Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ella Zulaeha

Owner www.bursatasbranded.com

Ijazah Ditahan Perusahaan: Sebuah Jebakan Ataukah Jaminan?

HL | 30 October 2011 | 05:27 Dibaca: 9094   Komentar: 64   7

13199524271742906556

http://erwan.lemonnier.se/talks/contract.html

Faktanya, mencari pekerjaan di jaman sekarang memang sangat sulit. Selain disebabkan banyaknya jumlah pencari kerja, kebutuhan hidup yang makin mendesak pun menjadi pilihan yang tidak dapat ditawar lagi. Di tengah kepanikan tersebut, banyak pencari kerja akhirnya memutuskan untuk menerima pekerjaan yang ditawarkan dalam bentuk apapun, asal yang bersangkutan bisa bekerja dan menghasilkan pendapatan demi menyambung hidup.

Kenyataan demikian sungguh berat, ketika kita telah bersusah payah menuntut ilmu di bangku kuliah namun pada saat mencari pekerjaan terasa sangat sulit. Ijazah pun seolah hanya menjadi simbol yang tak berarti. Bahkan mereka yang lulus S2 pun masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Melihat melonjaknya angka pencari kerja membuat perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan pun semakin tinggi hati dalam membuat peraturan dalam kontrak kerja dengan para pekerjanya. Salah satu kebijakan perusahaan yang sekarang marak terjadi adalah dengan menahan ijazah asli para pekerjanya. Namun benarkah kebijakan perusahaan ini merupakan jaminan terhadap pekerjaan para pekerja ataukah bertujuan sebagai perangkap atau jebakan bagi para pekerja?

Belum lama ini keponakan suami saya, Rani (bukan nama sebenarnya) bekerja pada sebuah minimarket di wilayah Salemba, Jakarta Pusat. Dengan gaji UMR yang diterimanya, bagi Rani yang baru lulus sekolah SMK merupakan kebanggaan tersendiri karena ia bisa mendapatkan penghasilan sendiri dari hasil kerja kerasnya. Diharapkan dari gajinya itu ia bisa kuliah. Sebelum Rani mulai bekerja di sana, ia terlebih dahulu diminta menanda-tangani sebuah kontrak kerja. Rani sempat bingung, karena ia hanya diminta untuk menandatangani blangko kosong.

Menurut informasi dari management perusahaan itu, kontrak kerja yang asli tersimpan di kantor pusat. Karena saat itu Rani memang sedang membutuhkan pekerjaan, maka tanpa pikir panjang ia langsung menandatangani kontrak kerja tersebut. Hal ini tentu amat sangat disayangkan. Karena tindakan Rani tersebut merupakan sebuah kecerobohan besar.

Rani pun memulai aktifitasnya di minimarket tersebut sebagai seorang kasir. Awalnya Rani merasa bersemangat dengan pekerjaan barunya. Seiring berjalannya waktu, Rani merasa tidak kerasan bekerja di tempat itu. Hal yang paling membuat Rani tidak berkenan bekerja lagi di tempat itu karena setiap kali ada kehilangan barang di minimarket tersebut, Rani harus bertanggungjawab mengganti kehilangan tersebut. Dengan gaji yang tak seberapa yang diterimanya, Rani harus Rela gajinya dipotong hingga ratusan ribu untuk menutupi atau mengganti rugi kehilangan barang yang terjadi sebagai konsekwensi resiko pekerjaannya sebagai kasir.

Hal itu terjadi berulang kali. Rani yang merasa bukan pelaku yang menghilangkan barang-barang tersebut menjadi geram karena setiap bulan gajinya selalu dipotong. Dari desas-desus yang tersebar dari rekan-rekan Rani, barang-barang yang hilang itu sebagian besar adalah pekerjaan para senior mereka di perusahaan itu. Para Manager yang ada di minimarket itu pun tidak mau ikut bertanggungjawab atas kehilangan yang terjadi.

Satu hal yang sungguh tidak disukai Rani dari management perusahaan tersebut adalah soal mutasi atau pemindahan para karyawan yang dilakukan secara sepihak. Rani yang dinilai sering bermasalah karena menghilangkan barang-barang di minimarket tersebut kemudian diminta untuk pindah ke minimarket di wilayah Jakarta Utara. Rani kaget bukan kepalang, karena tanpa persetujuan terlebih dahulu dari dirinya, management memberitahu Rani sehari sebelum Rani diminta pindah. Bisa dibayangkan kekalutan dan emosi yang terjadi pada diri Rani.

Akhirnya Rani memutuskan untuk segera berhenti bekerja di minimarket itu setelah 8 bulan bertahan. Ternyata belakangan baru mengetahui kalau ia bermaksud keluar dari pekerjaannya, ketentuan perusahaan menetapkan minimal harus 1 tahun. Bila sebelum 1 tahun pekerja meminta berhenti atau mengundurkan diri, maka Perusahaan terlebih dahulu harus merinci kerugian yang terjadi selama pekerja bekerja di minimarket tersebut. Saat Rani mengajukan pengunduran diri, ia kaget sekali karena management perusahaan memintanya untuk menebus ijazahnya sebesar 1 juta Rupiah. Uang tersebut telah dirinci dengan jumlah notabon yang telah dihilangkan Rani selama ia bekerja di minimarket tersebut. Lagi-lagi Rani berang dengan keputusan Perusahaan.

Sudah hampir 3 bulan ini Rani kesulitan untuk mendapatkan kembali ijazahnya. Bahkan sudah 3 kali ia bolak-balik memintanya namun belum jua dipenuhi. Karena hingga saat ini ia belum mendapatkan pekerjaan yang baru, tentunya uang sejumlah 1 juta Rupiah itu terasa sangat berat baginya. Walhasil hanya kepiluan hati Rani yang kini menjadi kisah hidup Rani. Ia sangat menyesalkan keputusannya bekerja di tempat itu karena sebelumnya tidak membaca kontrak kerja yang mengatur kebijakan perusahaan. Seandainya Rani tahu akan begini kejadiannya, tentunya ia akan berpikir seribu kali menerima pekerjaan sebagai kasir di minimarket tersebut.

Masih menurut penuturan Rani, rekan kerjanya yang lain yang sama-sama berprofesi sebagai Kasir akhirnya merelakan ijazahnya sampai saat ini tersimpan di perusahaan itu. Rekan Rani yang berasal dari Jogja itu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dengan meninggalkan berjuta penyesalan karena telah bekerja di minimarket tersebut.

Mendengar kenyataan tersebut, hati saya merasa sangat prihatin. Hidup yang sudah sulit, harus ditambah dengan kesulitan lainnya akibat kebijakan perusahaan yang terasa sangat menjebak para pekerjanya dengan menahan ijazah mereka.

Bila kita mengacu pada Undang-Undang Ketenagakerjaan, sebenarnya tidak ada ketentuan yang memuat aturan tentang kewajiban pekerja atau karyawan menyimpan ijazah pada perusahaan. Sangat mungkin beberapa dari perusahaan yang memiliki kebijakan menahan ijazah karyawannya tidak mengindahkan aturan ketenagakerjaan. Itulah mengapa akhirnya perusahaan membuat kontrak kerja yang dirasa sangat kejam bagi karyawannya.

Sebenarnya tujuan dari penahanan ijazah tersebut adalah semata-mata sebagai benda jaminan. Dalam kasus Rani, Ijazah asli milik pekerja digunakan sebagai jaminan kontrak kerja antara perusahaan dan pekerja. Dengan kata lain, benda jaminan dalam perkembangannya telah mengalami penafsiran ekstensif. Pada dasarnya benda jaminan adalah sesuatu yang memiliki sifat kebendaan, dapat dialihkan dan memiliki nilai ekonomis. Tetapi dalam ijazah tidak tampak adanya kenyataan bahwa ijazah dapat dialihkan maupun memiliki nilai jual atau nilai ekonomis. Dengan kata lain, nilai ekonomis ijazah tersebut tidak ada. Dalam dunia kerja, ijazah biasanya digunakan sebagai syarat terlampir. Namun yang terjadi kini, banyak perusahaan yang kemudian memberlakukan ijazah pekerjanya sebagai jaminan kontrak kerja.

Sesuai ketentuan pasal 1320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang memuat tentang syarat sah suatu perjanjian, penggunaan ijasah sebagai jaminan kerja dinyatakan dapat diterima dan sah. Oleh karena hal tersebut telah disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu pihak perusahaan dan pekerja. Dan kedua belah pihak telah memberikan persetujuannya sehingga terjadi keterikatan mereka secara hukum (pasal 1313). Sayangnya hingga kini belum ada peraturan pemerintah yang dengan tegas menyatakan bahwa penggunaan ijasah sebagai jaminan adalah tidak sah, maka status ijasah sebagai jaminan kontrak adalah menjadi sah menurut hukum. Ijasah dalam kasus ini merupakan jaminan kebendaan karena bersifat materiil.

Sebenarnya ijazah tidak dapat digolongkan sebagai jaminan kebendaan, akan tetapi sebagai jaminan yang lain. Sebagai benda jaminan, ijazah memiliki kekuatan, yaitu pada naskah asli ijazah yang merupakan surat otentik. Perusahaan biasanya hanya meminta pekerjanya untuk menunjukan asli ijazahnya untuk disesuaikan dengan copy yang mereka terima dari pekerja. Fungsi ijasah sebagai jaminan yang ditahan oleh perusahaan adalah dapat dibenarkan secara hukum, yang dalam hal ini difungsikan sebagai penekan kepada karyawan agar memenuhi semua tuntutan yang diberlakukan perusahaan sebagaimana termaktub dalam perjanjian. Oleh karena itu ijazah dapat dijadikan sebagai benda jaminan, akan tetapi hanya sebatas jaminan terhadap pekerjaan dan bukan merupakan jaminan piutang.

Sebuah catatan penting bagi anda yang saat ini tengah mencari pekerjaan. Hendaknya bisa belajar dari kasus yang terjadi pada Rani tersebut. Sekalipun anda membutuhkan pekerjaan mendesak sebaiknya tetap cermat dalam menerima sebuah pekerjaan. Perhatikan dengan baik ketentuan dan kebijakan yang diterapkan perusahaan sebelum di kemudian hari anda merasa terjebak dan menyesal. Terutama dalam menyikapi kebijakan perusahaan yang mengharuskan pekerja untuk menyimpan ijazah asli pada perusahaan. Bacalah dengan cermat kontrak kerja yang disodorkan kepada anda.

Pertimbangkan dengan baik sebelum anda mengambil keputusan tersebut. Pikirkan matang-matang risiko dan konsekwensi hukum yang akan anda hadapi kelak. Karena anda tidak dapat memprediksikan apakah anda akan bertahan lama bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimana jika kemudian anda memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari pekerjaan anda tersebut? Apakah anda siap harus membayar sejumlah uang untuk menebus ijazah anda, karena ternyata memang demikianlah kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan kepada para pekerjanya.

Semoga bisa menjadi perenungan bagi para pekerja, terutama para pengusaha. Selamat siang.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

PĂ©rouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 8 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 10 jam lalu

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 12 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: