Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Risha

●lover to one ● mother to two● friend to all●

Jokowi, Rusunawa Marunda, dan Etika dalam Investasi

OPINI | 04 February 2013 | 19:36 Dibaca: 416   Komentar: 0   0

Pak Jokowi kesal, kalau tidak bisa disebut marah. Itu kesimpulan yang saya ambil ketika membaca tentang rumah susun sewa Marunda yang tidak tepat peruntukannya yang menyebabkan Jokowi emosi. Banyak calon penyewa yang ingin menyewa tempat tersebut, harus membayar lebih mahal karena berbagai sebab. Rumah susun sewa Marunda, tidak lepas dari praktik kotor percaloan dan ambil untung penyewa pertama yang tidak kenal etika. Saya yang tidak sekolah bisnis dan turunannya, tidak tahu, apakah dalam berinvestasi harus pakai etika…namun, praktik ambil untung dengan cara membeli, menyewa sebuah properti tapi tidak untuk ditempati sendiri (end user) adalah praktik yang tidak kenal etika dalam kacamata saya (ntah kacamata saya ini minus, atau berlensa rayban).

Kenapa saya bisa mengeluarkan judgement yang terdengar keras seperti itu? Ini tidak terlepas dari pengalaman salah seorang kawan saya. Kawan saya ini, seorang pengusaha kecil menengah produk kerajinan. Suatu hari ia ingin memiliki toko. Susah payah ia mencari toko di mal mal pinggiran kota. Sayangnya, gerai di mal mal baru tersebut, sudah laris manis terbeli. Lalu ia membaca iklan yg ditempel di penutup gerai. Gerai itu dijual dan disewakan! Dengan harga yang sudah naik seperempatnya dari harga yang ditawarkan pemilik mal. Teman saya lalu mulai menghitung, apakah harga beli atau sewa tersebut cocok di kantongnya juga masuk diakal. Hitung hitungannya menunjukkan, denga harga sewa sekian puluh juta,atau membeli sekian ratus juta ia tidak mampu mencapai keuntungan bahkan tekor. Dia tidak bisa menjual harga yang terlampau tinggi untuk produknya. Selain banyak saingan, harga yang mahal akan membuat produknya tidak laku. Akhirnya teman saya, masih bermimpi untuk punya toko sendiri, sambil terus menjual produknya dari rumah.

Teman lain juga memiliki pengalaman serupa tapi tidak sama. Kali ini adalah tentang jual beli rumah. Dia yang sudah menikah dengan satu anak, ingin memiliki rumah sendiri. Uangnya diperkirakan cukup untuk membeli rumah kelas menengah dengan uang muka sekian ratus juta dan cicilan tetap pada kisaran empat juta rupiah perbulannya selama puluhan tahun. Perburuan mencari rumah idamanpun dimulai. Lokasinya rata rata di pinggiran kota. Rumah rumah itu berada dalam kompleks kompleks kecil yang bahasa trend masa kini menyebutnya cluster. Rata rata, bangunan rumahnya masih separuh jadi. Dan bisa dibayangkan kecewanya ia, ketika mampir ke kantor pemasaran, rumah rumah itu sudah laku!!…Dia sekaligus merasa takjub, sungguh hebat kemampuan ekonomi pasangan muda hari ini. Dalam benaknya, rumah rumah di kompleks baru, pastilah pembelinya kebanyakan pasangan muda seperti dirinya. Ketika beberapa  minggu setelah itu, dia iseng iseng mampir lagi ke kompleks rumah yang telah membuatnya jatuh hati namun tidak bisa dimiliki bukan karena tidak ada uang, tapi sudah laris terjual. Matanya terpaku pada sebuah iklan di salah satu rumah yang masih dalam tahap finishing. Rumah tersebut dijual dan penjualnya adalah agen properti yang ditunjuk oleh pemilik rumah itu (bukan pengembangnya). Lalu dia menelepon agen properti itu. Harganya membuat dia mungkin ingin mencak mencak saking mahalnya. Bayangkan, dalam periode yang tidak terlalu lama, harga rumah sudah naik sekian persen dari harga jual pertama. Berarti pembeli rumah itu, bukanlah end user. Tapi orang yang ngambil untung dengan cara jual beli rumah.Praktik yang menurut saya tercela tersebut, harusnya bukan disebut sebagai investasi atau investasi tanpa etika. Karena membuat sengsara orang yang benar benar ingin menempati properti itu (end user).

Hmmm..mengapa pengembang tidak menerapkan kebijakan yang ketat soal itu? Mungkin dalam benak pengembang, yang penting produknya laku.

Salam Kompasiana

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 3 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Rethinking McDonald’s, Opportunity …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: