Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Junanto Herdiawan

Pecinta ekonomi dan traveling. Penulis empat buku, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan selengkapnya

Ekonomi Indonesia Lampaui Jerman

REP | 15 October 2012 | 06:59 Dibaca: 2446   Komentar: 1   0

13502589741634165286

Suasana Sidang IMF/WB di Tokyo yang membahas ekonomi global / photo junanto

Indonesia menjadi buah bibir pada saat pelaksanaan Sidang Tahunan IMF/World Bank 2012 Tokyo, 9-14 Oktober 2012, lalu. Newsletter resmi yang dibagikan IMF pada seluruh peserta sidang mengangkat satu topik khusus mengenai Indonesia. Media itu mengangkat hasil riset dari McKinsey dan Standard Chartered yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan melampaui Jerman dan Inggris pada tahun 2030.

Seorang kawan dari Amerika Serikat menyinggung hal itu pada saya, saat sedang berbincang bersama sambil menanti berlangsungnya salah satu sidang dalam rangkaian pertemuan IMF/WB tersebut. Ia menyatakan kekagumannya atas pencapaian ekonomi Indonesia saat ini.

Keyakinannya tentu beralasan. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 90 juta orang yang berada di kelompok “consuming class”. Angka ini adalah angka terbesar di dunia setelah Cina dan India. Dengan kekuatan itu pula, di tahun 2030, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor tujuh dunia dengan nilai pendapatan nasional sebesar 1,8 triliun dolar AS dari sektor pertanian, konsumsi, dan energi.

Indonesia saat ini sedang berada pada laju transformasi yang pesat menuju ke arah tersebut. Saat ini, ekonomi Indonesia berada pada posisi 16 dunia, dengan pendapatan domestik nasional sebesar 846 miliar dolar AS di tahun 2011. Angka ini akan terus tumbuh, hingga mencapai 1,8 triliun dolar AS mulai tahun 2017. Dan di tahun 2030, hanya AS, Cina, India, Jepang, Brazil, dan Rusia, yang berada di atas ekonomi Indonesia.

Kekuatan terbesar ekonomi Indonesia bukan semata ekspor yang didukung oleh kekuatan tenaga kerja dan komoditas, namun justu kekuatan konsumsi domestik dan jasa-jasa, yang menjadi motor penggerak ekonomi nasional.

Melihat potensi yang sedemikian besar, dalam beberapa pertemuan side meeting sidang IMF yang sempat saya ikuti, para investor asing mengharapkan adanya semakin banyak pilihan melakukan investasi di Indonesia. Di satu sisi, mereka yakin dan paham betul akan ekonomi Indonesia ke depan beserta potensinya. Namun saat ingin melakukan investasi, tak banyak pilihan, baik di sektor riil maupun keuangan.

13502590451182932751

Ruang Delegasi Indonesia saat Sidang IMF/WB di Tokyo . photo junanto

Di sektor keuangan, beberapa investor mengharapkan premi yang rendah dalam memegang surat-surat berharga Indonesia. Hal ini mengingat pula bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini tercatat memiliki fluktuasi terendah dalam ekonominya dibanding negara-negara di OECD dan BRIC. Utang pemerintah juga telah turun sebesar 70 persen dan saat ini yang terendah di kalangan negara OECD. Mereka juga mengharapkan munculnya berbagai pilihan investasi alternatif.

Harapan para investor tersebut tentu merupakan peluang dan tantangan bagi Indonesia. Upaya melakukan pendalaman pasar keuangan (financial deepening) menjadi penting dalam memberikan ragam pilihan investasi bagi para investor. Di sisi lain, pembenahan di sektor riil dan infrastruktur perlu terus dilakukan secara serius guna mendukung arah menjadikan ekonomi Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara.

Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada kisaran 5 persen hingga 6 persen, apabila dapat terus dipertahankan, akan menambah jumlah masyarakat kelas menengah hingga 90 juta orang, dengan pendapatan per kapita lebih dari 3600 dolar AS. Apabila kita mampu mendorong pertumbuhan hingga 7 persen, jumlah itu bertambah lagi, dengan masyarakat menengah mencapai 170 juta orang.

Berbagai perkembangan dari sidang akbar IMF di Tokyo pekan lalu kembali mengingatkan kita tentang besarnya potensi Indonesia, dan sempitnya momentum yang sedang kita lalui saat ini.

Apabila potensi itu tidak diwujudkan dalam aksi, dan momentum yang baik dilewatkan begitu saja, karena kita begitu asyik dengan urusan lain, maka prediksi para investor tersebut tidak akan menjadi kenyataan. Tentunya pilihan ada di tangan kita semua saat ini. Salam Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: