Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

A. Setiadi

Trade and investment lawyer

Kasus Suap Kuota Impor Sapi dan Konspirasi Perdagangan Global

OPINI | 03 February 2013 | 22:08 Dibaca: 1284   Komentar: 1   0

Penangkapan dan penetapan sebagai tersangka terhadap mantan Presiden PKS yang berinsial LHI dan beberapa pengusaha serta orang yang diduga sebagai perantaranya dalam kasus dugaan suap kuota impor sapi menyisakan sebuah pertanyaan. Benarkah penangkapan tersebut merupakan sebuah konspirasi sebagaimana diargumentasikan oleh beberapa kader PKS? Kalau begitu, siapa yang melakukan dan atas motivasi apa?

Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan beberapa fakta terkait dengan kebijakan impor sapi Indonesia dan perdagangan global.

Beberapa hari menjelang beberapa hari menjelang penangkapan LHI atau tepatnya pada tanggal 10 Januari 2013, Amerika Serikat secara resmi mengajukan Request for Consultation kepada Dispute Settlement Body (DSB) WTO. DSB WTO merupakan lembaga dalam institusi WTO yang berwenang menyelesaikan sengketa perdagangan internasional khususnya  jika terdapat suatu negara anggota WTO yang diduga telah melanggar aturan WTO.

Amerika Serikat menengarai kebijakan impor hortikultura, hewan dan produk hewan Indonesia yang ditengarai bertentangan dengan peraturan WTO. Pasalnya, sebagai salah satu negara eksportir terbesar produk hewan ke Indonesia  sudah barang tentu Amerika Serikat cukup berang karena Indonesia tahun lalu memasang hambatan non-tarif yang cukup rapat terhadap impor ketiga produk tersebut yang dianggap sebagai barrier to trade. Padahal ekspor Amerika ke Indonesia di ketiga produk tersebut tergolong besar. Kebijakan yang ditentang tersebut bermuasal dari Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh seorang kader PKS.

Terlepas dari argumentasi Indonesia mengenai rationale dari kebijakan tersebut dan apakah kebijakan tersebut berdampak positif terhadap petani/peternak dan konsumen Indonesia, yang jelas ketatnya impor ketiga komoditas tersebut telah menimbulkan distorsi pasar. Karena sulitnya impor menyebabkan harga daging melonjak menjadi sangat mahal (lihat pemberitaan di Kompas mengenai hal ini). Selain itu, yang sudah terbukti di depan mata rezim perizinan impor telah membuka peluang bagi sementara pihak untuk ber-kongkalikong melalui para politisi makelar kuota dan perijinan untuk berkolusi dengan pengusaha demi mendapatkan jatah impor sapi. Pada akhirnya kebijakan ini akan menyebabkan harga daging sangat mahal. Perdagangan bebas memiliki maksud menghilangkan distorsi pasar dan memberikan konsumen kebebasan memilih dan mendapatkan produk dengan harga yang murah.

Tidak lama Amerika Serikat mengajukan Request for Consultation, pada tanggal 24 Januari 2013, giliran Australia, Kanada dan Uni Eropa bergabung dengan Amerika Serikat memprotes kebijakan serupa ke DSB WTO. Ketiga negara ini bersama dengan Amerika Serikat merupakan negara pengekspor terbesar produk hortikultura, hewan dan produk hewan ke Indonesia. Ekspor hortikulura, hewan dan produk hewan oleh Australia tahun 2011 misalnya mencapai USD 2,7 milyar. Australia merupakan satu-satunya eksportir sapi hidup ke Indonesia yang nilai ekspornya mencapai USD 328 juta. Selain itu ekspor produk daging Australia mencapai USD 148 juta sedangkan hortikultura mencapai USD 45 juta. Ekspor hortikulutra Uni Eropa di tahun 2011 mencapai 500 juta Euro. Maka lengkaplah sudah kekuatan ekonomi dan perdagangan besar menentang kebijakan pembatasan impor sapi.

Yang menjadi pertanyaan apakah ada kaitannya antara kekuatan empat negara tersebut yang terkenal dengan paham sekuler dengan teori konspirasi yang kembangkan sementara pihak yang menentang pengungkapan kasus suap kouta sapi impor? Silakan Anda menghubungkan fakta-fakta tersebut dengan teori “othak athik gathuk“…….

Salam.

1359904002431758186

Perdagangan Bebas

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 9 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 10 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 11 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 8 jam lalu

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: