
lahir dan besar di palopo, alumni fakultas ekonomi unhas, sementara kuliah di Magister Sains FEB UGM.Menetap sementara di Jogjakarta
Dibaca: 584
Komentar: 41
1 dari 2 Kompasianer menilai menarik
Ilustrasi/Admin (Shutterstock)
Sore tadi, di ajak seorang kawan, saya mengikuti diskusi pakar di university club yang diadakan fakultas filsafat UGM. Awalnya saya menyangka diskusi ini akan menghadirkan para filsuf yang bergelut dengan bacaan-bacaan berat serta tema seputar filsafat yang membingungkan.
Rupaya tidak. Sesampai disana, saya justru heran ketika menerima bahan diskusi yang ternyata bertemakan “Menggagas Ekonomi Kerakyatan: Ekonomi Real Indonesia Saat Ini dan Penyiapannya Kedepan”. Wah, faklutas filsafat membincang soal ekonomi, dimana nyambungnya? Tapi demikianlah, ilmu memang tidak mesti terkotak-kotak. Justeru ditengah kegamangan zaman dan kesulitan mewujudkan negara kesejahteraan, mungkin ada baiknya kita kembalikan semua perkara pada induknya, filsafat dengan pesan-pesan kebajikannya mungkin bisa menjadi kacamata yang lebih arif dalam memandang semua masalah, termasuk soal ekonomi.
Rasa heran saya tidak sampai disitu. Rupanya juga dugaan saya keliru tentang pembicaranya. Yang jadi pembicara utama bukanlah seorang yang berlatar belakang pendidikan filsafat yang penuh dengan guratan diwajahnya, melainkan seorang pelaku ekonomi muda yang tampan yang perusahaannya menggurita sepanjang sabang sampai merauke. Pembicara tersebut tidak lain pemilik Para Group, yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chaerul Tanjung. Selain Chaerul Tanjung hadir juga Anggito Abimanyu, tapi hanya sebagai peserta bukan pembicara.
Sebenarnya, sudah hampir bosan saya mengikuti diskusi seputar ekonomi kerakyatan. Sejak di Makassar, sekian kali saya mengiikuti diskusi ekonomi kerakyatan dengan menghadirkan para ilmuwan dan pengambil kebijakan namun belum jelas bagi saya konsep praksis ekonomi kerakyatan. Hampir setap saat saya juga mendengar para politisi berkoar tentang ekonomi kerakyatan dan pemerataan pembangunan namun sampai hari ini pun saya masih bingung di negeri yang bercita-cita mensejahterakan rakyatnya ini belum ada UU Jaminan Sosial.
Tapi yang membuat beda dan menarik saya untuk betah dalam diskusi sore tadi karena pembicaranya adalah seorang pelaku ekonomi swasta yang memiliki banyak perusahaan besar. Di negeri ini, siapa yang tidak kenal dengan Chaerul Tanjung. Si empunya para group yang memiliki dua stasiun TV besar, TRANS TV dan TRANS 7. Belum lagi, perusahaan-perusahaan di bidang lain, termasuk pemilik 40% saham Carrefour.
Ini menjadi sesuatu yang menarik karena sangat jarang saya menemui pembahasan ekonomi kerakyatan melibatkan para swasta. Beberapa temanku menyebutnya, “kapitalis lokal”. Terlalu sinis. Tapi saya pikir, ada baiknya juga memang melibatkan mereka dalam diskusi seputar ekonomi kerakyatan. Terlalu naïf bila berharap penuh pada pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan hanya dengan 1000 Triliun anggaran per tahun. Dimana, dari 1000 Triliun tersebut sebagian besar diperuntukkan untuk belanja operasional, seperti menggaji pegawai. Dan hanya sekitar 10% yang terserap untuk pembangunan ekonomi. Sokongan dana pihak swasta memang tidak bisa kita hindari untuk memacu aktivitas ekonomi rakyat.
Kembali ke Chaerul Tanjung. Dalam pemaparannya, ia mendefinisikan ekonomi kerakyatan sebagai sistem ekonomi yang bertujuan mensejahterakan rakyat. Baginya, apapun modelnya, baik itu liberal maupun sosialis, yang terpenting mensejahterakan rakyat. Ia mencontohkan Cina sebagai negara yang mengalami transformasi dari negara komunis menjadi negara terbuka terhadap modal swasta.
Saya pikir dengan latar belakangnya sebagai seorang pengusaha, wajar saja bila definisinya seperti itu. ia punya kepentingan untuk tetap melanggengkan usahanya. Tentu ekonomi kerakyatan dalam perfektifnya adalah yang tetap membuka kran bagi investor lokal.
Titik tekan Chaerul Tanjung dalam pemaparannya adalah bagaimana menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ia menegaskan betapa begitu banyak sumberdaya alam yang dikuasai asing, dan olehnya investor lokal harus segera bangkit dan mengambil alih. Karena itu, tahun lalu ia mengakuisisi 40% saham Carrefour Indonesia.
Tapi, apakah cukup dengan penguasaan kembali oleh investor lokal? Apa beda investor lokal dan asing jika yang menikmati hanya segelintir orang? Kita mungkin boleh bangga sebab Carrefour Indonesia kini dimiliki oleh Chaerul Tanjung, pengusaha asli pribumi. Tapi yang miris ketika seorang ibu pulang belanja dari Carrefour memamerkan belanjannya berupa sayur bayam Thailand dan appel Washington.
Maka saya mendefinisikan secara sederhana ekonomi kerakyatan adalah ketika Chaerul Tanjung menguasai saham Carrefour dan di dalamnya memperdagangkan sayur bayam dari ladang Mbok Iyem di wonosari, ikan lele hasil budidaya Pak Paimin dari Magelang dan appel hijau dari kebun Tarjo di malang.