
Dibaca:
406
Komentar: 0
Nihil
Gambar dari static.inilah.com
Kerugian dan hutang Bumi Resources semakin marak diberitakan di media kabar ataupun di media lainnya. Ada apa di balik masalah ini?
PT Bumi Resources adalah perusahaan penambang batu bara yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh keluarga Aburizal Bakrie. Bumi Resources merupakan perusahaan eksplorasi kandungan batubara dan eksplorasi minyak yang daerah penambangannya di Kalimantan.
Pada awalnya, harga batu bara global tahun lalu merosot karena kurangnya permintaan, terutama dari Cina, serta meningkatnya ekspor dari AS. Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan rata-rata harga jual batu bara perusahaan pada sembilan bulan pertama 2012 turun menjadi $87,21 per ton dari $92,22 setahun sebelumnya. Menurut Dileep, dampaknya tidak besar karena volume penjualan produknya naik menjadi 47,6 juta ton dari 45,6 juta ton. Perusahaan menambang 51,2 juta ton batu bara pada Januari – September 2012, naik dari 47 juta ton di periode sama setahun sebelumnya. Hal inilah yang menyebabkan kerugian besar pada perusahaan.
Beberapa media memberitakan bahwa Bumi Resources mendapatkan kerugian $632,49 juta atau sekitar Rp 6,1 triliun dalam tiga kuartal pertama tahun lalu. Kerugian ini dapat mempersulit usaha perusahaan membayar utang miliaran dolarnya sejumlah lebih dari $3 miliar pada 2017 serta, keluar dari sengketa korporasi dengan pemegang sahamnya di London, Bumi PLC, dan kini berupaya membeli aset lokal Bumi PLC di Indonesia seharga $1,2 miliar.
Bumi Resources mengatakan, sebagian besar kerugian tersebut berasal dari kerugian di sejumlah transaksi derivatif. Pada sembilan bulan pertama 2011, Bumi Resources mencatat laba bersih $175,55 juta. Tetapi, pendapatan menurun 3,1 % menjadi $2,77 miliar dari sebelumnya $2,86 miliar. Saham Bumi Resources turun 4,8% menjadi Rp 590,00 per lembarnya pada sesi perdagangan, Kamis 3 Januari di Jakarta. Saham perusahaan sendiri merosot hingga 73% tahun lalu, dipengaruhi oleh harga batu bara dunia yang jatuh dan kisruh antara pemegang saham Bumi PLC.
Bumi PLC didirikan pada 2011 ketika Bakrie Group, dengan imbalan 24% saham Bumi PLC, menyerahkan aset pertambangan seperti Bumi Resources ke bawah payung kendaraan finansial yang digagas oleh penyandang dana asal Eropa, Nat Rothschild. Bumi PLC sendiri mendapat 29% saham di Bumi Resources.
Namun pihak investor Indonesia dan London telah bersitegang mempermasalahkan manajemen aset, nyaris sejak dari awal. Kisruh memuncak tahun lalu saat Bumi PLC memulai penyelidikan terhadap “penyimpangan finansial” di Bumi Resources, seperti yang dituduhkan oleh pelapor anonim. Bumi Resources pun memulai investigasi terhadap dugaan pembajakan email.
Pada saat ini, Bakrie Group tengah berupaya melepaskan diri dari Bumi PLC dengan memberi penawaran sebesar $1,2 miliar ditambah saham mereka di Bumi PLC untuk dibarter kembali dengan aset batu bara tersebut. Penawaran ini memungkinkan Bakrie kembali mengontrol tambang, dan Bumi PLC hanya berperan sebagai cash shell.
Edwin Sibayang, analis MNC Securities, berpendapat utang menggunung Bumi Resources akan menghambat pertambahan produksi, bahkan jika Bakrie mampu mengontrol kembali aset tambang batu bara itu.
Edwin memprediksi harga saham Bumi Resources akan merosot hingga Rp 310,00 per lembar dari harga sekarang Rp 590,00. Menurut laporan perusahaan, total utang Bumi Resources mencapai sebesar $6,69 miliar per 30 September, ketimbang $6,33 miliar pada tahun sebelumnya. Bumi Resources mengklaim utangnya masih dapat diatasi.
Seopini dengan Edwin Sibayang, Kim Eng Securities menyatakan bahwa penurunan laba BUMI merupakan suatu kemunduran besar pada kuartal III/2012 ini.
Bumi Resources, mengatakan bahwa kerugian harus disesuaikan dengan penyesuaian kebijakan akuntansi yang sebagian besar merupakan kas dan pajak netral.
“Karena kami (Bumi Resources) dipengaruhi oleh perkembangan pasar, maka mereka menkonversi kembali untuk memperoleh keuntungan,” berdasarkan reportase Bloomberg berdasarkan pembicaraan dengan Srivastava.
Berdasarkan penjabaran mengenai fakta-fakta terkait dimana kerugian dan sengketa yang dipermasalahkan oleh media dan opini publik, pihak Bumi Resources saja percaya bahwa hutangnya masih dapat diatasi serta perkembangan pasar mempengaruhi permasalahan ini. Why we aren’t?
-