
Dibaca: 428
Komentar: 12
Nihil
Kerja di perhotelan memang tak selalu menyenangkan. Apalagi kalau manajemen internalnya sendiri sudah buruk, seperti pengalaman salah seorang muslim, sebut saja si Fulan. Fulan yang bekerja di sebuah hotel bintang 4 di Solo merasakan betapa beratnya menjadi seorang muslim yang bekerja sebagai resepsionis.
“Menjadi resepsionis hotel disini ibarat bekerja di negeri orang kafir,”ungkap si Fulan. Di waktu ramadan, saat dapat tugas shift malam si Fulan seringkali harus membangunkan para tamu hotel. Payahnya, shift malam ini dia sendirian karena partner kerja yang lain sudah dijadwal untuk melayani ramainya tamu sejak pagi hingga waktu buka puasa. Seringkali saking banyaknya tamu yang harus ditelepon untuk sahur, si Fulan jadi lupa menunaikan sholat subuh. Terkadang, saking jengkelnya bekerja sendiri tanpa partner, si Fulan kerap meninggalkan counter nya untuk pergi sholat subuh yang menyebabkan banyak tamu komplain yang telat makan sahur atau bahkan tidak bisa bangun untuk santap sahur dan sholat subuh.
Meski sering memberi masukan pada atasan untuk segera merekrut karyawan lagi, namun pihak manajemen masih tak bergeming. Bahkan seringkali jawaban yang diberikan atasan cukup mengecewakan, “Take this job, or leave it.”
Yang lebih menjengkelkan, tugas si Fulan tak sekedar mengurusi reservasi dan komplain tamu, tapi juga menangani bussiness center, melayani pembeli di bagian retail, dan seringkali mengerjakan tugas laporan Duty Manager mengingat Duty Manager yang lama sudah hengkang dari hotel tanpa ada penggantinya.
Menjadi karyawan muslim di negeri yang mayoritas muslim, bukan berarti kebebasan beribadahnya terlindungi. Karyawan muslim masih banyak yang dikebiri hak-haknya dan kerap mendapatkan diskriminasi dalam masalah ketenagakerjaan. Tak jarang muslimah harus melepas jilbabnya di kala harus tunduk dengan aturan pengusaha, muslim yang harus bekerja overtime tanpa ada toleransi untuk menunaikan shalat lima waktu, dan sayangnya pemerintah seolah lupa untuk melindungi hak-hak karyawan, yang ada justru bagaimana menjalin hubungan yang manis antara politik dan bisnis.