Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Michael Emil

Baru di tahbiskan menjadi seorang sarjana

Kesiapan Industri TIK Indonesia dalam Menghadapi Perdagangan Bebas (CAFTA)

OPINI | 21 October 2011 | 10:17 Dibaca: 1356   Komentar: 0   0

Tingginya kebutuhan dan penetrasi perangkat digital dalam berbagai aspek kehidupan manusia secara tidak langsung telah menciptakan sebuah industri raksasa di bidang teknologi digital yang melibatkan hampir seluruh bangsa-bangsa besar di dunia, dengan nilai bisnis yang dari hari ke hari meningkat. Dalam era globalisasi dimana Indonesia di tuntut untuk tidak hanya sebagai penonton melainkan ikut serta berperan aktif dalam globalisasi TIK khususnya dalam perdagangan bebas yang di hadapi Indonesia saat ini. Untuk itu Perlu sebuah perencanaan yang matang untuk pengembangannya. Hal ini tentu saja akan tercapai apabila pemerintah berperan aktif dalam memaksimalkan segala potensi yang dimiliki oleh Indonesia baik dari sektor sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM).


Globalisasi menyebabkan dunia menjadi semakin horizontal dan terasa tanpa ada batas antar negara-negara. Globalisasi sangat dirasakan di bidang ekonomi terutama perdagangan. Dengan globalisasi memungkinkan sebuah produk melakukan eskpansi pasar. Di bidang perekonomian dan perdagangan beberapa Negara juga membentuk kerjasama atau aliansi. Pengaruh yang paling besar bagi Indonesia adalah munculnya perdagangan bebas antara Negara-negara China dan ASEAN yang ditandai dengan ditandatanganinya perjanjian perdagangan bebas tanggal 29 November 2004 dan pada Januari 2010 mulai dilaksanakan tariff 0% untuk mayoritas produk pada China Asean Free Trade Area (CAFTA).

Usulan pemberlakuan tarif 0% untuk kelompok produk seperti besi baja, tekstil,permesinan, elektronika,Kimia Anorganik Dasar, Petrokimia, Furniture, Kosmetika, Jamu,Alas kaki,produk industri kecil dan maritim. Konsekuensi dari tarif 0% tersebut yaitu kemudahan dalam melaksanakan perdagangan antar negara dan harga produk antara negara China dan Asean lebih murah. Bagi Indonesia ada kekhawatiran produk-produk dalam negeri tidak dapat bersaing dengan produk asing di dalam negeri dan juga daya saing produk Indonesia di luar negeri.

Industri Teknologi Informasi dan Komunikasi juga menghadapi masalah yang sama dengan industri lain dengan adanya perdangan bebas CAFTA ini. Saat ini produk-produk TIK masih didominasi oleh Negara-negara eropa dan produk China yang sudah gencar memasuki pasar Indonesia. Di Industri TIK, Indonesia masih banyak sebagai pemakai (konsumen) bukan produsen. Komponen untuk TIK  masih banyak impor. Lebih dari 60 persen  pekerjaan manukfakturing TIK bukan milik Indonesia. saat ini kondisi maufaktur TIK Indonesia dalam keadaan stagnan walaupun memiliki sumber daya penelitian dan pengembangan yang kuat.

Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media (Puskur Diknas Indonesia).

Perdagangan Bebas, adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels Belgium. Perdagangan bebas dapat juga di definisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda ( Susetyo,2011).

Industri Teknologi Infomasi dan Komunikasi atau dalam bahasa Inggris di kenal dengan istilah Infomation and comunication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi (wikipedia)

Perkembangan Industri TIK di Indonesia.

Bisa dikatakan saat ini perkembangan TIK di Indonesia sangat pesat. Kita lihat saja dari beberapa fenomena yang ada. Pertama, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2011 tercatat mencapai 45 juta orang. Angka ini akan terus melonjak hingga 12 bulan ke depan karena semakin terjangkaunya harga komputer dan ponsel berteknologi maju. Kedua, peningkatan pengguna ponsel di Indonesia tercatat telah mengalami kenaikan menjadi 53%. Itu artinya sekitar 125 juta orang, lebih dari setengah penduduk Indonesia, telah menggunakan ponsel dalam kehidupan sehari-hari. Dari dua fenomena tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang besar untuk produk TIK. Lalu, bagaimana dengan bisnis TIK di Indonesia sendiri? Ternyata bisnis TIK dalam negeri pun juga mengalami kemajuan Bahkan ada survei yang mengatakan bahwa pertumbuhan rata-rata tahunan bisnis TIK di Indonesia antara 2010 hingga 2014 akan mencapai 15 persen. Angka yang cukup tinggi untuk suatu negara berkembang (Jadid, 2011).

Melihat potensi pasar yang begitu besar dan berkembangnyabisnis TIK dalam negeri, maka lirikan dari luar negeri pun mulai tertuju pada Indonesia. Contoh nyata terjadi pada Koprol, layanan sosial media berbasis lokasi buatan Indonesia. Tidak ada yang menyangka startup (perusahaan perintis) lokal itu diakuisisi oleh salah satu raksasa Sillicon Valey, yaitu Yahoo!. Kaskus sebagai portal komunitas Indonesia terbesar juga mengalami sukses besar. Lihat juga kesuksesan Kaskus. Portal komunitas Indonesia terbesar. Situs ini juga sering menerima tawaran kerjasama dan akuisisi dari luar negeri mercusuar TIK di Indonesia mulai terbentuk (kaskus).

Kelebihan dan kekurangan TIK Indonesia.

Dalam perkembangannya TIK dalam negeri memiliki kelebiha-kelebihan yang dapat di manfaatkan untuk mengembangkan Industri TIK dalam negeri, beberapa kelebihan yang dimiliki yakni, jumlah tenaga kerja yang cukup besar, terampil dan berpengalaman, Industri besar TIK sudah berinvestasi di Indonesia (IBM, Oracle, Microsoft, SUN Microsystems, INTEL, dll). secara alamiah telah terbentuk komunitas TIK yang berpotensi membangun cluster. industri pendukung/komponen sudah diproduksi di dalam negeri, telah tersedia infrastruktur meskipun belum merata.

Selain memiliki kelebihan, TIK dalam negeri pastinya juga memiliki kekurangan. Beberapa kekurangan yang di miliki antara lain, Lingkungan usaha belum kondusif, belum ada kepastian hukum. Dukungan riset, pengembangan dan transfer teknologi masih lemah karena terbatasnya pembiayaan. Belum tersedia Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk TIK Pasar ekspor terbatas. Ketergantungan barang modal, komponen dan bahan baku impor masih tinggi. Terbatasnya SDM profesional sebagai wirausahawan pengembang dibidang TIK. Potensi usaha berbasis TIK belum dikembangkan secara optimal dan masih tingginya tingkat pembajakan produk piranti lunak.

Tantangan dan Peluang

Tantangan yang di hadapi dalam pengembangan industri TIK dalam negeri dari sektor SDM yakni masih rendahnya kemampuan untuk memproduksi SDM TI , ini terlihat dari distribusi SDM TI yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia, hanya terfokus di beberapa wilayah saja.

Sedangkan peluang yang di miliki antara lain, peluang pertama terkait dengan dibutuhkannya perangkat komunikasi lintas pulau yang dapat dipergunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk berbagai kebutuhan dan keperluan hidup sehari-hari, baik untuk bekerja, beraktivitas, berorganisasi, berkoordinasi, maupun berinteraksi. Dapat dibayangkan betapa besar pasar dalam negeri yang dapat digarap hanya di sektor telekomunikasi ini. Peluang kedua tumbuh dari kenyataan bahwa kondisi geografis yang ada, terciptanya lingkungan kehidupan yang sangat heterogen. Keberagaman suku, adat, dialek, agama, ras, dan budaya di tengah-tengah lingkungan yang subur untuk melakukan kegiatan pertanian, peternakan, perkebunan, pertambangan, pelayaran, dan perdagangan ini secara langsung berakibat pada terciptanya beraneka kebutuhan yang berbeda-beda.

Dalam konteks TIK, hal ini berarti bahwa setiap daerah atau komunitas basis, pasti membutuhkan model aplikasi TIK yang berbeda-beda pula. Dengan berasumsi bahwa setiap kecamatan memiliki keunikan tersendiri, paling tidak pasti dibutuhkan lebih dari 5.000 variasi aplikasi e-business atau e-commerce yang perlu dibangun dalam abad moderen ini. Belum lagi jika berbicara masalah implementasi konsep e-government, dimana jika disandingkan dengan konsep otonomi daerah, paling tidak akan ada lebih dari 400 variasi aplikasi di Indonesia. Mengingat bahwa setiap varian merupakan sebuah sistem informasi yang dibangun oleh ratusan bahkan ribuan modul, maka dapat dilihat seberapa besar potensial industri perangkat lunak di tanah air.

Potensi ini masih sebatas jika perspektif yang dipakai adalah aspek geografis. Jika yang dilihat dari perspektif lainnya, seperti domain industri vertikal misalnya, maka peluang yang dimaksud akan semakin luar biasa besarnya.

Pengaruh Globalisasi Terhadap Industri TIK di Indonesia

Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Menurut Edison A. Jamli (Edison A. Jamli dkk, Kewarganegaraan, 2005), globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan.

Sebagai sebuah proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi, informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan, dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Makin canggih dukungan teknologi tersebut, makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain.

Namun perlu diingat, pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan, ketepatan, akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu, tenaga dan biaya. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database), dan masih banyak lagi.

Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK, misalnya dari globalisasi aspek ekonomi, terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.

Strategi Pengembangan TIK untuk menghadapi Perdagangan bebas.

Keberpihakan terhadap industri dalam negeri di satu sisi, dengan tetap mempertahankan dan memperhatikan unsur kompetisi di pihak lain, dan tetap berada pada jalur koridor hukum maupun perjanjian global sering diistilahkan dengan pendekatan 3C (collaboration, competition, and compliance). Contohnya adalah sebagai berikut. Dari sisi compliance, industri TIK nasional tetap patuh pada aturan World Trade Organisation (WTO) atau pun perjanjian-perjanjian dagang bilateral maupun multilateral lainnya. Agar produk-produk dan jasa-jasa lokal dapat bersaing di dalam negeri, sudah saatnya pemerintah memperlihatkan “keberpihakannya” dengan cara memperhatikan secara khusus dan seksama beraneka ragam usaha-usaha komunitas masyarakat dalam berinovasi dan berkreasi.

Dalam konteks collaboration, kerjasama antara ABG (baca: Academe-Business-Government) merupakan kunci penting keberpihakan stakeholder lokal akan produksi dalam negeri. Kerja keras membangun produk/jasa TIK yang tidak berkesudahan, alokasi sumber daya negara untuk mendukung riset dan pengembangan di bidang TIK, kampanye pentingnya TIK dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,promosi kehandalan produk-produk dalam negeri, merupakan sebagian usaha yang secara konsisten dan berkesinambungan harus dilakukan.

Perkembangan industri TIK Indonesia dewasa ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini memungkinkan Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemain utama bagi industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Agar produk-produk dan jasa-jasa lokal dapat bersaing di dalam negeri, sudah saatnya pemerintah memperlihatkan “keberpihakannya” dengan cara memperhatikan secara khusus dan seksama beraneka ragam usaha-usaha komunitas masyarakat dalam berinovasi dan berkreasi

Dalam menghadapi era globalisasi dalam perdagangan bebas telah banyak strategi yang di rumuskan oleh pemerintah. Strategi ini mencakup dari persiapan SDM dan SDA yang di miliki, sampai pada sengembangan beberapa program yang telah dimiliki oleh TIK nasional.

Agar industri TIK dalam negeri dapat terus menerus mengalami peningkatan, hendaknya pemerintah harus bekerja sama dan mengajak semua masyarakat untuk ikut andil dalam pengembangan TIK dalam negeri. Pemerintah harus mampu mencuri perhatian dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat dan juga terus menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi para konsumen dalam negeri. Pemerintah juga harus serius dalam menjalankan program-program yang telah disusun, sehingga program-program ini tidak hanya sebatas program belaka, melainkan dapat terealisasi sesuai dengan tujuan yang telah di susun.

Terima Kasih…@_@

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 7 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 7 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: