Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

PLTMH, Solusi Listrik Masyarakat Pedalaman

HL | 05 August 2011 | 09:11 Dibaca: 1217   Komentar: 52   6

13125140551674428861

1312491659499852262 Bendungan Ds. Sungai Barang Kec. Kayan Hulu Kab. Malinau Kaltim



Akhir-akhir ini, hampir setengah wilayah negeri ini mengalami krisis listrik. Dimana-mana terjadi pemadaman bergilir. Bahkan pemerintahpun menghimbau untuk berhemat menggunakan listrik. Karena dengan pemborosan menggunakan listrik, kita sama saja menghambur-hamburkan uang Negara.

Jika kita berpetualang ke pedalaman bumi Kalimantan, kita akan menjumpai air terjun kecil-kecil yang cukup banyak. Kalau tinggi dan berarus deras jelas tidak, tingginya hanya beberapa meter saja. Namun bila dibuat objek wisata, nampaknya itu hal biasa dan masih kalah jauh bila di banding air terjun Niagara.

Kali ini saya tidak membahas tentang objek wisata, namun memanfaatkan air terjun untuk kita ubah sedemikian hingga demi memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup orang banyak. Air terjun tersebut kita jadikan sumber energi listrik atau yang sering kita dengar dengan sebutan PLTMH ( Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro ) . Micro Hydro sendiri adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjun dan jumlah debit air. Memang prosesnya tidak mudah, dan biaya tidak sedikit. Dengan kebijakan dari PEMDA setempat untuk mengeluarkan dana APBD. Akhirnya semua bisa berjalan seperti yang kita  harapkan bersama.

Khusus wilayah Kalimantan Timur Kabupaten Malinau , dimana penduduk yang mendiami perkampungan jauh dari keramaian kota, seperti Kecamatan Sungai Boh, Kec. Bahau Hulu, Kec. Mentarang Hulu hingga sampai perbatasan Malaysia yaitu Kec. Kayan Hulu, Kayan Hilir, dan juga Kec. Kayan Selatan. Desa-desanya hampir 75 % sudah memiliki listrik lokal sendiri, yaitu dengan memanfaatkan PLTMH tadi.

13124918941940376659

Potret mesin turbin Ds. Long Berang Kec. Mentarang Hulu Kab. Malinau Kaltim

Mesin turbin yang sering kita gunakan adalah Heksa Hydro . Produk ini asli merk dagang dalam negeri, karya anak bangsa sendiri. Semua yang kita gunakan produksi dari Bandung. Karena kita tahu, di pelosok-pelosok kota Bandung sendiri yang banyak belum teraliri listrik dari PLN atau lokasi memang sulit di jangkau. Banyak juga hal serupa pemanfaatan mata air di jadikan sumber energi listrik dan prosesnya sama persis dengan yang saya kerjakan.

PLTMH jauh lebih efesien bila di bandingkan dengan PLTD ( Pembangkit Listrik Tenaga Diesel ), PLTU ( Pembangkit Listrik Tenaga Uap ), ataupun PLTN ( Pembangkit Listrik tenaga Nuklir ). Karena PLTMH hanya membutuhkan mata air saja, tentunya dengan perhitungan yang matang agar pekerjaan tidak meleset dari yang semula direncanakan.

Mesin rata-rata yang kita gunakan berkapasitas 32 KVA. Tegangan di hitung cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik satu perkampungan. Dimana penduduk perkampungan tersebut kurang lebih berjumlah antara 45 - 100 kepala keluarga.

13124919891615930934

Sketsa Bendungan, Bak Penenang, Dan Mesin Turbin

  • Proses
  1. Kita buatkan bendungan yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pasokan air kedalam mesin turbin.
  2. Pembuatan bak penenang. Bak penenang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air sementara sebelum di distribusikan ke mesin turbin. Selain itu juga untuk menhindari sampah agar tidak masuk kedalam mesin turbin.
  3. Memasang pipa PVC atau pipa besi yang berfungsi sebagai perantara air dari bendungan hingga masuk kedalam mesin turbin. Untuk pemasangan pipa, mengenai panjangnya tergantung dari perhitungan debit air dan elevasi atau ketinggian bendungan dengan posisi mesin turbin. Untuk memperoleh elevasi yang cukup, maka kita mencari air terjun seperti yang saya uraikan di atas.
  4. Pemasangan jaringan listrik, baik SUTM ( Saluran Udara Tegangan Menegah ), SUTR ( Saluran Udara tegangan Rendah ), Gardu Trafo dan SR (sambungan rumah ) + instalasinya.
  5. Setelah semua siap, kita tinggal proses pengoperasiannya.

13124921591896444199

Potret Bak Penenang Ds. Data Dian Kec. kayan Hilir Kab. Malinau Kaltim

Proses pekerjaannya memang sedikit melelahkan. Selain distribusi alat yang hanya bisa di jangkau oleh pesawat. Harga material dalam lokasi perkerjaan tersebut berada juga sangat mahal.

  • Semen, Rp. 2.100.000,-  per  sak @ 40 kg
  • Pasir, per  m³ Rp. 2.000.000,-
  • Besi, Rp. 200.000 -  Rp. 330.000,- @ batang Ø 8-Ø12,

Namun semua bisa terobati jika pekerjaan sukses, dan listrik bisa menyala terang. Mesin turbin kita operasikan, panel-panel listrik di setiap rumah kita nyalakan. Begitu gembiranya saudara-saudara kita yang berada di lokasi terbut. Dimana selama hidupnya belum pernah merasakan terangnya listrik. Kini mereka bisa tersenyum gembira ria menyambut perubahan zaman dengan kecagihannya.

Dengan begini masyarakat pedalaman bisa mendapatkan listrik seperti apa yang mereka harapkan selama ini. Tanpa ada pemadaman bergilir, bayar listrik murah ( hanya untuk biaya operasional dan gaji petugas jaga ), tinggal merawat dan menggunakannya. Untuk petugas jaga, biasanya setelah kita melapor kepada camat bahwa pekerjaan selesei. Maka camat membiayai biaya khursus dan menunjuk salah satu putra desa untuk menimba ilmu di luar daerah ( dalam hal ini kelistrikan ). Terutama ke jawa, yaitu ke Bandung, Malang, atau ke Surabaya. Setelah mereka di nyatakan lulus, anak tersebut bisa kembali menjadi penjaga listrik atau bahasa kerennya pegawai PLN ala kampung sendiri.

13126035582140185624

Pembelian pasir ( di angkut manual, di kerjakan warga setempat dengan bergotong royong. Naik turun gunung sepanjang 3 km bergantian secara estafet )

“ Cerita ini saya angkat dari pengalaman mengerjakan proyek di Desa Data Dian, Kec. Kayan Hilir Ds. Sungai Barang Kec. Kayan Hulu Ds. Long Berang Kec. Mentarang Hulu Kab. Malinau Kalimantan Timur “

1312603732128976561

Warga satu kampung, semua turun untuk gugur gunung.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Si Belang dan Si Nenek …

Raafiud D. Mikada | 7 jam lalu

Cerita Romantis 25 …

Eko Kriswanto | 7 jam lalu

Mengisi Akhir Pekan: Melepas Kangen …

Dewilailypurnamasar... | 7 jam lalu

Lelah …

Tuti Amaliah | 8 jam lalu

Hobi Penikmat Event …

Farizal Hammi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: