Artikel

Bisnis

Twins Father

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.

Orang Jujur di PLN Itu Bukan Cuma Dahlan Iskan!


HL | 23 February 2012 | 16:43 Dibaca: 1087   Komentar: 20   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

13300031811400687902

ilustrasi/admin (KOMPAS.com/LP)

Ketika Dahlan Iskan dipilih menakodai PLN, banyak mata mengira sosok Dahlan Iskan akan menjadi satu satunya figure yang akan menyelamatkan PLN dari segala persoalan internal dan ekternal mereka. Lewat bukunya yang baru saja saya tamatkan membacanya, Dua tangis dan Ribuan tawa, sosok Dahlan Iskan memang fenomenal dan menginspirasi sekian banyak orang di lingkungan PLN maupun orang yang selama ini mengkritik PLN karena kinerjanya yang buruk.

Jauh sebelum Dahlan Iskan muncul mengurusi listrik, PLN memang didera beribu persoalan, dan yang paling utama adalah masalah integritas personnel maupun peralatan dan pelayanan.

Tapi sebetulnya kehadiran Dahlan iskan di bahtera PLN adalah bukan merupakan representasi dari betapa sedikitnya orang-orang yang berintegritas baik di PLN. Saya mengenal dua sosok yang dalam hal teknis pernah bekerja sama bersama saya ketika saya menerima limpahan tanggung jawab untuk mengelola satu fasilitas laboratorium perusahaan Joint venture Amerika-Australia yang baru saja di bangun di daerah Kemang bogor tahun 1999-2000.

Ada sedikit keterkejutan ketika menemui reliabilitas infrastruktur kelistrikan yang sangat jauh dari harapan ketika fasilitas ini berjalan beberapa bulan. Berulang kali saya “Panen Komplain” dengan para ekspatriate ilmuwan bidang rekayasa genetik tumbuhan yang menjerit seperti orang-orang depresi ketika mendapati satu batch percobaan mereka yang sudah disusun satu minggu gagal hanya karena hilangnya pasokan listrik secara tiba-tiba dan menghentikan semua sequence autoclave yang di set otomatis.

Surat elektronik dari kantor pusat di Saint louis dan Sydney datang demikian keras bunyinya beberapa hari kemudian setelah menerima laporan dari ekpatriate yang kehilangan obyek researchnya dan mengatakan performance fasilitas yang saya kelola tidak bisa diandalkan, yang otomatis membawa nama saya menjadi bulan-bulanan di negeri Paman Sam dan Paman howard sana.

Saya sendiri memang harus garuk-garuk kepala menerima kenyataan listrik yang dipasok dari PLN Bogor dalam satu hari terputus seperti minum obat , tiga kali dalam satu shift jam kerja. Generator yang kami siapkan satu buah tak mampu menanggulanginya karena kedipan sebentar saja proses otomasi yang di Import khusus dari Australia sudah akan membuat proses produksi hilang satu batch.

Sasaran kemarahan saya setelah “dimarahi” para boss adalah PLN, karena dari merekalah listrik itu berasal. Surat saya layangkan ke kantor pusat PLN dan dilimpahkan dengan cepat kepada PLN bogor. Inti pesannya adalah kalimat bahwa “Infrastruktur PLN di Bogor tidak ramah terhadap investasi asing” .

Selang satu hari dari response PLN pusat , kepala PLN Bogor Pak Pandu dan kepala bagian konstruksi PLN Bogor Pak Bangun menyambangi saya dan meminta maaf atas hal tersebut. Mereka nampaknya memang hampir angkat tangan karena jumlah pembangkit dan pasokan yang ada di Bogor ketika itu sangat tidak memadai dan perlu penambahan gardu yang memakan biaya dan waktu yang tidak sebentar.

Akhirnya saya mengancam untuk memutus aliran PLN dan menggantinya dengan tiga set generator sekaligus sebagai pengganti PLN. Baru kali ini konsumen mengancam PLN untuk memutus sambungan, karena biasanya PLN lah yang melakukannya. Tentu PLN akan rugi sebesar dua sampai tiga ratus juta rupiah setiap bulan dimasa itu karena sejumlah itulah yang biasanya kami bayar sebagai biaya beban dan langganan. Kantor pusat setuju untuk mengalokasikan biaya beberapa milyard membeli genset dan akan menjadikan hal ini sebagai berita tak baik bagi kondisi infrastruktur Indonesia di awal tahun 2000 itu di lingkungan pengusaha Amerika dan Australia.

Dua orang dari PLN ini tak hilang akal, hal yang diluar kemampuan mereka untuk menambah daya dan pasokan adalah porsi yang harus diterima, dan mereka mengakui kekurangannya, karena itulah keadaan sesungguhnya Indonesia, namun ide brilian mereka untuk memberikan pada kami aliran listrik terdekat yang memiliki pasokan yang handal berhari hari mereka pikirkan dan upayakan. Alhasil, titik terdekat adalah empat kilometer dari lokasi fasilitas terbentang beberapa kabel bawah tanah yang dipasok dari gardu induk serpong yang kehandalannya sudah terbukti dalam memasok listrik Jakarta.

Pak Pandu dan Pak Bangun mengajak kami datang ke kantornya dan menawarkan untuk mengunakan kabel bawah tanah yang merupakan stock mereka.

“ Kami punya stock kabel bawah tanah pak, tapi pekerjaan pemasangan di tempat bapak ini belum dianggarkan, untuk itu lebih baik kabel itu dibeli lalu biaya kontraktor dan konstruksinya kami serahkan pada perusahaan bapak dan bernegosiasi langsung dengan instalatirnya!” Pak Pandu memberi solusi win-win.

Karena menyangkut biaya yang tidak sedikit namun masih lebih rendah dari biaya pembelian genset, maka saya menyiapkan anggaran dengan cepat untuk mewujudkannya. Tak makan waktu lama dana bisa direalisasikan. Dan saya siap bernegosiasi dengan kontraktor mereka asalkan listrik kami di pindah pasokannya dari saluran atas menjadi saluran bawah tanah dari Jakarta.

Dirapat pertama dua pimpinan PLN bogor ini berpesan dengan sangat kuat kepada para kontraktor mereka untuk tidak mempermainkan harga dan memberi pelayanan sebaik-baiknya. Intinya semua akan mereka lakukan untuk memberikan layanan terbaik bagi investasi yang ada di wilayah mereka, dengan keterbatasan wewenang mengenai penambahan pasokan listrik yang dikelola oleh pihak yang lebih tinggi, mereka dengan optimis dan semangat melayani .

Sampai pada kesepakatan yang terjadi ,maka tak waktu lama semua kabel, peralatan dan kontraktor sudah memulai dan merancang jalur baru serta memasangnya dengan cepat, dalam waktu kurang semingu aliran listrik berpindah dari pasokan atas menjadi pasokan bawah tanah dan tanpa putus sama sekali. Berita baik ini saya kirimkan ke kantor pusat dan menjadikanya suatu nilai tambah bagi reputasi bangsa ini dalam bidang infrastruktur.

Saya masih ingat pesan yang disampaikan oleh direktur teknik di Saint Louis yang menyatakan bahwa mereka puas dengan layanan dan tindakan yang demikian cepat, tak ada yang patut dikhawatirkan dalam hal infrastruktur di Indonesia.

Hingga tiga bulan berjalan kami tak menerima satupun tagihan pekerjaan yang datang dari kantor dan saya menegur kontraktor untuk segera membuat invoice agar tidak terlalu lama dokumentasinya. Namun tak lama surat itu saya layangkan, kepala PLN Bogor menelphone saya dan menjelaskan:

“ Pak Ary, saya tidak bisa membolehkan kontraktor menerima pembayaran apa apa karena semua adalah tanggung jawab PLN, lagipula kami tidak tahu harus menerima pembayaran dari perusahaan bapak dan harus di setorkan rekening mana, nanti saya dikira menjual asset Negara karena kabel itu adalah tercatat milik Negara!” Pak Pandu menjelaskan di amini oleh Pak Bangun dibelakang telephone.

“ Jadi semua pekerjaan ini kan belum dianggarkan pak, bagaimana kontraktor akan dibayar kalau mereka tidak punya surat kerja berdasar rencana anggaran?” Tanya saya.

“ Itu bukan masalah pak, sebentar lagi juga tutup tahun, angaran itu akan kami buat dan mereka bisa mendapatkan talangan dulu dari beberapa pos. Itu sepenuhnya tanggung jawab saya pak dan sudah cukup senang bapak dan perusahaan merasakan pasokan listrik yang bagus dari PLN. Sebagai orang PLN saya terbebani dan segala hal yang saya bisa lakukan semasa masih dalam kuasa kami maka kami akan tetap memberi yang terbaik pak,” Pak Pandu tertawa setelahnya.

“ Sebetulnya kalau anggaran ini di bayarkanpun perusahaan kami tidak akan ada masalah pak, bahkan secepatnya!” ujar saya.

“ Waduhh, jangan yang seperti itu bikin gelap mata kita pak. Kesempatan selalu ada tapi tidak melulu kesempatan itu efeknya baik buat kita disini. Saya mau pensiun nanti dengan nama baik ,Pak Bangun dan teman lainya juga seperti itu, maka kita sudah sama-sama merasakan baiknya pekerjaan ini dan mari sama sama kita pelihara. Semoga bapak puas dengan layanan kami ditempat bapak!” Pak Pandu menutup percakapan yang saya amini, dan kami tak membayar serupiahpun untuk semua yang kami terima. Sebagai gantinya saya menitipkan pada mereka dua ekor sapi gemuk untuk dipotong pada acara idul adha di lingkungan mereka.

Dan ketika kami sama sama meninjau hasil pekerjaan setelah sekian lama terpasang, tiba pada makan siangpun saya mengajaknya ke salah satu restoran yang paling pantas untuk mereka, namun rombongan diminta berbelok ke satu warung nasi kecil dipinggir jalan kemang bogor.

“ Disini lebih terasa bagaimana kita menikmati makanan setelah seharian melihat bagaimana ruwetnya masalah listrik negeri ini” kata pak Pandu.

Kesempatan itu ada, namun untungnya niat tak menyokong segala sesuatu menuju ketidak baikan. Maka PLN tak akan kehilangan apa apa sepeninggal pak Dahlan Iskan, masih banyak ribuan pegawai dan pemimpin PLN yang memiliki integritas tinggi dan mereka terjebak dalam keputusan keputusan tingkat atas yang mereka tak sanggup untuk menjamahnya.

Masih banyak orang jujur disana ,Kita tak perlu mencari seseorang yang menurut kita lebih baik dari Pak Dahlan Iskan, namun lebih penting kita mencari seseorang yang bisa membuat PLN menjadi Lebih baik dari pak Dahlan Iskan.

Tingal bagaimana pengelola negeri ini mencari pemimpin PLN dengan hati dan niat yang bersih, bukan karena bisa memberi setoran proyek sementara aliran listrik ke rakyat banyak menjadi korbannya.

AN

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: