Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Irfan_bimantara

Lahir di Kota Blitar 20 Mei 1985. Aktif di Komunitas Kenduri Cinta-TIM Jakarta.

Kacamata Kekuatan UMKM dalam Menyelamatkan Negara dari Perdagangan Bebas

REP | 15 November 2011 | 06:40 Dibaca: 229   Komentar: 0   1

Salah satu media cetak terbesar di ibukota hari ini mengutip pernyataan Gita wirjawan terkait perdagangan bebas 2015. Mestinya dalam rangka menjawab tantangan global, pernyataan untuk membuka selebar-lebarnya potensi perdagangan bebas dipikirkan ulang. Menghindari proteksi perdagangan bebas dengan harapan adanya persaingan yang sehat, justru  hal tersebut, sama sekali menghilangkan dimensi kesejarahannya. WTO sebagai organisasi induk yang mengomandoi perdagangan bebas, dimana hari ini mendapatkan tantangan terbesar dalam sejarah pendiriannya. Serangan bertubi-tubi dari Cina atas segala bentuk produk perdagangan bagi AS dan Eropa, menjadi isu global dimana kedua wilayah tersebut sedang bekerja keras dalam usaha lepas dari krisis ekonomi.

Faktanya hari ini, Industri manufaktur  secara lebih luas dikenal UMKM. Serangan ekonomi Cina atas AS yang hari ini kelabakan akan ancaman kebangkrutan total, atas serangan segala lini industri, sampai ke bagian teknologi piranti lunak dan peralatan perang. Gaya kebijakan yang melakukan proteksi terhadap perusahaan yang berpengaruh bagi keutuhan dan kerahasiaan strategi moneter AS menjadi topik yang begitu penting. Pembelia perusahaan fital di amerika, oleh dana-dana talangan pemerintah harusnya membuat pemerintah melek. Bangkrutnya General motors, AIG dan masih banyak lagi seperti dilansir Reuters menjadi bukti tidak menguntungkannya perdagangan bebas tanpa proteksi bahkan regulasi.

Jikalau kita reka ulang komentar menteri perdagangan tersebut, sangat tidak relevan dengan kondisi di lapangan. Belum lagi stigma yang oleh beberpa ahli ekonom, perihal kebijakan SBY yang terlalu pro-AS. Indikasi intervensi AS bagi susunan kabinat SBY yang menguntungkan AS begitu kuat gejalanya. Wajar saja jikalau kacamata kuda yang pro-AS dipakai begitu saja, tanpa syarat dan analisa yang mendalam. Begitu tegasnya  Cina dalam menolak segala bentuk intervensi dunia barat terhadap kebijakan ekonomi negaranya, begitu berbalik arah dengan kebijakan ekonomi Indonesia yang selalu berlawanan antara pelaku bisnis dengan pemerintah. Contohnya saja komentar Gita wirjawan. Bagaimana bisa, lemahnya industri manufaktur dan ketidakstabilan regulasi negara untuk melindungi  pelaku usaha dalam negeri masih belum ada indikasi positif. Begitu terbukanya tangan seorang menteri perdagangan yang kelihatan kurang melek terhadap kondisi UMKM.

Kondisi yang tidak menguntungkan lagi bagi pelaku ekonomi adalah regulasi yang selalu tidak konsisten. Keberadaan peraturan UU no 20 Tahun 2008 yang secara khusus,  seharusnya menjadi proteksi terhadap UMKM masih belum cukup konsisten di lapangan. Tanggung jawab permodalan, suksesi permodalan, sarana dan prasarana yang masih tetap jauh dari harapan.  Penanganan sektor inilah yang mestinya menjadi fokus lebih besar dalam rangka menyambut perdagangan bebas. Faktanya adalah semakin habisnya pasar tradisional yang tergantikan oleh pasar modern, yang fokus terhadap barang kemasan import. Contoh konkritnya adalah program pembangunan pasar tradisional untuk menjadi bersih dan nyaman belim menjadi fokus perhatian, bukan lagi ke arah penggusuran dan pemindahan. Disitulah fungsi regulasi beserta peraturan perangkatnya, bukan kepada arah menolak proteksi atau peniadaan proteksi.

Selanjutnya tindakan nyata yang harus segera dilakukan oleh pemerintah adalah memetakan kemampuan daya tahan, dalam melakukan usaha mandiri baik mikro, kecil dan menengah. Kekuatan masyarakat yang selalu memiliki kearifan dan kebijakan dalam menghadapi sulitnya ekonomi. Sehingga Peta kekuatan ekonomi UMKM akan sangat menolong penyelamatan ekonomi negara kelak. Belum lagi dukungan pendampingan dan dukungan CSR perusahaan besar, nampaknya akan menjadi sebuah angin segar perekonomian domestik. Harapan yang lebih dinamis dan terencana,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: