Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Erry Sunarli

Vice President at Multinational Company

Perusahaan Multinasional Jepang di Indonesia

OPINI | 31 December 2012 | 13:50 Dibaca: 1157   Komentar: 0   4

Perusahaan Multinasional Jepang di Indonesia

Perusahaan Jepang di Indonesia memiliki style bisnis yang bervariasi tergantung besar kecil atau fungsi keberadaan perusahaan tersebut Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

Umumnya perusahaan Jepang menyukai seseorang yang fleksibel yang bisa bekerjasama dengan team.

Style bisnis di Jepang berdasarkan pada keputusan bersama dimana seluruh managemen berkonsultasi dan menyetujui keputusan yang akan diambil. Biasanya keputusan diambil dalam waktu yang lebih lama, tetapi apabila keputusan sudah diambil, perusahaan akan secara penuh mendukungnya. Hal ini kelihatannya perusahaan Jepang lambat dalam memberikan reaksi, tetapi amat efektif dalam mengimplementasikan sesuatu yang sudah disepakati.

Teamwork dan harmony di tempat kerja adalah aspek yang sangat penting dalam budaya kerja orang Jepang.

Mereka selalu menghindari sikap bermusuhan dan konflik internal. Sikap melawan tidak akan mendapat tempat di perusahaan Jepang. Kebersamaan dan kekompakan selalu menjadi prioritas agar karyawan dan managemen dapat mencurahkan perhatian terhadap keadaan diluar untuk meraih tujuan yang sudah ditetapkan.

Representative Office

Kantor perwakilan biasanya tidak terlalu besar dengan satu, dua atau tiga expatriate Jepang dan beberapa staff local. Tujuan perusahaan adalah mengumpulkan informasi mengenai market trend, terutama ketika akan membuka sales office. Karena type perusahaan ini kecil dan memiliki hubungan amat dekat depang Jepang, suasananya hampir sama dengan perusahaan pusatnya di Jepang. Dalam perusahaan ini, karena sizenya yang kecil, fungsi-fungsi management lebih banyak dilakukan bersama sebagai team.

Medium Size

Type perusahaan ini amat banyak di Indonesia. Biasanya memiliki 10-35 karyawan. Jumlah expatriate Jepang tergantung pada type produk yang dijual. Jika produk yang bisa dipakai langsung, biasanya hanya ada beberapa manager Jepang. Jika produknya harus disesuaikan dan melibatkan R&D di Jepang, persentase manager Jepang akan lebih banyak. Bisa mencapai 50%.

Dalam perusahaan ini biasanya gabungan budaya bisnis Jepang dengan Indonesia. Karena mereka tahu untuk menjual di Indonesia, mereka harus melakukan penyesuaian terhadap situasi di Indonesia. Biasanya mereka juga memiliki kantor di Amerika atau negara-negara lain dan memiliki budaya internasional.

Trading companies

Dalam satu dekade takhir ini banyak trading companie yang membuka kantor di Indonesia. Mereka biasanya menjual berbagai macam produk mewakili perusahaan di Jepang yang belum memuliki cabang di Indonesia. Perusahaan seperti ini biasanya masih bersifat cukup tradisional dan biasanya staff Jepang sekitar 20%.

Large Companies

Perusahaan besar Jepang di Indonesia biasanya memiliki kantor yang besar dan ratusan karyawan serta pabrik di Indonesia. Anda tahu beberapa perusahaan otomotif atau elektronik yang memiliki global brand. Perusahaan seperti ini biasanya memiliki sedikit expat yang tugasnya memberikan informasi atau laporan ke kantor pusat di Jepang. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah international company. Namun demikian cara bisnisnya masih terikat dengan kantor pusat di Jepang.

Benefits

- Perusahaan Jepang amat jarang memecat karyawannya dan mereka membantu jika seorang staff mempunyai masalah pribadi. Ini membuat karyawan lebih stabil dalam pekerjaan dan hidup mereka.

- Mereka bisa bersahabat dan mendengar rekomendasi karyawan. Suasanyanya amat koperatif dan tidak begitu kompetitif. Office politics dan persekongkolan amat jarang terjadi di perusahaan Jepang dibanding perusahaan lainnya.

- Biasanya pekerjaan cukup menantang karena mereka menawarkan banyak pilihan kerja dan fleksibel.

- Mereka memiliki rencana jangka panjang. Biasanya amat stabil dan tidak mengubah struktur atau prioritas mereka setiap 6 bulan seperti banyak yang terjadi di perusahaan Amerika.

Istilah dalam Budaya

- Pilar Utama nilai-nilai budaya Jepang dikenal dengan wa (harmoni), kao (reputasi), dan omoiyari (loyalitas). Konsepsi wa yang mengandung makna mengedepankan semangat teamwork menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.

- Kao berarti wajah. Wajah merupakan cermin harga diri, reputasi, dan status sosial. Masyarakat Jepang pada umumnya menghindari konfrontasi dan kritik terbuka secara langsung. Membuat oranglain “kehilangan muka” merupakan tindakan tabu dan dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan bisnis.

- Omoiyari berarti sikap empati dan loyalitas. Spirit omoiyari menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat berdasarkan kepercayaan dan kepentingan bersama dalam jangka panjang.

- Kaizen, merupakan istilah bahasa Jepang terhadapkonsep continuous incremental improvement. Kai berarti perubahan dan zen berarti baik. Jadi, kaizen berarti melakukan perubahan agar lebih baik secara terus-menerus dan tiada berkesudahan. Aspek perbaikan dalam kaizen mencakup orang dan proses.

- Bushido adalah kode atau prinsip yang dianut oleh para Samurai Jepang. Prinsip Bushido menekan kehormatan, keberanian, dan kesetiaan kepada atasan melebihi apapun. Pejuang Samurai yang ideal adalah mereka yang tidak mempunyai rasa takut terhadap kematian. Tetapi, mereka takut jika tugas yang mereka emban tidak berhasil.

- Makoto berarti bersungguh-sungguh dengan menjunjung tinggi kemurnian batin dan motivasi, serta menolak adanya tujuan berkarya semata demi menonjolkan kepentingan diri sendiri.

- Newawashi adalah proses untuk membahas masalah dan potensi solusinya dengan semua pihak yang terkena dampak masalah tersebut, untuk mengumpulkan ide-ide mereka, dan persetujuan mengenai langkah yang akan diambil.

- Heijunka, yaitu meratakan proses agar tidak terjadi kekosongan maupun kelebihan waktu. Hal ini dilakukan agar target tercapai dengan efektif dan efisien. Konsep ini merupakan bagian dari Toyota Production System

- Jidoka, merupakan otomatisasi dengan sentuhan manusia. Jidoka juga berarti tidak menerima, membuat dan meneruskan barang cacat. Ide ini ditemukan oleh Saichi Toyoda (pendiri Toyota)

- Genchi genbutsu yang artinya go and see the problem. Merupakan salah satu bagian yang integral dengan Toyota Production System. ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: