pengelola akan menjemput mayat dan kemudian mengurusnya di tempat mereka.

Biaya pengurusan jenazah ini tidak lah murah, berkisar antara 8 juta sampai 30 juta rupiah, bahkan bisa lebih mahal lagi. Komponen biaya yang paling mahal adalah peti mati. Harga peti mati bervariasi dari mulai 1 juta hingga puluhan juta rupiah tergantung dari jenis kayu dan kerumitan pembuatan nya. Pihak rumah duka biasanya sudah menyediakan semua perlengakapn untuk pemakaman. Untuk pemakaman Budha atau Konghucu biasanya ada perlengkapan lain berupa peralatan rumah tangga terbuat dari kertas.

Tahun lalu seorang pengusaha peti mati membuka usaha rumah duka di daerahku. Peluang usaha ini diliriknya karena selama ini masyarakat keturunan Tionghoa di daerahku biasanya memakai jasa rumah duka yang ada di Bogor. Kejelian nya membaca peluang usaha ini tampaknya sangat tepat, tiap minggu tak kurang dari 2-4 orang jenazah masuk ke rumah dukanya.

Keberadaan rumah duka ini juga membuka peluang usaha lain yaitu usaha pembuatan barang-barang keperluan pemakaman. Dalam tradisi Tionghoa biasanya ada peralatan pelengkap pemakaman diantaranya yaitu, peralatan rumah tangga berupa TV, kulkas, handphone, DVD player, Mobil, rumah-rumahan, lengkap dengan 2 orang pembantu laki-laki dan perempuan. Semua perlengakapn ini terbuat dari kertas dan nantinya akan dibakar pada prosesi pemakaman. Semakin banyak orang meninggal akan memberi multiplier effect untuk pembuat peti mati, karangan bunga, iklan media massa,  dan jasa pembacaan doa.

Ada lagi profesi lain yang juga bekerja di rumah duka yaitu perias mayat. Petugas yang bekerja di sini dituntut untuk membuat jasad orang yang meninggal terlihat “bagus” penampilan nya. Mayat didandani dengan rapi, sama seperti orang akan berangkat ke acara penting. Untuk mayat yang laki-laki memakai setelan jas lengakap sedangkan yang perempuan memakai gaun yang indah. Kondisi mayat korban-korban kecelakaan terkadang sudah sangat rusak. Tugas perias mayat untuk membuatnya kembali terlihat “rapi”.

Gaya hidup di perkotaan yang menuntut efisiensi dan kepraktisan membuat usaha ini bisa berkembang dengan baik. Ditambah lagi adanya kepercayaan di kalangan masyakat tionghoa bahwa harga dari peti mati itu pantang untuk ditawar. Berapapun harga yang di berikan oleh pengelola rumah duka atau tukang peti mati, maka si ahli waris harus membayarnya tanpa di tawar lagi. Klop lah sudah keuntungan yang bisa di dapat dari usaha rumah duka ini.

Dari segi bisnis usaha ini cukup menjanjikan karena pemain nya relatif masih sedikit. Jika kita lihat google adwords tampak bahwa bulan lalu saja, untuk kosakata “Rumah Duka”, dicari sebanyak 1900 kali. Setiap hari ada saja orang yang meninggal dunia dan membutuhkan bantuan untuk mengurus jenazah. Jasa pengurusan jenazah ini biasanya dipakai oleh masyarakat keturunan China. Untuk itu, sebaiknya lokasi usaha dekat dengan komunitas orang-orang China. Meskipun kadang ada juga yang berasal dari etnis lain. Rumah duka biasanya sudah mempunyai tim yang akan menangani klien berdasarkan agama yang dianut si jenazah.

Keberadaan rumah duka di daerah Pecinan memang sangat menjanjikan dari segi bisnis. Setidaknya rumah duka yang ada di daerah Jakarta, Bogor, dan sekitarnya dapat bertahan selama beberapa generasi. Pengelola tinggal menyediakan tempat, peti mati, keperluan sembahyang, kru yang mempunyai skill mengurus mayat, dan ambulan pengangkut jenazah. Selanjutnya klien akan datang sendiri.

Apakah anda berminat?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kyai Jumairi dan Pengobatan Orang Stress …

Junanto Herdiawan | | 15 September 2014 | 21:54

Wisata Murah Meriah di Pinggir Ibukota …

Agung Han | | 16 September 2014 | 03:59

Asuransi Kesehatan Komersial Berbeda dengan …

Ariyani Na | | 15 September 2014 | 22:51

Awas Pake Sepatu/Tas Import kena …

Ifani | | 16 September 2014 | 06:55

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 3 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 4 jam lalu

RUU Pilkada: Jebakan Betmen SBY buat Jokowi, …

Giri Lumakto | 10 jam lalu

Timnas U-23 Pimpin Grup E Asian Games …

Abd. Ghofar Al Amin | 11 jam lalu

Festival Film Bandung, SCTV, dan Deddy …

Panjaitan Johanes | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Aceh Semakin Terpuruk …

Jeffry Watumena | 7 jam lalu

Safe Area Goradze: Sebuah Komik Tentang …

Achmad Hidayat | 8 jam lalu

Benarkah Menara Saidah Miring? …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Wahai Guru Indonesia, Tidak Semua Hal di …

Vera Wati | 8 jam lalu

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: