Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Dues K Arbain (sufi Anak Zaman)

Slogan Sufi Anak Zaman : Jika Allah mencintai manusia, maka akan terwujud dalam tiga kwalitas : selengkapnya

Bank BRI yang Menggoyahkanku

REP | 14 December 2012 | 09:58 Dibaca: 17715   Komentar: 0   9

Pagi ini aku berniat mengambil tabungan di Bank BRI Cabang Pembantu Abunjani Jambi. Karena sudah satu bulan ini aku bertugas di daerah perkebunan di Provinsi Jambi. Walaupun rekeningku dibuka di Cabang Bandung Asia Afrika tetapi aku tetap mendapat pelayanan yang baik. Nah, bukan masalah pelayanan yang akan aku sampaikan di sini, tetapi sesuatu yang luar biasa yang kulihat adalah besok tanggal 16 Desember BRI merayakan ulang tahunnya yang ke 117, fenomenal, usia sebuah bank mengalahkan usia kemerdekaan negara ini, mengalahkan umur nenekku yang baru mencapai 96 tahun. Duh, betul-betul luar biasa.

Ketika memarkir kenderaan di halaman parkir aku melihat beberapa karangan bunga ucapan selamat ulang tahun dari kolega Bank Besar tersebut. Aura ceria sudah terasa dibenakku. Lalu ketika seorang satpam membukakan pintu sambil tersenyum dan menyapa dengan ucapan : “selamat pagi pak, ada yang bisa dibantu?” aku tersenyum sambil menjawab :”mau mengambil tabungan” dan aku langsung diarahkan ke tempat pengisian slip pengambilan. Nasabah yang mengantri lumayan banyak, yah…seperti biasa kantor bank tersebut dimana-mana selalu kelihatan ramai dikunjungi, mungkin karena ia adalah bank rakyat, maka rakyatpun tidak segan-segan mendatangi banknya sendiri.

13554535811774515454

Meskipun masih pagi suasana kantor sudah cukup ramai (dok. pribadi)

Selama menunggu antrian aku memperhatikan satu spanduk yang dibuat oleh bank tersebut yang bertuliskan : “Bangga Ber-Indonesia”. Kalimat ini pendek, tapi bermakna dalam. Bagiku sangat menyentuh, mengingat kita sudah terbiasa dengan produk-produk luar negeri, sudah terbiasa membiarkan tanah air kita dijajah dan dieksploitasi oleh bangsa asing, sudah terbiasa membanggakan segala sesuatu yang berbau asing, tak terkecuali dalam menggunakan bank yang hampir semua bank di Indonesia ini dimiliki oleh negara asing. Dan ternyata setelah searching di internet aku temukan beberapa bank yang dikuasai oleh pemodal asing, antara lain :

Nama

Pemegang Saham

% kepemilikan

Bank Danamon

Asia Financial (Indonesia) Pte Ltd

67,42%

Bank BCA

Farindo Investmen (Mauritius) Ltd

47,15%

Bank CIMB Niaga

CIMB Malaysia

77,64%

Bank Permata

Standard Charter

44,52%

Bank BTPN

Texas Pacific Group

71,61%

Bank OCBC NISP

OCBC Overseas Investment Pte Ltd

74,73%

Bank BNP

ACOM Ltd dan Bank Of Tokyo

75,68%

Bank UOB Buana

UOB Inti Investment Private Ltd

99%

Bank ICB Bumi Putera

ICB Financial Group Holding AG

67,07%

Bank Ekonomi

HSBC Asia Pacific Holdings (UK) ltd

98,96%

Bank ICBC

Industrial and Commercial Bank Of Chinsa Ltd

97,83%

BII

Sorak Financial Holding Pte, Ltd & Maybank

97,52%

Bank Swadesi

Bank Of India

76%

Sumber : Ekofin periode September 2009

135545376411850582

Spanduk yang menyadarkanku (dok. pribadi)

Melihat itu semua aku jadi berfikir, sudah seberapa besar nasionalisme yang aku miliki? Sudah seberapa jauh kebanggaan ber Indonesia yang aku rasakan? Sudah pantaskah aku jadi orang indonesia? Toh, kemajuan suatu negara hanya dapat dilakukan jika masyarakatnya sendiri memberikan dukungan penuh terhadap sense berkebangsaannya. Dapat kita lihat Negara Jepang yang menjunjung tinggi segala sesuatu yang ada di negaranya, bahkan adat dan budaya merekapun mampu mereka jual hingga ke penjuru dunia. Aku jadi malu, karena sering melancarkan protes terhadap semua tingkah laku bangsa Indonesia, tapi tak pernah bangga dengan Indonesia. Aku merasa malu karena berwawasan global tapi tak punya wawasan nusantara. Duhai, aku harus berubah. Kalimat yang terpampang di gedung BRI Abunjani Jambi tersebut benar-benar membuat aku memahami rasa ke Indonesiaanku.

Nah, kembali ke cerita awal saat aku masih di kantor bank tersebut, setelah selesai bertransaksi dengan petugas tellernya yang ramah, aku iseng-iseng bertanya dengan satpam kalau-kalau bisa bertemu dengan pimpinannya. Tak disangka Satpam mengiyakan dan tanpa ada birokrasi aku langsung disambut oleh pimpinan kantor tersebut dengan sangat hangat dan bersahaja, layaknya orang yang sudah kenal lama. Dengan berbekal pewarta dari citizen journalism Kompasiana aku berbincang-bincang tentang potensi daerah dan peran serta BRI dalam pembangunan di setiap sudut wilayah yang ada di Indonesia. Luar biasa, benarlah apa yang aku dengar dan baca selama ini, bahwa BRI lah yang banyak mendorong tumbuh kembangnya perekonomian Mikro dan Menengah. Lantas pertanyaan yang timbul dibenakku, kenapa aku tidak mau berkontribusi untuk suatu lembaga yang mendorong kemajuan kaumku sendiri, bangsa Indonesia? Akh, aku harus ikut membesarkan bangsa ini dengan bangga ber Indonesia.

Satu lagi yang menjadi catatanku hari ini, pimpinan BRI tersebut mengatakan bahwa BRI sekarang ini seperti gula, kalau pribahasa “Ada Gula Ada Semut”, maka yang terjadi sekarang ini “Ada BRI Ada Pesaingnya”. Maksudnya, di semua Kantor BRI baik itu Pembantu, Unit dan apalah nama yang lainnya, selalu dikerubungi oleh bank-bank lain. Fikirku benar juga ya, tidak dapat dipungkiri, setiap aku melakukan perjalanan lewat darat pastilah aku menemukan Bank BRI dan pasti ada juga bank lainnya. Mungkin kalau sudah ada BRI bank lain tidak perlu melakukan study kelayakan saat ia akan membuka cabangnya di situ. Toh BRI sudah berdiri dan pasti sudah melakukan sourvey lapangan, fikirku lagi.

Selamat Ulang Tahun Yang Ke 117 buat BRI, semoga semakin jaya untuk terus menjadi Bank Yang Terbesar dan Tersebar di seluruh Pelosok Nusantara, dan tetap Menebar Senyum Untuk Merajut Ukhuwah dan Menebar Pesona untuk Menuai Laba. Semogalah, amin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 12 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: