Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

BSS : Skema Ponzi Berkedok Investasi

OPINI | 31 May 2011 | 02:53 Dibaca: 217   Komentar: 1   0

Model investasi bodong seperti yang pernah dilakukan QSAR, Probes atau Madoff kembali meminta korban. Kali ini, Bina Sinar Sejahtera (BSS) yang berlokasi di kota kecil Wonosobo mencatat sejarah baru sebagai salah satu perusahaan yang ditengarai mempraktekkan skema Ponzi.

Bisnis investasi yang bergerak di bidang online trading emas dan pembiayaan kendaraan bermotor (leasing) itu mengelola dana ratusan miliar rupiah dari 9000 nasabah (radarjogja.co.id). Nasabah yang menjadi korban tidak hanya mereka yang berduit, namun juga masyarakat kecil yang harus kehilangan uang yang sudah susah payah dikumpulkan.

Dengan imbal hasil sebesar 0.8 persen per hari, siapa yang tidak tergiur dengan penawaran tersebut ? Nilai pengembalian tersebut untuk saat ini adalah jumlah yang sangat besar apabila dibandingkan dengan return yang bisa diperoleh dari instrumen investasi pendapatan tetap seperti obligasi. Apalagi, hasil investasi tersebut bisa ditarik setiap hari. Zero risk, high return.

Iming-iming untuk mendapatkan uang dengan mudah dan tanpa risiko inilah yang kemudian membuat orang dengan begitu gampang menyerahkan rejeki yang sudah diberikan Tuhan kepada tangan-tangan yang salah.

Skema Ponzi, adalah salah satu modus yang banyak digunakan oleh para pegiat investasi bodong dengan memanfaatkan motivasi sebagian orang yang ingin mendapatkan uang berlimpah dengan cara mudah. Apa dan bagaimana mencium kehadiran Ponzi ?

Model Bisnis Tipu-Tipu

Secara umum, penipuan berkedok investasi dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu skema Ponzi, skema Piramida dan inventory loading. Masing-masing memiliki perbedaan, namun punya satu persamaan yaitu mengambil keuntungan yang besar dengan memanfaatkan dana pihak lain.

Dalam skema Ponzi, investor dijanjikan akan mendapatkan penghasilan dengan cara cepat dan berlipat (quick and rich scheme) dari sejumlah uang yang diinvestasikan. Padahal, imbal hasil dalam jumlah besar yang diterima oleh seorang investor tersebut sebenarnya berasal dari uang yang disetorkan oleh investor lain.

Sang bandar (schemer) dalam skema ini sekaligus juga si pemain. Ia sendiri yang akan menjadi ‘manajer investasi’ dengan mencari dan ‘mengelola’ dana para investor. Investor hanya perlu setor duit lalu duduk diam sembari menunggu masa ‘panen’ datang…

Model investasi semacam ini bisa dilihat dari penawaran yang sangat menggiurkan dari sejumlah uang yang diinvestasikan tanpa penjelasan yang lebih gamblang bagaimana hal tersebut bisa dilakukan. Yang perlu dilakukan investor hanyalah investasi, lagi dan lagi.

Di internet, tawaran bisnis seperti ini ada banyak sekali. Berkedok perusahaan investasi, ada sebuah situs di internet yang menjanjikan investornya penghasilan sekian puluh persen melebihi tingkat suku bunga bank dengan melakukan transaksi valuta asing. Dengan tampilan situs yang meyakinkan disertai beberapa bukti profit yang diperoleh dari aktivitas trading, dana yang terkumpul dari para investor akan dikelola di pasar uang melalui jual beli valuta asing. Dalam kurun waktu tertentu, dana investasi akan berbiak sekian puluh kali. Bahkan, semakin besar jumlah yang diinvestasikan, semakin besar pula prosentase keuntungan yang dijanjikan. Menggelikan, karena trading di pasar valas bukanlah jenis investasi yang bisa memberikan keuntungan pasti.

Skema piramida nyaris senada dengan skema Ponzi. Imbal hasil yang diterima oleh seorang investor sebenarnya juga berasal dari uang yang disetorkan oleh investor lain. Hanya saja, dalam skema Piramida investor juga harus menjadi pemain yang aktif mencari investor lain. Ia kemudian akan mengajak kerabat atau teman-temannya untuk ikut bergabung. Jika tidak bisa mencari investor lain, ia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Hirarki bertingkat berbentuk piramida akan terbentuk dari jaringan para investor yang menjadi anggotanya dimana duit dari investor baru akan digunakan sebagian atau bahkan seluruhnya untuk investor di atasnya. Dalam skema ini jelas sekali investor yang bergabung di awal akan mendapatkan keuntungan yang tentu lebih besar dibandingkan dengan investor yang masuk belakangan. Ini berbeda dengan multi level marketing (MLM) yang sesungguhnya, dimana member yang masuk belakangan namun lebih aktif sangat mungkin mendapatkan penghasilan melebihi upline-nya dan memiliki produk yang bisa dikonsumsi.

Untuk memberi kesan sebuah skema investasi tidaklah murni Ponzi atau piramida, kedua model ini disamarkan dengan menyertakan produk atau jasa yang disebut dengan inventory loading. Ciri-cirinya, nilai produk atau jasa yang diberikan tidak sebanding dengan uang yang harus dibayarkan seperti koin emas yang berharga puluhan juta rupiah karena hanya berfungsi sebagai kamuflase. Modusnya sama, menggunakan uang dari investor baru untuk diberikan kepada investor lain yang sudah bergabung sebelumnya. Bagi orang awam, model ini terkadang memang sulit dibedakan dengan yang investasi yang legal dan benar karena ada produk atau jasa lain yang diberikan sehingga menjadi seolah-oleh pemasaran berjenjang.

Menandai Aksi Ponzi

Di dunia nyata dan maya (internet), ketiga model bisnis ini tampil dalam wajah yang berbeda-beda. Kendati demikian, aksi tipu-tipu semacam ini sebenarnya bisa dideteksi semenjak awal dengan menggunakan salah satu atau beberapa ciri berikut.

  • Menawarkan imbal hasil yang sangat tinggi atau tidak wajar (unrealistic returns).

Salah satu tolok ukur yang bisa digunakan untuk melihat adalah tingkat suku bunga berpendapatan tetap seperti deposito atau instrumen investasi obligasi. Jika mereka menjanjikan keuntungan berlipat ketimbang tingkat suku bunga yang berlaku, perlu ditanyakan bagaimana cara mereka memperolehnya. Jika memang imbal hasil yang bisa diperoleh bisa melebihi tingkat suku bunga yang berlaku, mengapa mereka tidak meminjam saja uang di bank untuk kemudian diinvestasikan ? Mengapa harus bersusah-payah mencari dana dari investor ?

  • Mengandalkan pemasukan dari investor baru.

Lazimnya, pendanaan suatu bisnis bisa berasal dari beberapa sumber. Maka, patut ditanyakan bisnis yang akan survive jika hanya mengandalkan pemasukan dari para investor atau nasabah. Investor yang lebih awal bergabung juga akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dan lebih awal dibandingkan dengan investor yang bergabung berikutnya.

  • Nilai produk atau jasa yang diperoleh tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.

Dunia investasi yang memiliki banyak instrumen ditambah dengan produk-produk turunan (derivatif) memang menjadikan investor memiliki banyak pilihan. Istilah dan perhitungan investasi yang terkesan njlimet tidak berarti mereka yang awam dalam dunia investasi modern tidak bisa ikut terlibat. Sebagai misal, investor bisa memanfaatkan jasa manajer investasi dengan berinvestasi di reksa dana. Dengan reksa dana, investor tidak perlu bersusah-payah mencari instrumen investasi yang perlu dipilih. Dana investor akan dikelola oleh manajer investasi profesional yang diakui Bapepam LK ke dalam portofolio investasi untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Instrumen yang bisa dimanfaatkan investor juga tidak hanya pada investasi ‘konvensional.’ Banyak produk investasi berbasis syariah yang saat ini juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat muslim dan non-muslim yang Insya Allah tidak semata-mata berupa keuntungan duniawi namun juga ukhrawi. Dalam sudut pandang syariah, skema investasi yang ditawarkan BSS jelas-jelas dilarang menurut Islam karena terdapat keuntungan yang pasti dan sudah ditetapkan sebelumnya. Jauh lebih adil manakala keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Pemodal bisa mendapatkan keuntungan yang sepadan dengan risiko. Keuntungan tidak diperoleh dari (kepastian) jumlah keuntungan dari modal yang ia pinjamkan, namun ditentukan berdasar rasio bagi-hasil dari keuntungan yang disepakati.

Apa pun pilihan yang diambil, berbagai modus kejahatan keuangan yang telah banyak terjadi dan memakan korban yang tidak sedikit semestinya membuat investor menjadi lebih jeli dalam membuat keputusan berinvestasi. Selamat berinvestasi dengan bijak !


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: