Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Mau jadi TKI, pegawai swasta atau pegawai negeri ?

OPINI | 27 November 2011 | 05:45 Dibaca: 579   Komentar: 8   0

13223703891702991679

Sumber foto dari google.com

Suatu kelompok sangat kecil adalah keluarga.
Suatu kekompok terbesar dalam tata Negara adalah bangsa.
Keluarga kecil dan sejahtera, pasti tidak lepas dari kemampuan anggota keluarga (biasanya ayah atau suami sebagai kepala keluarga).
Demikian juga dalam kenegaraan, tanpa SDM yang kuat akan habis tergerus oleh jaman.

Saat saya mengikuti penataran P4 di Berlin, Jerman, dibahas pula tentang “people power” negara China dan partai komunisnya. Termasuk saya yang mendapatkan piagam P4 dan saya bangga sampai saat ini dan masih saya simpan baik baik.

.

People power China yang saat itu penduduknya satu milyar lebih dengan paham komunis. Semua milik adalah milik negara dan untuk negara. Slogan china, bekerja untuk negara dan tak tanggung tanggung bekerja untuk 100 tahun.

Sekarang China berselogan, membangun Negara. Dan tidak tanggung tanggung, juga untuk 100 tahun kedepan. Saya berdiskusi dengan anak anak saya…. Kapan orang China bisa menikmatinya……

Saat saya pendidikan P4, dijelaskan pula tantangan dan antisipasi terhadap pantai komunis China. Dan semua orang yang diduga komunis di bantai dengan dalih komunis. Termasuk pakar dan ahli yang dikirim ke negara timur tidak boleh tampil dalam kegiatan akademik. Termasuk surat atau majalah dari negara timur kena sensor.

Beberapa bulan ini semua tampak berbalik. Banyak koran terkemuka maupun majalah memberitakan yang berbalikkannya. Salah satunya adalah : Golkar Jalin Kerja Sama Ekonomi dengan Partai Komunis Cina.
Mungkin bapak Aburizal melihat China berhasil dalam pembangunan ekonomi maupun pembangunan rakyatnya.
Lalu bagaimana kita di Indonesia? Dalam kaitan ini saya merenung dan berposisi sebagai pekerja.
Sebagai warga negara tidak mungkin semua warga menjadi pengusaha. Bahkan sang pengusaha juga sangat sulit untuk mempertahankan kejayaan bisnis. Tentu saja harus dilihat pula segmen bisnis dan segmen pelaku bisnisnya.
Apakah bapak Aburizal akan belajar dari China, mengurung rakyatnya tidak boleh keluar negeri ? Seperti jaman China menutup diri ? Tidak boleh ada yang keluar maupun masuk ke negeri bambu seperti jaman dulu?

Maukan kita menjadi TKI ?
Saya yakin, tidak ada yang mau, kecuali saja ada yang mau cari pengalaman pribadi alias perorangan saja.
Segala lika liku sebagai TKI sudah di jelaskan oleh bapak Mahfudz Tejani, yang beliau menjelaskan bagaimana suka dukanya sebagai karyawan “batu kali” di negeri seberang.
Termasuk saya sendiri pernah menjadi TKI di Jerman dan saya senang senang saja dan memang niat bekerja yang tidak pernah saya lakukan. Hanya sekedar ingin mengalami untuk profesi saya dikemudian hari. Saat belum masuk kuliah dokter, saya kerja di restaurant dan saya sengaja bersedia membersihkan muntahan anak kecil. Saat saya mulai kuliah, saya bekerja membersihkan pasien yang tidak bisa banggun alias koma. Yah… mandikan dan bersihkan kotorannya…
Dengan harapan suatu masa nanti saya bisa menjadi berhasil dalam hidup dan tidak mau terus terusan menjadi TKI.

Tetapi bila tidak mau jadi TKI ? siapa yang bisa kasih kerjaan ? Tanggung jawab untuk keluarga harus di jalani. Nyatanya hidup sangat keras. Belum tentu saudara mau atau bisa membantu terus menerus.
Pelaku TKI pun pasti tidak mau dengan harga diri dan kemampuannya, untuk terus disokong bantuan hidup. Mereka tidak malas hanya butuh lowongan kerja.

Apakah mau menjadi pengawai swasta di Indonesia?
Saya yakin, dan yakin mereka tidak mau menjadi TKI. Lalu apakah mereka mau menjadi pengawai swasta di Indonesia?
Saya pernah kerja di Jerman, orang Jerman paling suka mempekerjakan orang Indonesia. Bilangnya rajin dan ulet dan gampang di ajarin.

Kita lihat lagi daerah industry di Jabotabek dan Sukabumi. Daerah industri yang banyak sekali menyerap tenaga kerja. Pernah saya melihat ribuan orang dalam satu titik area. Saya kira demontrasi, ternyata mereka mendaftarkan kerja. di Sukabumi, mungkin itu ribuan hektar dan di pintu masuk kawasan luar biasa banyaknya orang yang mau masuk kerja.
Tetapi…. Jaman terus berubah….. pengunaan tenaga kerja makin sedikit. Apakah itu akibat automatisasi maupun efisiensi maupun menurunan pengunaan tenaga kerja akibat ekonomi lesu.

Nyatanya dengan nilai bayaran upah minimal yang terus meningkat, juga terjadi pengurangan tenaga kerja di banyak perusahaan.
Termasuk yang dari Nusa Tengara dan dari Lampung, Palembang semua berdatangan ke Jakarta demi mencari kerja.

Ternyata mereka juga sangat sulit mencari kerja. Mereka bisa bisa bergabung beberapa teman untuk sewa satu kamar kost. Ironisnya dan mirisnya adalah melihat mereka makan. Seringkali satu bungkus mie di rebus dan dibiarkan kuah nya lebih banyak. Lalu di tunggu sampai mie nya membengkak.
Setelah mie nya membengkak baru mereka makan pakai nasi. Katanya biar cukup dimakan berlima teman.
Saya yakin…. Mereka juga tidak mau menjadi TKI dan tidak mau menjadi buruh yang berpenghasilan sangat minim atau malah jarang bekerja.

Apakah mau menjadi pengawai negeri di Indonesia?
Saya menambahkan “di Indonesia”, karena banyak warga Indonesia yang mau menjadi pegawai negeri di negari tetangga. Tetapi bukan itu tujuan saya menulis artikel ini.
Waktu saya kecil di tahun 1970 an awal. Saya di pesan wanti wanti oleh orang tua saya. Harus jadi dokter, biar jadi dosen di universitas Indonesia. Biar bangga jadi orang pintar dan mendidik bangsa.

Ngak usah melihat gajinya….. karena memang itu pengawai negeri…. Yang penting kita bisa praktek dokter… Praktek dengan pengahasilan baik untuk keluarga.
Cerita itu adalah di jaman pengawai negeri yang  gajinya sangat kecil…..
Sekarang… dijaman digital dan globalisasi… semua berbeda…. Gaji pengawai negeri menjadi besar dan sangat cepat naik gaji nya. Sehingga saat ini pengawai negeri sudah cukup tinggi gajinya di bandingkan tahun 1970an. (Maaf saya tidak bicara daya belinya).

Semua mau menjadi pengawai negeri. Pokoknya jadi apalah…. Yang penting pegawai negeri.
Semua mendaftar….. dan tiba tiba keluar penjelasan bahwa untuk jangka waktu yang tidak di tentukan, pengangkatan pegawai negeri di bekukan.
Dengan di stop nya penerimaan karyawan yang masuk kriteria pegawai negeri, maka harus kemana tenaga kerja muda Indonesia.
Selain itu pula tidak semua yang sedang mendaftarkan kerja mempunyai pendidikan yang bisa masuk kriteria CPNS.

Lalu… kemana saya harus mencari kerja ?
Dengan kemampuan dan kesadaran akan sulitnya mencari kerja, tetapi demi tugas tanggung jawab terhadap keluarga, apakah harus memilih menjadi TKI ?……..

Itulah pemahaman saya saat ini. Bahwa mencari kerja di Tanah Air tidaklah mudah.
Dahulu sekitar tahun 1987an, saat saya kembali ke Indonesia, orang tua saya mengatakan bahwa pendidikan dan kesehatan suatu hal yang sangat mahal.

Sekarang saya menambahkan bahwa selain pendidikan dan kesehatan, juga MAKAN itu mahal.
Tentu saja untuk ukuran orang sangat kaya tidak pernah merasa mahal.
Tetapi untuk ukuran yang kita bahas dalam artikel ini bahwa makan saat ini sudah mahal.

Semoga dalam waktu dekat…. Apakah itu globalisasi atau reformasi….. semoga anak istri…. Saudara saudara kita di tanah air dan di negeri seberang kecukupan sandang dan pangan.
Sesuai simbol simbol Pancasila dan undang dasar negara, semoga people power di Indonesia mampu menjadikan anak bangsa setara dunia dan berperan didunia.

Semoga suatu saat ada waktunya dan ada kemungkinan untuk memanggil kembali anak bangsa yang di negeri seberang guna menjadikan burung Garuda Indonesia terbang tinggi dengan gagah perkasa.

Sebalum saya mengakhiri artikel ini. Apak kita harus belajar dari China ?
Sebagai nara sumber boleh saja kita belajar dari pengalaman China. Tetapi apa salahnya kita tetap bersemangat seperti saat berjayanya Kerajaan Majapahit yang di pimpin oleh Hayam Wuruk ?

Mungkin sudah waktunya kita merenungkan kembali sumpah Palapa demi persatuan anak bangsa yang tercerai berai sebagai TKI di negeri orang.
Sedemikian kuatnya Nusantara kita, seharus nya mampu kita membesarkan dan mengayomi anak bangsa dari Nusantara kita yang sangat kuat.

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Apakah kita harus bersumpah…. Setelah tidak ada TKI lagi…. Maka kami baru akan melepaskan puasa.

Catatan:
Hihmah di balik Moratorium PRT ke Malaysia
http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/11/26/hikmah-di-balik-moratorium-prt-ke-malaysia/

Golkar Jalin Kerja Sama Ekonomi dengan Partai Komunis Cina
http://www.tempo.co/read/news/2011/06/06/090338856/Golkar-Jalin-Kerja-Sama-Ekonomi-dengan-Partai-Komunis-Cina

September 2011, Pemerintah Stop Merekrut PNS
http://www.tempo.co/read/news/2011/08/05/173350288/September-2011-Pemerintah-Stop-Merekrut–PNS

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Admin Kompasiana ‘Tertangkap …

Harja Saputra | | 22 December 2014 | 12:45

Mengintip Bali Orchid Garden …

Benny Rhamdani | | 22 December 2014 | 09:36

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 4 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 14 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: