Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Muhammad Ridwan

Orang biasa saja, seorang ayah, tertarik dengan isu-isu nasional dibidang politik, ekonomi dan sosial budaya. selengkapnya

Minyak : Antara Berkah Dan Kutukan

OPINI | 27 November 2012 | 02:34 Dibaca: 460   Komentar: 0   0

Pada bulan November 2012, ada dua isu menarik, terkait Minyak dan Gas (Migas), kemudian menjadi headline pemberitaan, baik media cetak mapun elektronik. Pertama, Mahkamah Konstitusi (MK) telah membubarkan Badan Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).

1353956744618040569

Dibubarkannya BP Migas oleh MK, disebabkan UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang BP Migas, bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki hukum mengikat. Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, langkah pembubaran BP Migas oleh MK ini sangat tepat, karena bertentangan dengan konstitusi.

“Pertentangan dengan konstitusi itu disebabkan oleh tata kelola BP Migas tidak bisa digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itu tidak sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33,” kata Kurtubi, dilansir Kompas.com, Rabu (14/11/2012).

Isu kedua, terjadinya kerusuhan massa di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang dipicu pengeroyokan seorang warga saat antre membeli bahan bakar minyak (BBM) oleh karyawan agen penyalur minyak solar (APMS), yang melebar dengan pembakaran sekitar 400 kios di Pasar Barong tongkok, Kutai Barat, dilansir VIVAnews.com, Minggu (25/11/2012).

Dua kasus diatas seperti menambah muram pengelolaan dan pendistribusian Migas di Indonesia. Aneh memang, dinegara yang kaya sumber Migas seperti Indonesia, masih carut marut dalam pengelolaan serta pendistribusiannya, sehingga sumber Migas yang melimpah, belum mampu membawa rakyat Indonesia sejahtera. Padahal Pasal 33 UUD 1945 ini sudah jelas mengatakan bahwa: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Cadangan Migas Indonesia

Hingga kini Indonesia secara resmi, masih mempunyai cadangan minyak sebesar 4,3 miliar barrel. Memang betul, jika dibandingkan dengan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah, 4,3 miliar barrel itu tidak ada artinya. Namun, jelas Indonesia masih punya minyak. Selain cadangan lama, cadangan blok Cepu belum dioptimalkan. Belum lagi, cadangan minyak yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh, Blok Ambalat dan daerah lainnya yang belum tereksplorasi.

Sedangkan untuk cadangan gas, potensi gas di Indonesia, masih lumayan besar. Bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan potensi minyak yang diperkirakan habis dalam 12 tahun. Potensi gas di Indonesia mencapai 107,34 triliun kaki kubik, lokasinya merata di seluruh Indonesia.

Minyak Penopang Struktur Ekonomi Dunia.

Diakui, sejak ditemukan, minyak seperti menjadi berkah bagi umat manusia. Industrialisasi berkembang pesat. Banyak penemuan dalam bentuk teknologi baru seperti mobil, pesawat terbang, energi listrik dan lain-lain. Minyak adalah ketakjuban, dan menjadi penopang utama sruktur ekonomi di banyak negara. Minyak menjadi icon ekonomi sebuah negara, sehingga ada istilah Negara Petro Dollar.

Booming minyak juga pernah di alami Indonesia pada tahun 1970-an, yang diakibatkan oleh tingginya produksi dan harga minyak. Indonesia, menjadikan minyak sebagai modal utama dalam pembangunan, praktis minyak menjadi lokomotif dalam menggerakan ekonomi negara. Infrastruktur dibangun dimana-mana, khususnya di Ibukota Negara. Jakarta berubah menjadi kota metropolitan, dengan berdirinya gedung - gedung bertingkat, pembangunan jalan raya, pusat perbelanjaan, sekolah, perumahan dan lain sebagainya.

Namun, minyak bumi adalah energi yang tidak bisa di perbaharui, tentu saja semakin lama, cadangan minyak pun semakin terbatas.. Tapi apa daya, energi yang terbaharukan belum bisa menggantikan Minyak Bumi, sebagai penyokong utama struktur ekonomi dunia. Tentu saja yang paling cemas adalah negara-negara industri maju yang sangat tergantung sekali dengan minyak bumi.

Salah satu negara industri maju yang cemas, dengan semakin menepisnya “emas hitam” adalah Amerika Serikat (AS). Walaupun di dalam negeri ada industri minyak, akan tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Oleh karena itu, AS mengandalkan pasokan minyak dari sumber terbesar, yakni di Timur Tengah.

The Curse Of  Oil  (Kutukan Minyak)

Untuk tetap menjaga AS sebagai raksasa dibidang ekonomi dan industri, maka AS harus menjaga sumber minyaknya, khususnya di Timur-Tengah.

Disinilah, minyak menjadi “Curse” (kutukan) dibeberapa negara. Minyak ditenggarai menjadi pemicu konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, seperti Perang Irak-Iran, Perang Irak-Kuwait, Perang Afghanistan, konflik Israel-Palestina dan yang terakhir gerakan Arab Spring.

Setali tiga uang dengan Timur Tengah, kawasan regional ASEAN-pun, rawan konflik karena isu sumber energi, seperti konflik di Laut China Selatan, Blok Ambalat, Papua dan Celah Timor.

Apakah anda penggemar tokoh komik Tintin karya Herge? Dalam salah satu episodenya dengan Judul “Di Negeri Emas Hitam” pada tahun 1950, diceritakan, Tintin terlibat kudeta penggulingan kekuasaan di Timur Tengah.

Kalau kita simak, cerita Tintin diatas seperti menggambarkan kondisi di Timur-Tengah saat ini, dan membuktikan hipotesa, bahwa minyak adalah sumber konflik dan penjajahan.

Kemudian, kutukan minyak bumi selanjutnya adalah, ancaman global warming. Pada Juni 1988, sejumlah pakar klimatologi bertemu di Toronto. Hasil publikasi penelitian mereka menyebutkan bahwa, karbon dioksida hasil pembakaran BBM dari kendaraan bermotor, industri dan rumah tangga ternyata merusak lapisan ozon di atas kita. Jika lapisan itu musnah, malapetaka yang se-dahsyat perang nuklir, menunggu kita semua penghuni bumi. Bahkan dampaknya sudah kita rasakan sekarang, bencana alam dimana-mana, kerawanan pangan, mahalnya harga pangan, dan perubahan iklim yang ekstrim.

Kutukan dari minyak sepertinya tidak berhenti sampai disitu. Ada efek domino lainnya, yakni semakin menipisnya persediaan minyak menyebabkan meroketnya harga minyak dunia. Hukum ekonomi bekerja, yakni supply dan demand.

Pada tahun 2008, harga minyak dunia melambung tinggi, mencapai 100 -130 US Dollar per barel, memukul hampir Knock Out (KO) sebagian besar negara, tidak terkecuali Indonesia. Pemerintah SBY yang berjanji tidak akan menaikkan harga BBM, yang ketiga kalinya di masa pemerintahannya, pada akhirnya menyerah terhadap tuntutan pasar global. APBN tidak bisa lagi bertahan dengan asumsi harga minyak yang dipatok 80 US dollar per barrel. Subsidi BBM semakin tinggi sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia dan rendahnya produksi minyak dalam negeri. Tentu saja, kutukan selanjutnya  adalah mahalnya harga - harga, yang diakibatkan meningkatnya biaya produksi diberbagai sektor, seperti transportasi dan industri yang sangat tergantung dengan BBM. Khusus di Indonesia, sudah bisa diprediksi, meningkatnya jumlah orang miskin, di PHK-nya para pekerja, menurunnya pendapatan, dan lemahnya daya beli. Sudah pasti masyarakat yang hidup di level paling bawah, yang langsung merasakan “kutukan” dari minyak tersebut.

Harga minyak kembali melambung pada tahun 2012, akibat krisis ekonomi global, namun kali ini Pemerintah urung menaikan harga BBM karena protes dari banyak kalangan.

Khusus di Indonesia, ada kutukan yang lebih dahsyat lagi. Menurut Amin Rais, di Indonesia, Minyak  menjadi kutukan Tuhan karena telah menjadi sarang korupsi.

“Minyak di negeri kita bukan lagi menjadi berkah dari Tuhan, tetapi menjadi kutukan dari Tuhan karena korupsinya sudah menyundul angkasa,” ujar mantan Ketua MPR Amien Rais, dilansir detik.com (01/07/2008).

Sebagai penutup tulisan, semoga dengan dibubarkannya BP Migas, bisa mencabut salah satu “kutukan” di Indonesia, dan tidak terulang kembali konflik horizontal akibat kelangkaan Migas.

(Diolah dari berbagai sumber)

Muhammad Ridwan

www.mediawarga.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 2 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 5 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 5 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 10 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: