Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Muhammad Wislan Arif

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, selengkapnya

Bandara Soetta Akan Direnovasi Atau Perluasan Atau Bangun Baru? [EkonomiNet – 15]

OPINI | 30 July 2011 | 06:25 Dibaca: 287   Komentar: 4   0

Bandara Soekarno-Hatta dibangun 1985 — bangunannya bagus, bergaya tropis dan hemat energi. Konon akan dibangun dengan Design berkaca — enggak tahu, yang penting kita pesankan bangunan harus bergaya tropis dan hemat energi !  Biayanya sekian triliun rupiah.

Dari APBN No !   Dari Angkasa Pura boleh saja kalau ada dananya — kalau Pinjaman Luar negeri , No !    Bermitra dengan siapa saja okay asal menguntungkan Indonesia.

Proyek besar dengan anggaran besar menjadi mode di Indonesia saat ini — masyarakat harus berpartisipasi.  Indonesia adalah Negeri dengan Budaya Korupsi — DPR, Pers dan Rakyat harus waspada.

Changi Airport — tidak tahu sudah beumur berapa.  Tetapi kesan kita kalau melalui Bandara itu, tertib, nyaman, teratur, dan bersahaja saja —– rasa yakin Revenuenya dan ROI-nya mungkin berlipat-lipat dibanding Bandara Soetta.

KLIA — Kuala Lumpur International Airport.   Megah, kaya, tertib, teratur, dan di-manage  dengan sempurna. Sejak dari penumpang menjejakkan kaki dari kendaraan atau pun dari pesawat.   Itu mau ditiru boleh juga — tetapi jangan nafsu mewah tetapi Budaya Pulo Gadung !

Ya, angka penumpang konon 20 juta per Semester, kita pakai — tetapi salah satu kelemahan managemen Bandara Soetta, yaitu pengelolaan Arus Manusia dan Alat Bergerak.  Ramai tidak tertib

Arus Manusia yang bergerak di Bandara Soetta — penumpang dan Orang-orang yang berkepentingan.   Berjubel, seperti di Terminal Pulo Gadung.  Bukankah itu yang membikin kapasitas Bandara tidak optimal ?  Di sana tidak terasa nyaman dan aman.

Changi Airport tahun 1995 kita lewati dengan kemarin kita alami — sama saja.  Longgar, tertib, menyenangkan, tidak menakutkan, tidak mengancam,  suasana tentram — seperti di rumah sendiri.

Narita Jepang, Los Angeles atau Logan Airport Boston — di Negeri Paman Sam wajar saja bangunannya.  Cuma Organisasi dan mangemennya yang lebih menguntungkan. Indonesia pun harus demikian bukan kemewahan yang dianggarkan — tetapi keuntungan !

Jadi renovasi Bandara Soetta berpegang pada ini :

1. Dana Harus Bukan dari APBN — kalau dari APBN lebih baik membangun Pelabuhan yang merangkai Sistem Logistik Nasional

2. Dana jangan berasal Utang Luar Negeri, perhitungan di atas kertas sepertinya bisa menyaur utang — tetapi Budaya Korupsi di Indonesia apabila tidak dihabisi — Futurlog mengatakan: Indonesia akan menemukan Default pada tahun-tahun 2035-2045.  Tidak bisa membayar utang Luar negeri-nya yang jatuh tempo !

3.      Dana berasal dari patungan dengan Mitra, silahkan — dengan spesifikasi Bangunan Tropis, ramah lingkungan dan hemat energi

4. Melihat perkembangan Megapolitan Jabodetabek — tepat sekali kalau membangun Bandara lain di areal Jalur Pantura atau Subang -Purwakarta (ingat jalur kereta api).

5. Semua proyek Pemerintah (APBN) atau BUMN harus dilengkapi Ratio Keuangan (projected) dan Ukuran Kinerja Sejenis Asean — agar menjadi Alat Kontrol Auditor, DPR atau Pers dan Rakyat.

6.      Perbaiki Management Operasional Bandara Soekarno-Hatta yang established — jangan menerapkan Budaya Pulo Gadung ala Perhubungan Darat— sehingga kesannya kekurangan kapasitas, sehingga memerlukan space baru..

Rakyat tidak boleh memberi hati lagi kepada BUMN dan BUMD untuk bekerja demi kepentingan mereka sendiri — tanpa target menyumbang kepada Negara yang menjadi Pemilik BUMN dan BUMD — mengembalikan Modal Negara yang Tertanam atau Terpakai.

“Acta est fibula —- Cerita sandiwara telah Usai ” (Suetonius ; kata-kata yang diucapkan Kaisar Agustus sebelum menghembuskan nafas terakhirnya)

Keberanian para Elite dan Birokrat dalam kancah Budaya Korupsi saat ini telah sampai pada pepatah Jawa demikian ini : ” Micakake Wong Melek — menyepelekan Sikap Rakyat yang telah mengetahui Gelagat Jahatnya.”

Gelagat korupsi itu dirancang sejak Ide sampai Pengeluaran Uang dari Kas atau Bank — atau pada saat “Work-in-Progress” melalui faktor produksi : Material, Machine, Management  apalagi Money — DPR waspadalah !

Waspadalah Negeri ini akan tenggelam dalam beberapa Dasa Warsa ini, kalau Budaya Korupsi tidak diberantas setuntasnya sekarang ini ! [MWA]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 3 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 4 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 5 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: