Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Asti Kumala Putri

tulisan adalah teriakan abadi sepanjang zaman

Konfusius dan Competitiveness dalam Globalisasi (sebuah pandangan)

OPINI | 17 July 2011 | 15:19 Dibaca: 390   Komentar: 1   0

Tahun ini kita patut berbangga diri, karena menurut The global competitiveness report 2010-2011 , world economics forum peringkat competitiveness Indonesia meningkat dari peringkat 55 ke peringkat 44 . Laporan ini diadakan setiap tahun dan melibatkan 144 negara maju dan negara berkembang. Terminology competitiveness memang sudah lama dikenal, awal yang terdeteksi dari sejarah pemikiran ekonomi adalah pemikiran David Richardo pada abad ke-18 , lalu semakin berkembang dalam tiga dekade belakangan. Dalam literatur daya saing memiliki interpretasi dan pemahaman yang beragam,seperti yang dinyatakan Michale e. Porter.

“There is no accepted definition of competitiveness. Whichever definition of competitiveness is adopted, an even more serious problem has been there is no generally accepted theory to explain it . . .. “ (Porter, 1990).

“Competitiveness remains a concept that is not well understood, despite widespread acceptance of its importance . . . . “(Porter, 2003, 2002b).

Terlepas dari pemahaman tentang daya saing yang “fleksibel”, daya saing menjadi sangat penting dalam beberapa dekade belakangan merunut pada kerjasama ekonomi internasional yang semakin gencar diadakan sebagai proses dari globalisasi. Apalagi dengan adanya struktur ekonomi yang berbeda dan keterbatasan lainnya yang mengharuskan kita berhubungan dengan negara lain untuk memenuhi kebutuhan.

Pentingnya daya saing dikemukakan oleh IMD ( Intstitute Management Development) , semenjak terbentuknya WTO (world trade organization) pada 1995. WTO beranggapan bahwa resesi yang terjadi dalam beberapa dekade ini termasuk depresi pada tahun 1930 adalah hasil dari ekonomi tertutup dan proteksi, untuk itu WTO sangat menkankan pada perdagangan internasional. Sehingga peranan daya saing sebagai pengukur kemampuan suatu negara untuk bertahan dalam persaingan globalisasi.

Untuk mengukur seberapa kompetitif sebuah negara International Institute for Management setidaknya ada 4 indikator yang dinilai secara kuantitatif yaitu, Kinerja ekonomi , efisiensi pemerintah , efisiensi bisnis dan kondisi infrastruktur. Indikator inilah yang mengantarkan negara-negara seperti China, Singapura, Taiwan, Hongkong,Malaysia, Brunai darussalam, swis, brasil dan negara asia lainnya tumbuh dua digit dalam beberapa dekade belakangan.

Jika dilihat pada polanya kita akan menemukan, negara-negara yang sekarang mendominasi ekonomi adalah negara penganut konfusius., China, Taiwan, Singapura, dan Hongkong. Terlepas dari penempatan ganda ajaran konfusius sebagai sebuah filsafat atau sebagai sebuah agama. Perkembangan ajaran konfusius di negara asalanya, China, mengalami pasang surut. Seperti dalam masa kepemimpinan Ma0 zedong yang melarang pengamalan ajaran konfusius , lalu selanjutnya pada masa pembangunan ekonomi ajaran konfusiusjuga sempat menyurut setelah kemudian kembali bangkit ketika China menyadari adanya dampak negatif dari kebijakan ekonomi pertumbuhan tinggi . Dampak negatif yang ditimbulkan terutama semakin meradangnya masalah, sosial, moral dan politik . Begitu juga dengan negara-negara konfusius lainnya di Asia.

Dalam kenyataanya di tengah kebangkitan ekonomi negara penganut konfusius , muncul gejala kemerosotan soal tanggung jawab sosial akibat sistem kapitalisme yang secara de facto diterapkan pada masing-masing negara. Ajaran utama Confucius yang menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas atau kebajikan menjadi satu-satunya obat dari masalah tersebut. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Sebagai contoh, kewajiban terhadap negara. kesadaran yang seperti ini jika dijalankan secara konstiunitas maka akan menciptakan keseimbangan dalam sisi makro. Lebih jauhnya lagi, ketika semua masyarakat mematuhi peraturan yang ada serta infrastruktur institusi dibangun dengan baik. Maka semua pelaku ekonomi bisa menjalankan fungsinya dengan efektif. Seperti pemerintah yang menjalankan fungsinya sebagai regulator, para entreprenuer sebagai pelaku usaha dan masyarakat pun turut membantu menciptakan dan merasakan kenyamanan dalam bernegara.

Sebenarnya jika kita lihat dari attitude sebuah negara, negara-negara maju yang memiliki kemapanan ekonomi biasanya memiliki pemikiran yang lebih dewasa baik terhadap memberikan porsi kepercayaan terhadap pemerintah maupun menanggapi masalah-masalah institusi. Tidak seperti negara-negara berkembang yang pemikirannya masih belia dan mudah diadu domba politik, negara-negara maju biasanya cendrung memiliki pertimbangan sendiri jika dihadapkan pada suatu masalah dan tidak mudah digoncang konflik. Selain itu, pemerintah pada negara maju juga memiliki pemikiran yang tidak hanya sekedar politik, authority dan materialistis seperti yang terjadi di negara berkembang, di negara maju pemerintah berpikir bagaimana bisa berperan sebagai penyokong kemajuan bangsanya.

Lebih lanjutnya lagi ketika efisiensi pemerintah tercipta lantaran adanya kepercayaan antar masyarakat dan pemerintah, serta didukung oleh efisiensi ekonomi, maka dua indikator lainnya akan secara langsung mengalami peningkatan. Maka tak heran jika negara-negara penganut konfusius berdiri di kelompok negara papan atas dengan potensi dan kinerja investasi yang tinggi. Meningkatkan investasi merupakan bukti nyata adanya peningkatan daya saing investasi pada tiap negara. Proses globalisasi menjadikan kompetisi diantara perusahaan internasional meningkat, demi menjaga kelangsungan usahanaya kini perusahaan memetingkan penghematan biaya tetap (fixed cost) seperti hara beli/sewa lahan, kualitas infrastruktur, dan non-fisik seperti kemapanan aturan usaha atau perburuan. Hal-hal seperti yang di ekpektasikan diatas hanya bisa diperoleh para investor pada negara-negara berdaya saing tinggi.

Sedikit memberikan opini tentang konsep perdaganagn internasional bahwa perdagangan internasional akan menciptakan surplus baik produsen maupun konsumen, dan kunci untuk memenangkan perdagangan internasional adalah daya saing. Negara-negara konfusius berhasil mengadapsi nilai-nilai agama budaya kong hu cu dalam kegiatan perekonomian kapitalisnya, sehingga mereka menemukan jati diri dan identitas yang kuat untuk membangun negara tidak hanya dari sisi ekonomi yang menciptakan kesejahteraan tapi juga dari sisi sosiologis yang justru menjadi fondasi utama kebangkitan suatu bangsa.

Padang, 17 juli 2011

21:50

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 16 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 18 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 19 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 20 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 25 October 2014 08:22


HIGHLIGHT

Selamatkan Kawasan Ekosistem Leuser Aceh …

Nur Terbit | 9 jam lalu

Terinspirasi = Plagiat ? …

Aqsa Intan Pratiwi | 9 jam lalu

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kontroversi Pengangkatan Menteri oleh …

Edward Pakpahan | 9 jam lalu

Pesta Raffi Ahmad dan Bakiak Lady Gaga …

Ifani | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: