Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Iswadi Suhari

Iswadi Suhari bekerja di BPS. Mendapat gelar Master of Natural Resource Economics dari the University selengkapnya

Dollar Gonjang Ganjing, Sayangi Barang Elektronik Anda

OPINI | 22 September 2011 | 14:48 Dibaca: 337   Komentar: 4   1

1316659467441123930

Foto: kompas.com

Menyusul krisis ekonomi yang terjadi di Amerika dan Eropa terutama Yunani dan Italia yang disinyalir tidak mampu membayar utang negara mereka, negara-negara Asia seperti Indonesia diresahkan dengan nilai kurs dollar yang sangat berfluktuasi dan cenderung naik. Seperti data yang dikeluarkan Bank Indonesia, nilai dollar terus meningkat dan mencapai puncaknya pada 20 September dengan kurs 9.480 rupiah per dollar. Walaupun kemudian turun hingga 9.375 pada tanggal 22 September, sebagai reaksi positif terhadap pernyataan perdana menteri Yunani George Papandreou tentang percepatan pemotongan anggaran terutama anggaran untuk gaji pegawai dan pensiunan agar pemerintah tetap dapat membayar utang luar negeri sebelum jatuh tempo, situasi ekonomi di Eropa dan Amerika belum sepenuhnya pulih. Kemungkinan gejolak krisis masih tetap menghantui.

13166595921794751557

Di sisi lain, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia untuk intervensi pasar dalam rangka menjaga kestabilan nilai rupiah semakin menurun, seperti diberitakan Kompas.com cadangan devisa saat ini berjumlah 122 milliar dollar dan menurut Perdana Wahyu dari Sabang-Merauke Circle, cadangan tersebut hanya cukup untuk enam bulan. Jika krisis berlangsung lebih dari enam bulan maka Indonesia akan mengalami kesulitan dalam membayar utang luar negeri, apalagi intervensi pasar.

Nilai Dollar sangat terkait dengan harga barang-barang impor terutama barang elektronik. Walaupun sebagian barang elektronik diproduksi di dalam negeri tetapi bahan bakunya masih banyak yang masih berupa barang impor. Seperti diungkapkan Ali Soebroto Oentaryo, Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), kepada Tempo interaktif, tidak hanya barang impor, barang produksi dalam negeri seperti besi baja pun diperjual belikan dengan harga dollar. Apalagi proporsi komponen barang elektronik yang diperdagangkan dalam dollar adalah sekitar 70 persen. Faktor produksi yang masih bisa menggunakan rupiah hanya mencakup listrik dan upah pekerja. Kesimpulannya, harga barang-barang elektronik mau tidak mau, suka tidak suka, dengan sendirinya akan turut hanyut dengan gonjang-ganjing kenaikan nilai dollar terhadap rupiah ini.

Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh konsumen arif dalam menyikapi situasi ini? Yang pasti Anda harus lebih menyayangi barang-barang elektronik Anda seperti komputer, televisi, kulkas, handphone dan lainnya. Pergunakanlah barang-barang elektronik Anda sesuai dengan petunjuk pemakaian. Hindari pemakaian yang berlebihan dan sia-sia seperti menyalakan televisi di saat tidak ada yang menonton. Disamping akan membuat pengeluaran Anda semakin membengkak, juga akan mengurangi umur barang elektronik Anda dengan sia-sia. Untuk barang-barang portable seperti handphone, tablet, dan audio gadget lainnya, letakkanlah di tempat yang aman dan dengan posisi yang benar dengan kesadaran penuh agar terhindar dari kerusakan yang diakibatkan oleh ketidaksengajaan seperti terduduki atau tersiram air. Menyimpan barang portable dengan kesadaran penuh juga akan mengurangi resiko kehilangan. Walaupun sederhana, tindakan ini akan memperpanjang umur barang elektronik Anda setidaknya hingga gonjang-ganjing dollar berhenti.

Sumber: Bloomberg.com, Kompas.com, Tempo Interaktif, Bank Indonesia, Viva News.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: